Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dari Air ke Ayat: Ketika Mushaf Menjadi Cahaya Baru di Kota Padang

22 April 2026 | April 22, 2026 WIB Last Updated 2026-04-22T07:43:31Z

Dari Air ke Ayat: Ketika Mushaf Menjadi Cahaya Baru di Kota Padang



D'On, PADANG — Pagi itu belum sepenuhnya ramai. Di sebuah ruang belajar sederhana di sudut kota, suara anak-anak melantunkan ayat suci terdengar lirih, namun hangat. Di tangan mereka, mushaf-mushaf baru terbuka lembarannya bersih, hurufnya tegas, seolah membawa harapan yang juga baru.


Di tengah suasana itulah, sebuah gerakan sunyi menemukan maknanya.


Perumda Air Minum Kota Padang bersama Dompet Dhuafa Singgalang menghadirkan lebih dari sekadar bantuan. Sebanyak 500 mushaf Al-Qur’an disalurkan ke berbagai penjuru Kota Padang menjangkau santri, penghafal Al-Qur’an, hingga masjid dan mushalla yang selama ini setia menjaga nyala pendidikan agama, meski dengan keterbatasan.


Di MDTA Nurul Huda dan Masjid Al-Bahrain, sebanyak 67 mushaf menjadi saksi awal dari gerakan ini. Namun kisahnya tidak berhenti di sana. Mushaf-mushaf lain bergerak menyusuri lorong-lorong kota, menembus kawasan yang sempat dilanda banjir, dan singgah di tempat-tempat yang mungkin luput dari perhatian.


Di beberapa lokasi, mushaf lama yang lusuh dan mulai pudar kini digantikan. Tapi yang sesungguhnya tergantikan bukan hanya fisik buku melainkan semangat yang kembali tumbuh.


“Kadang yang kita butuhkan bukan sesuatu yang besar, tapi sesuatu yang tepat,” ujar Adhie Zein, mewakili Perumda. “Mushaf ini sederhana, tapi dampaknya bisa sangat dalam ia menyentuh cara berpikir, cara hidup, bahkan masa depan anak-anak kita.”


Di sudut lain, seorang santri kecil tampak mengusap halaman mushafnya dengan hati-hati. Bagi mereka, ini bukan sekadar bantuan ini adalah bentuk perhatian, pengakuan bahwa perjalanan mereka menghafal ayat-ayat Tuhan tidak berjalan sendiri.


Distribusi yang menjangkau tujuh titik masjid dan mushalla juga membawa pesan yang lebih luas: bahwa di tengah luka akibat bencana, pemulihan tidak hanya soal membangun kembali bangunan, tetapi juga menguatkan jiwa.


Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Padang, Hendra Pebrizal, melihat hal ini sebagai bagian dari tanggung jawab yang lebih besar melampaui fungsi perusahaan.


“Selama ini kami dikenal sebagai penyedia air sesuatu yang mengalir dan menghidupkan,” ujarnya. “Namun kami percaya, masyarakat juga membutuhkan ‘aliran’ lain yakni nilai dan petunjuk hidup. Al-Qur’an adalah sumber itu.”


Ia menambahkan dengan nada reflektif,
“Kalau air menjaga keberlangsungan hidup, maka Al-Qur’an menjaga arah kehidupan. Ketika keduanya hadir bersamaan, kita tidak hanya bertahan kita tumbuh dengan makna.”


Pernyataan itu menjadi semacam penegasan: bahwa pembangunan tidak selalu berbentuk beton dan angka. Ada sisi yang tak terlihat, namun justru menentukan yakni karakter dan spiritualitas.


Di Ranah Minang, di mana tradisi mengaji telah berakar kuat sejak lama, program ini terasa seperti menghidupkan kembali denyut lama yang sempat meredup. Surau, madrasah, dan mushalla bukan hanya tempat ibadah tetapi ruang pembentukan generasi.


Sementara itu, Dompet Dhuafa Singgalang mengajak lebih banyak pihak untuk ikut serta. Karena mereka percaya, gerakan seperti ini tidak bisa berdiri sendiri ia butuh tangan-tangan lain, hati-hati lain, untuk terus meluas.


Pada akhirnya, ini bukan hanya tentang 500 mushaf yang tersebar di Kota Padang. Ini tentang 500 peluang untuk membaca, memahami, dan menghidupi nilai-nilai Al-Qur’an.


Dan mungkin, di antara lembar-lembar itu, ada satu ayat yang akan mengubah cara pandang seorang anak.
Ada satu kalimat yang menuntunnya memilih jalan hidup.
Ada satu cahaya kecil… yang kelak menjadi terang bagi banyak orang.


Dari Padang, kisah ini mengalir pelan seperti air yang tak pernah lelah mencari jalan.


(Mond)


#PerumdaAirMinum #Padang

×
Berita Terbaru Update