-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Prabowo: Kritik Itu Penting, Tapi Harus Berdasarkan Data dan Niat Baik

20 March 2026 | March 20, 2026 WIB Last Updated 2026-03-20T07:39:09Z

Presiden Prabowo Subianto saat berdiskusi dengan sejumlah jurnalis, pengamat, dan pakar di Hambalang, Jawa Barat, Selasa 17 Maret 2026. (Foto: Badan Komunikasi Pemerintah RI).



D'On, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan sikapnya terhadap kritik publik. Ia menyatakan terbuka terhadap segala bentuk masukan, namun mengingatkan agar kritik tidak disampaikan secara sembarangan tanpa dasar data yang jelas, apalagi jika dilandasi niat buruk.


Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri diskusi bersama jurnalis senior, pengamat, dan pakar di kawasan Hambalang, Selasa (17/3/2026). Dalam forum tersebut, Pemimpin Redaksi SCTV-Indosiar, Retno Pinasti, mengajukan pertanyaan terkait bagaimana Presiden memandang kritik dari kalangan pengamat dan pers.


Kritik Diterima, Asal Tidak Bermotif Jahat


Menjawab pertanyaan itu, Prabowo menegaskan bahwa kritik pada dasarnya merupakan hal yang sehat dalam demokrasi. Ia bahkan menyebut kritik sebagai sesuatu yang membantu pemerintah dalam memperbaiki kebijakan.


Namun, ia menggarisbawahi adanya perbedaan antara kritik yang konstruktif dengan kritik yang didorong oleh motif tertentu.

 

“Semua kritik itu baik dan membantu. Tapi ada orang yang kritik dengan niat yang tidak baik. Kritiknya justru untuk menimbulkan kebencian, kecurigaan, atau kecemasan. Itu menurut saya tidak baik,” ujarnya.


Menurut Prabowo, yang menjadi persoalan bukan sekadar isi kritik, tetapi juga niat di baliknya. Ia menilai kritik yang dilandasi kebencian atau tujuan memecah belah justru dapat merusak tatanan sosial dan memperkeruh situasi.


Jangan Mengada-ada Tanpa Data


Lebih lanjut, Prabowo mengingatkan bahwa kritik harus berbasis fakta dan data yang valid. Ia menolak keras kritik yang bersifat spekulatif, apalagi dibuat-buat tanpa dasar yang jelas.

 

“Kalau kritik berdasarkan kebencian, mengada-ada, dan tidak punya data, itu menurut saya kurang baik. Itu filosofi saya,” tegasnya.


Pernyataan ini menjadi penekanan penting bahwa kebebasan berpendapat tetap harus diiringi tanggung jawab, terutama dalam era digital di mana informasi mudah menyebar dan berpotensi memicu keresahan publik.


Kisah Nyata dari Nias: Respons Cepat terhadap Keluhan Rakyat


Dalam kesempatan itu, Prabowo juga membagikan pengalaman pribadinya saat menerima laporan dari masyarakat melalui media sosial. Salah satu yang paling membekas baginya adalah cerita tentang anak-anak di Nias yang harus mempertaruhkan nyawa demi pergi ke sekolah karena tidak adanya jembatan.


Ia mengaku tersentuh saat melihat video seorang siswa bernama Yamisa yang secara langsung memanggil namanya dan meminta bantuan.

 

“Saya kaget, ada anak-anak di Nias teriak panggil nama saya. Ternyata mereka butuh jembatan untuk bisa ke sekolah,” ungkapnya.


Menanggapi hal tersebut, Prabowo mengaku langsung memerintahkan pembangunan jembatan di wilayah tersebut. Tak hanya itu, ia juga memberikan perhatian khusus kepada Yamisa, yang saat itu duduk di kelas 12 SMA dan memiliki keterbatasan ekonomi.

 

“Saya sudah perintahkan, apapun yang terjadi, kasih beasiswa. Sekolahkan anak itu,” katanya.


Filosofi Hidup: Membantu Sesuai Kemampuan


Di akhir pernyataannya, Prabowo membagikan filosofi hidup yang selama ini ia pegang dan ajarkan kepada orang-orang di sekitarnya. Filosofi tersebut sederhana namun kuat: membantu sesama sesuai kemampuan.

 

“Kalau tidak bisa bantu banyak orang, bantu beberapa orang. Kalau tidak bisa bantu beberapa orang, bantu satu orang. Kalau satu orang pun tidak bisa, jangan bikin susah orang lain,” ujarnya.


Ia menekankan bahwa kepedulian sosial adalah nilai dasar yang harus dimiliki setiap individu, terutama mereka yang memiliki kekuasaan dan kemampuan lebih.


Sorotan: Kritik dan Tanggung Jawab Publik


Pernyataan Prabowo ini menjadi refleksi penting di tengah dinamika politik dan sosial saat ini. Di satu sisi, kritik tetap menjadi pilar demokrasi. Namun di sisi lain, ia mengingatkan bahwa kritik yang tidak berdasar justru bisa menjadi sumber disinformasi dan keresahan.


Dengan pendekatan yang mengedepankan data, niat baik, dan kepedulian terhadap masyarakat, Prabowo mencoba menegaskan arah kepemimpinannya: terbuka terhadap masukan, namun tegas terhadap hal-hal yang dinilai merusak.


Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bagi semua pihak baik pengamat, media, maupun masyarakat bahwa kebebasan berpendapat harus berjalan seiring dengan tanggung jawab dan integritas.


(L6)


#Nasional 

×
Berita Terbaru Update