Capres AS Joe Biden Kutip Hadist Nabi Muhammad, Pemilih Muslim AS Mulai Bersimpatik

D'On, Amerika Serikat,- Calon presiden (capres) Amerika Serikat (AS), Joe Biden rupanya berhasil menyedot perhatian warga dunia, khususnya umat muslim. Pasalnya, dalam kampanye terbarunya, Biden sampai mengutip hadist Nabi Muhammad.

Sebagaimana dilansir The Hill, hadist dari Nabi Muhammad itu pun diungkap Biden selama kampanye virtual 'Million Muslim Votes Summit' pada Senin (20/7) lalu.

"Hadis dari Nabi Muhammad memerintahkan, 'Siapa pun di antara kamu yang melihat kesalahan (kemungkaran), hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan lidahnya (lisan). Jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya'," ucap Biden kepada para pemilih muslim AS.

Selain mengutip hadist Nabi Muhammad tersebut, Biden juga menyatakan bahwa ia berharap sekolah-sekolah di AS bisa mengajarkan lebih banyak tentang Islam.

"Saya berharap kita bisa diajari lebih banyak tentang agama Islam di sekolah-sekolah (AS). Saya (juga) berharap kita bisa berdiskusi tentang semua agama besar yang diakui. Dan Islam adalah salah satunya," tambah Biden seperti dilansir oleh Fox News.

Selain berbicara tentang hadis dan ajaran Islam, capres dari Partai Demokrat ini juga terlihat ikut menyentil lawannya, Donald Trump. Dalam hal ini, Biden pun menyoroti aturan Trump yang melarang warga dari sejumlah negara mayoritas muslim untuk memasuki AS.

Sebagai informasi, tidak lama setelah menjabat, yaitu pada Januari 2017 lalu, Trump telah memberlakukan pembatasan perjalanan pada tujuh negara mayoritas muslim. Terkait dengan alasan, Trump berdalih bahwa larangan perjalanan itu adalah demi tujuan keamanan nasional.

Setelah itu, pejabat menambahkan beberapa negara mayoritas nonmuslim, seperti Korea Utara ke dalam daftar. Saat itu penambahan daftar dilakukan lantaran negara-negara tersebut menghadapi sejumlah tantangan hukum. Aturan ini juga diketahui telah ditegakkan oleh Mahkamah Agung.

Sementara berdasarkan laporan BBC pada 2018 lalu, tujuh negara muslim yang dilarang masuk AS antara lain adalah Iran, Irak, Suriah, Yaman, Somalia, Sudan dan Libya.

Namun, pada Maret 2018, pemerintah akhirnya menghapus Irak dari daftar, terutama setelah mereka setuju meningkatkan kerja sama dengan AS. Kemudian, pemerintahan Trump juga mulai mencabut larangan tak terbatas pada pengungsi Suriah.
Joe Biden speaks to Million Muslim Votes Summit: "Hadith from the Prophet Muhammad instructs, 'Whomever among you sees a wrong, let him change it with his hand. If he is not able, then with his tongue. If he is not able, then with his heart.'" pic.twitter.com/2mJDKExILJ
— The Hill (@thehill) July 20, 2020

Biden kemudian melanjutkan bahwa Trump telah bertanggung jawab atas kebangkitan islamofobia di AS. Biden pun berjanji bahwa jika terpilih nanti, ia akan segera membatalkan larangan perjalanan yang dipelopori Trump.

"Komunitas muslim adalah yang pertama kali merasakan serangan Donald Trump terhadap komunitas Hitam dan Coklat di negara ini dengan larangan muslimnya yang keji. Donald Trump telah mengipasi api kebencian di negara melalui kata-katanya, kebijakannya, penunjukannya, perbuatannya, dan dia terus mengipasi api itu. Di bawah pemerintahan ini, kita telah melihat peningkatan yang tidak masuk akal dalam islamofobia," ucap Biden selama KTT Million Muslim Votes yang dipandu oleh organisasi advokasi komunitas muslim AS, Emgage Action.

Biden juga mengatakan dia tidak akan menulis 'surat cinta' kepada para pemimpin diktator. Sebaliknya, mantan wakil presiden AS ini pun bersumpah akan bekerja untuk 'memenuhi tuntutan moral krisis kemanusiaan' di Suriah, Yaman, hingga Gaza.

Selain itu, Biden juga menyampaikan bahwa ia akan bertekad memperjuangkan hak-hak warga Palestina dan Israel untuk memiliki negara mereka sendiri.

Sejumlah pejabat muslim Amerika diketahui telah menandatangani surat dukungan untuk Biden yang diorganisir oleh Emgage Action. Pejabat-pejabat muslim tersebut antara lain termasuk wakil distrik kongres ke-5 Minnesota, Ilhan Omar; Jaksa Agung Minnesota, Keith Ellison; wakil distrik kongres ke-7 Indiana, Andre Carson.

"Tujuan utama kami adalah menghapus Donald Trump dari kantor dan menggantikannya dengan seseorang yang bisa mulai menyembuhkan bangsa kami. 
Pemerintahan Biden akan menggerakkan bangsa ini maju dalam banyak isu yang kita pedulikan," isi surat tersebut seraya mengutip isu tentang keadilan rasial, perawatan kesehatan yang terjangkau, perubahan iklim hingga imigrasi.

(The Hill/fox news)

No comments

Powered by Blogger.