Breaking News

Kisah Petinju Rocky Marciano, Kematian Tragis Sampai Kemenangan atas Muhammad Ali


Dirgantaraonline.co.id,- Kisah hidup Rocky Marciano memang menarik untuk diikuti, mulai dari karier singkatnya yang fenomenal sampai kematian tragis sebelum 'pertarungan' dengan Muhammad Ali.

Di dunia tinju, para petarung di level kelas berat cenderung lebih mendapat banyak sorotan dan ketenaran. Bahkan, untuk seseorang yang bukan penggemar tinju, mereka tahu nama-nama seperti Mike Tyson, Evander Holyfield, Joe Luis, dan tentu saja sang  legenda Muhammad Ali. 

Namun, bagi para penggemar sejati tinju, tentu familier dengan nama Rocky Marciano. Banyak orang yang melupakannya, padahal ia juga setara dengan para legenda di ring tinju. 

Rocky Marciano mungkin memiliki karier singkat di dunia tinju. Namun di masa singkat tersebut ia mampu membuktikan dirinya sebagai salah satu petinju paling berpengaruh di kelas berat. 

Ketenaran Rocky Marciano bukan hanya sebatas pada prestasinya di ring tinju, melainkan juga kematian tragis yang menimpanya. Tak heran, Hollywood sampai tertarik untuk mengadaptasi kisah tentangnya yang diperankan oleh aktor Sylvestre Stallone. 

Karier Singkat 

Rocky Marciano lahir pada 1923 di Bcokton, Massachusetts, Amerika Serikat. Setelah mengabdi di militer dan kegagalan menjadi atlet baseball, ia akhirnya mendapat debut di dunia tinju pada tahun 1947. 

Setelah laga pertama di tahun 1947, ia meraih 15 kemenangan beruntun yang semuanya diraih dengan kemenangan KO. Tahun 1951 mungkin jadi tahun di mana ia mulai menunjukkan sebagai penantang serius di ring tinju. 

Pada bulan Oktober di tahun tersebut, ia sukses mengalahkan mantan juara kelas berat, Joe Lous. Pada 1952 ia memenangkan sabuk juara kelas berat. Ia mempertahankan sabuk juara tersebut selama empat tahun.

Mempertahankannya selama enam kali sebelum akhirnya mengumumkan pensiun di usia 31 tahun pada 1956. 

Dalam karier singkatnya itu, Marciano tak pernah sekali pun kalah. Fakta itu membuatnya menjadi satu-satunya petinju kelas berat yang tak terkalahkan. 

Sementara rekor kemenangannya adalah 49 kali, 43 di antaranya diraih secara KO. Jumlah persentase KO yang mencapai 87 persen ini menunjukkan bahwa Rocky sangat mengandalkan power dalam tinjunya. 

Kematian Tragis Rocky Marciano

Sayang, Rocky Marciano harus meninggal di usia relatif muda, 46 tahun. Rocky Marciano mengalami kecelakaan pesawat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-46 tahun. 

Kecelakaan itu tak cuma merenggut Rocky, tetapi juga teman keluarganya dan pilot, Glenn Beltz. Kecelakaan nahas itu terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas pada pukul 6 sore dari Bandara Midway Chicago menuju Des Moines, Iowa. 

Perjalanan itu dilakukan Rocky dengan tujuan untuk menghadiri peresmian usaha agen asuransi milik temannya di Des Moines, tetapi  takdir malah berkata lain. 

Kalahkan Muhammad Ali Tanpa Bertanding?

Setelah Rocky pensiun, muncul petarung tangguh baru penerusnya bernama Muhammad Ali. Muhammad Ali menjadi petinju kelas berat terbaik di dekade 70-an dan 80-an. 

Meski keduanya tak pernah satu ring, namun ada cerita menarik di antara keduanya. Nama besar Rocky dan Ali membuat orang penasaran, siapa yang paling hebat di antara keduanya. 

Hal itu mengusik rasa penasaran ilmuwan dan ahli tinju untuk membuat rencana menempatkan mereka dalam sebuah pertarungan. Dari sini lahirlah istilah 'Super Fight'

Seperit dilansir dari Sportcasting, Super Fight adalah gagasan dari pentolan radio bernama Murray Woroner. Menurut WBUR, oroner ingin menemukan cara untuk mencari tahu petinju kelas berat terbesar dalam sejarah.

Untuk melakukannya, ia tidak hanya mengandalkan efek suara teater, komentar palsu, dan publisitas kuno yang baik tetapi dengan mempekerjakan para ahli dan komputer yang dimaksudkan agar hasilnya terlihat nyata. Metodologinya memang dipertanyakan, tetapi itu tidak berarti bahwa orang-orang tidak terpikat. 

Marciano adalah salah satu petinju terbaik di dunia satu dekade sebelumnya, dan Ali, bahkan di pengasingan, petinju terbesar dari generasi saat ini. 

Semua orang tampaknya memiliki pendapat tentang siapa yang akan menang dalam pertarungan antara keduanya.

Namun dalam percobaan, Ali ternyata kalah dari petarung Jim Jeffries di babak kedua sebelum mereka bisa bertemu satu sama lain. Ali sangat bingung metode ini, sehingga dia mensomasi Woroner karena menyiratkan bahwa dia tak bisa menang di laga itu.

Untuk menenangkan Ali dan mengambil percobaannya selangkah lebih maju, Woroner mengusulkan agar mereka menyelesaikan gugatan untuk satu dolar jika Muhammad Ali setuju untuk melakukan pertarungan komputer melawan Marciano.

Untuk mencapai ini, kedua pejuang (sebelum Marciano meninggal) difilmkan melakukan 70 putaran satu menit dalam berbagai skenario. Untuk menambah keaslian pada pada data yang tak terbantahkan ini, Woroner mengklaim telah berbicara dengan hampir setiap pejuang dan pakar yang hidup. Namun dalam kenyataannya, itu hanya aksi publisitas.

Untuk menambah keaslian pada fasad data yang tak terbantahkan ini, Woroner mengklaim telah berbicara dengan hampir setiap pejuang dan pakar yang hidup. 

Namun dalam kenyataannya, itu hanya aksi publisitas. Dari tes semacam itu, ternyata diketahui hasilnya Ali kalah dari Marciano. 
Metode ini memang masih dipertanyakan, namun yang jelas baik Rocky dan Ali akhirnya menjadi sahabat satu sama lain sebulan sebelum Rocky meninggal di kecelakaan pesawat. 

(***)