Daftar Pelaku Keluarga dalam Bom Bunuh Diri: Bomber Surabaya hingga Makassar

D'On, Jakarta,- Bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar dilakukan oleh pasangan suami istri (pasutri). Keduanya baru membangun mahligai rumah tangga enam bulan yang lalu. Selain mereka, ada beberapa keluarga lain di Indonesia yang menjadi pelaku bom bunuh diri.

Terbaru, aksi bom bunuh diri terjadi di depan Gereja Katedral Makassar terjadi pada Minggu (29/3/2021) seusai Misa Minggu Palma.

Pelaku tewas di lokasi dan 20 warga terluka. Kedua pelaku merupakan seorang pasangan suami istri. Pelaku merupakan jariangan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS.

Keluarga yang memilih menjadi pelaku bom bunuh diri bukan hanya di Makassar. Keluarga yang terlibat aksi bom bunuh diri juga pernah ada di Surabaya, WNI di Filipina, hingga Medan. Berikut ini daftarnya:

1. Keluarga Dita dan Keluarga Tri Murtiono

Rentetan bom yang di sejumlah gereja di Surabaya pada 2018 juga dilakukan oleh JAD. Aksi ini dilakukan oleh dua pasutri.

Minggu, 13 Mei 2018, pukul 06.30 WIB, Gereja Katolik Santa Maria menjadi sasaran bom. Gereja itu terletak di Jalan Ngagel Madya 01 Surabaya. Yusuf (18) dan Firman (16) berboncengan mengendarai sepeda motor masuk ke halaman Gereja Santa Maria dan meledakkan bom yang mereka bawa. Dua pelaku dan lima masyarakat tewas.

Pukul 07.15 WIB, Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jl Diponegoro Surabaya menjadi sasaran bom. Pelakunya adalah Puji Kuswati (43) yang mengajak dua putrinya berinisial Famela (9) dan Firman (12). Mereka tewas. Tak ada orang lain yang jadi korban tewas di titik ledakan ini.

Pukul 07.53 WIB, bom diledakkan oleh Dita Oepriarto (48) di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya. Dita menuju lokasi ini, Jl Arjuna Surabaya, usai menurunkan Puji dan kedua putrinya di GKI di Jl Diponegoro. Toyota Avanza Dita ditabrakkannya ke gereja itu. Tujuh orang tewas, plus satu pelaku yakni Dita juga tewas.

Bila ditotal, bom keluarga Dita itu menewaskan 18 orang, terdiri dari enam pelaku dan 12 masyarakat. Pada 1 Juni 2018, satu orang yang menderita luka bakar 90% akibat bom Gereja Pantekosta meninggal dunia.

Senin, 14 Mei 2018, pukul 08.50 WIB, bom meledak di Polrestabes Surabaya, Jl Sikatan. Pelakunya adalah keluarga Tri Murtiono (50) bersama istrinya Tri Ernawati (43) dan ketiga anaknya. Hanya satu anak yang tak tewas.

Kala itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkap teror bom di tiga gereja di Surabaya tersebut dilakukan oleh satu keluarga. Satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan empat orang anak ini tak lepas dari jaringan JAD-JAT.

"Pertanyaan ini kelompok mana? Tidak lepas dari kelompok JAD JAT yang merupakan pendukung utama ISIS di Indonesia," kata Tito dalam konferensi pers di RS Bhayangkara Surabaya, Minggu (13/5/2018).

"Di Indonesia JAD dipimpin Aman Abdurahman yang ditahan di Mako Brimob, Kemudian kelompok pelaku satu keluarga terkait sel JAD yang ada di Surabaya. Dia ada lah ketuanya Dita ini," ungkap Tito.

2. Keluarga GI

Pasangan suami istri (pasutri) nekat menerobos Mapolres Indramayu. Pelaku melemparkan sebuah panci berisi bahan peledak. Beruntung bom panci itu tak meledak dan menimbulkan banyak korban.

Peristiwa penyerangan tersebut terjadi pada Minggu (15/7/2018) dini hari sekitar pukul 02.35 WIB. Pasutri tersebut datang menggunakan sepeda motor matic. Gerak-gerik keduanya diketahui polisi jaga.

"Personel penjagaan Polres Indramayu lebih dulu melihat dua orang tak dikenal berboncengan hendak masuk ke arah pintu penjagaan," ujar Kabag Pensat DIv Humas Polri Kombes Yusri Yunus kepada detikcom via pesan singkat.

Pasutri tersebut melaju cepat menerobos masuk pintu yang sudah tertutup pagar. Keduanya masuk sambil mengejar anggota berseragam.

"Namun dengan sigap, serangan dari orang yang dikenal itu dapat dihindari," tutur Yusri.

Polisi pun menangkap pasutri berinisial GI dan NH tersebut.

3. Keluarga Abu Hamzah

Keluarga pelaku bom bunuh diri juga pernah muncul di Sibolga, Sumut. Di tengah kepungan polisi, istri terduga teroris Husain alias Abu Hamzah di Sibolga, Sumut, memilih meledakkan diri dengan bom lontong rakitan. Istri Abu Hamzah tewas bersama anaknya dengan kondisi jasad tak utuh.

"Abu Hamzah menyampaikan kepada penyidik Densus, istrinya lebih keras pemahamannya dibanding dia sendiri. Lebih militan istrinya, makanya setelah dilakukan negosiasi dan imbauan selama hampir 10 jam, istrinya nekat melakukan suicide bomber-nya itu," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (13/3/2019).

Pengepungan rumah Abu Hamzah, yang dihuni istri dan anaknya, dilakukan pada Selasa (12/3/2019) setelah Abu Hamzah lebih dulu diciduk. Saat tim Densus 88 Antiteror datang, terjadi ledakan bom yang melukai seorang polisi dan seorang warga.

Polisi berjam-jam melakukan negosiasi dan berupaya membujuk istri Abu Hamzah agar menyerah. Ulama juga ikut dilibatkan dalam proses negosiasi. Namun, sekitar pukul 01.20 WIB, Rabu (13/3), istri Abu Hamzah memilih melakukan bom bunuh diri dari dalam kamar rumah.

Tak cuma itu, Abu Hamzah juga dibawa ke lokasi untuk membujuk istrinya agar menyerah. Tapi upaya itu pun tak berhasil.

"Ya termasuk si AH itu sempat menyampaikan imbauan kepada istrinya. Tapi AH menyampaikan kepada petugas istrinya lebih kuat terpapar paham ISIS dibanding AH sendiri," tutur Dedi.

Di sela terjadinya ledakan bom rakitan, polisi meminta bantuan petugas pemadam kebakaran agar api tidak menyebar ke rumah warga lainnya. Abu Hamzah mengaku merakit puluhan bom. Empat bom aktif di antaranya dibawa sang istri.

4. Keluarga Bom Bunuh Diri di Katedral, Filipina

Polri berhasil mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral, Jolo, Filipina. Pelaku dipastikan dua warga negara Indonesia (WNI).

"Suami-istri atas nama Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/7/2019).

Dedi mengatakan kedua pelaku bom bunuh diri ini merupakan deportan dari Turki pada Januari 2017. Dedi menjelaskan awalnya Polri dan kepolisian Filipina hanya mengantongi hasil pemeriksaan lima tersangka bom bunuh diri yang menginformasikan pelaku diduga WNI.

"Hasil tes DNA yang dilakukan oleh aparat keamanan Filipina belum diketemukan pembandingnya. Sehingga sulit untuk mengidentifikasi siapa sebetulnya pelaku bom bunuh diri di rumah ibadah itu. Densus 88 juga telah bekerja sama dengan kepolisian Filipina, tapi belum berhasil mengidentifikasi karena dua tersangka ini masuk melalui jalur ilegal Filipina, sehingga tidak terekam dengan baik," jelas Dedi.

"Aparat keamanan kita hanya mendapatkan informasi dari lima tersangka yang ditangkap di Filipina itu kalau pelaku diduga orang Indonesia, karena dari logat bicara dan kebiasaannya seperti orang Indonesia," sambung Dedi.

Identitas kedua pasutri pelaku bom bunuh diri terungkap setelah anggota JAD Kalimantan Timur bernama Yoga dan JAD Sumatera Barat bernama Novendri ditangkap.

"Setelah dilakukan penangkapan terhadap Saudara Novendri dan Yoga di Malaysia, baru mengkait ternyata pelaku bom bunuh diri di Filipina itu adalah dua orang warga negara Indonesia," ujar Dedi.

5. Keluarga Rabbial Muslim Nasution

Keluarga yang menjadi pelaku bom bunuh diri juga ada di Medan. Pria bernama Rabbial Muslim Nasution (RMN) meledakkan bom bunuh diri setelah mengaku ingin mengurus SKCK di Mapolrestabes Medan. Menggunakan jaket ojek online, pria berusia 24 tahun itu terpantau masuk ke Mapolrestabes Medan sekitar pukul 08.15 WIB, Rabu (13/11/2019).

Petugas jaga meminta Rabbial membuka jaket, tasnya ikut diperiksa. Tapi tak ada benda yang mencurigakan.

Rabbial pun masuk ke Mapolrestabes Medan hingga ke halaman dekat kantin ruang SKCK. Sekitar pukul 08.45 WIB, Rabbial meledakkan bom yang disebut polisi dililitkan ke tubuhnya.

Sementara itu, istri Rabbial, berinisial DA diamankan polisi sehari setelah aksi bom bunuh diri suaminya. Dari pemeriksaan, istri Rabbial diketahui pernah berkomunikasi dengan napi di Lapas Medan soal rencana aksi teror di Bali.

"Densus 88 sudah mengamankan istri daripada pelaku. Istri pelaku tersebut atas nama DA. DA yang diduga yang terpapar lebih dahulu dibandingkan pelaku," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada wartawan di Mako Brimob Depok, Kamis (14/11/2019).

Dari hasil penelitian Tim Densus 88 dan Direktorat Siber Bareskrim Polri, DA, istri pelaku bom Medan, cukup aktif di media sosial.

"Dan secara fisik sudah pernah berkomunikasi atas nama I, yang saat ini sedang menjalani proses hukuman di lapas kelas 2 wanita yang ada di Medan. Dan di dalam jejaring komunikasi media sosialnya mereka merencanakan aksi terorisme di Bali. Itu lagi didalami dan dikembangkan," sambung Dedi.

6. Keluarga L

Dua pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, yaitu L dan YSF, baru menikah sekitar 6 bulan lalu. Mereka dinikahkan tersangka teroris lain.

"Saudara L dan YSF ini beberapa bulan yang lalu, tepatnya 6 bulan lalu, dinikahkan oleh Risaldi," kata Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat jumpa pers di Mapolda Sulawesi Selatan, Makassar, Senin (29/3/2021).

Sigit mengatakan Risaldi adalah tersangka teroris yang ditangkap pada Januari 2021. Dia merupakan kelompok JAD yang terkait dengan pengeboman Gereja di Jolo, Filipina, pada 2018.

"Risaldi yang beberapa waktu lalu telah ditangkap di Januari," ucapnya.

Sigit menuturkan tersangka L sudah meninggalkan surat wasiat untuk orang tuanya sebelum melakukan bom bunuh diri. L mengaku siap mati syahid.

"Saudara L sempat meninggalkan surat wasiat kepada orang tua yang isinya mengatakan bahwa yang bersangkutan berpamitan dan siap mati syahid," ungkap Sigit.

(Detik.com)

No comments

Powered by Blogger.