Breaking News

Sedikitnya 62 Orang Dilaporkan Tewas Akibat Gempa Jepang

Gempa Jepang Tewaskan sedikitnya 62 Orang

D'On, Jakarta,-
Serangkaian gempa bumi dahsyat yang melanda Jepang bagian barat menyebabkan sedikitnya 62 orang tewas berdasarkan laporan Rabu (3/1/2024).

Sementara petugas berjuang menyelamatkan mereka yang dikhawatirkan terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang ambruk terguncang gempa. Gempa susulan terus mengguncang Prefektur Ishikawa dan daerah sekitarnya dua hari setelah gempa magnito 7,6 menghantam daerah tersebut. 

Waktu 72 jam pertama dianggap penting untuk menyelamatkan nyawa pascabencana. Layanan air, listrik, dan telepon seluler masih terputus di beberapa daerah. Warga mengungkapkan kesedihan atas masa depan mereka yang tidak pasti.

"Bukan hanya berantakan. Dindingnya sudah runtuh, dan Anda bisa melihat ke kamar sebelah. Saya rasa kami tidak bisa tinggal di sini lagi," kata Miki Kobayashi, warga Ishikawa, sambil menyapu sekeliling rumahnya. Rumahnya juga rusak akibat gempa tahun 2007, katanya.

Menurut otoritas Prefektur Ishikawa, dari jumlah yang dilaporkan tewas tersebut, 29 orang di antaranya terjadi di Wajima, sementara 22 orang meninggal di Suzu.

Lusinan orang terluka parah, termasuk di prefektur terdekat. Meskipun jumlah korban terus meningkat secara bertahap, peringatan masyarakat yang cepat yang disampaikan melalui siaran dan telepon, serta tanggapan cepat dari masyarakat umum dan pejabat tampaknya telah membatasi beberapa kerusakan yang terjadi.

Toshitaka Katada, seorang profesor di Universitas Tokyo yang berspesialisasi dalam bencana, mengatakan masyarakat bersiap karena daerah tersebut telah dilanda gempa dalam beberapa tahun terakhir. Mereka memiliki rencana evakuasi dan persediaan darurat

“Mungkin tidak ada orang di dunia yang siap menghadapi bencana seperti orang Jepang,” katanya kepada AP.

Jepang sering dilanda gempa bumi karena lokasinya yang berada di sepanjang “Cincin Api”, yaitu busur gunung berapi dan garis patahan di Cekungan Pasifik.

Katada memperingatkan bahwa situasinya masih genting dan tidak dapat diprediksi. Gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada bulan Maret 2011 di timur laut Jepang telah didahului oleh gempa-gempa lainnya. “Ini masih jauh dari selesai,” kata Katada.

Prediksi para ilmuwan berulang kali terbukti salah, misalnya pada gempa tahun 2016 di barat daya Kumamoto, sebuah wilayah yang sebelumnya dianggap relatif bebas gempa.

“Terlalu percaya pada kekuatan sains sangatlah berbahaya. Kita berurusan dengan alam,” kata Katada.

Rekaman udara media Jepang menunjukkan kerusakan luas di lokasi yang paling parah terkena bencana, dengan tanah longsor yang mengubur jalan, perahu-perahu terlempar ke perairan, dan kebakaran yang membuat seluruh bagian kota Wajima menjadi abu.

Militer Jepang telah mengirimkan 1.000 tentara ke zona bencana untuk bergabung dalam upaya penyelamatan. Tidak dapat dipastikan berapa banyak lagi korban yang masih berada di reruntuhan.


(AP)

#GempaJepang #Gempa #Internasional #Jepang