Breaking News

Fenomena Janda di Sumbar: Angka Tinggi, Cerita yang Sering Terlupakan

Ilustrasi 

D'On, Sumatera Barat -
 Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan sebuah fenomena sosial yang cukup mencengangkan. Sumatera Barat (Sumbar), yang dikenal sebagai ranah adat dan religius, ternyata menyimpan angka janda yang lebih tinggi dibandingkan provinsi tetangganya, Riau meski populasi perempuan di Sumbar lebih sedikit.

BPS mencatat, jumlah janda di Sumbar mencapai 259.892 orang. Dari angka tersebut, 21.987 merupakan akibat perceraian hidup, sementara 237.905 karena cerai mati. Bandingkan dengan Riau yang memiliki 179.194 janda (13.796 akibat cerai hidup dan 165.398 karena cerai mati).

Padahal, jumlah penduduk perempuan di Riau lebih besar, yakni 2.632.360 jiwa, dibandingkan Sumbar yang hanya 2.352.302 jiwa. Artinya, persentase perempuan yang menyandang status janda di Sumbar jauh lebih tinggi dibandingkan Riau.

Lebih dari Sekadar Angka

Data itu seolah dingin dan kaku, namun jika ditelusuri lebih dalam, ia menyimpan cerita getir di baliknya. Di Sumbar, fenomena ini tak lepas dari beberapa faktor sosial-ekonomi yang sudah mengakar.

  1. Rapuhnya Rumah Tangga
    Tingginya angka cerai hidup menunjukkan bahwa ketahanan keluarga di Sumbar sedang menghadapi tantangan. Banyak pernikahan berakhir bukan karena maut, tetapi karena hubungan yang tak lagi bisa dipertahankan.

  2. Tradisi Merantau
    Budaya merantau yang melekat pada laki-laki Minang turut memberi andil. Banyak suami yang mencari nafkah ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri. Namun, jarak yang terbentang seringkali menggerus komunikasi dan keintiman rumah tangga. Alhasil, rumah tangga pun goyah hingga berujung perceraian.

  3. Tingginya Angka Kematian Suami
    Lebih dari 237 ribu perempuan di Sumbar menjadi janda karena kematian pasangan. Hal ini dipengaruhi faktor kesehatan, gaya hidup yang tidak terjaga, usia produktif yang rentan penyakit, hingga kecelakaan kerja terutama bagi pria yang bekerja di sektor konstruksi, transportasi, atau perkebunan.

Dampak Sosial yang Jarang Dibicarakan

Fenomena ini bukan hanya persoalan status keluarga, tetapi juga menyangkut beban sosial yang kompleks:

  • Ekonomi Timpang
    Banyak janda yang harus menanggung beban sebagai tulang punggung keluarga, menghidupi anak, bahkan orang tua. Tanpa keterampilan dan modal yang cukup, mereka rentan jatuh ke dalam lingkaran kemiskinan.

  • Stigma Sosial
    Di masyarakat, status janda kerap disalahpahami. Mereka sering menjadi bahan gosip, dianggap beban, bahkan diperlakukan dengan diskriminatif. Stigma ini menambah luka psikologis yang sebenarnya tak perlu.

  • Kesehatan Mental
    Isolasi sosial, tekanan ekonomi, dan trauma kehilangan pasangan kerap menimbulkan masalah mental, mulai dari depresi hingga kecemasan. Namun, isu ini masih jarang masuk dalam diskusi kebijakan publik.

Kebijakan yang Masih Tumpul

Ironisnya, angka setinggi ini belum cukup membuat pemerintah daerah lebih sensitif terhadap fenomena sosial ini. Program bantuan sosial sering kali tidak tepat sasaran. Pemberdayaan ekonomi untuk perempuan masih minim, dan ruang aman bagi janda untuk mendapatkan dukungan emosional maupun finansial hampir tak terdengar.

Di sisi lain, kebijakan keluarga lebih banyak terfokus pada pernikahan, sementara masalah pasca-pernikahan, terutama pada perempuan, sering diabaikan. Padahal, jumlah janda yang besar seharusnya menjadi alarm penting bagi perumusan kebijakan berbasis gender dan kesejahteraan keluarga.

Saatnya Melihat Data sebagai Cerita Hidup

Fenomena janda di Sumbar semestinya tidak lagi dipandang hanya sebagai angka statistik. Di balik setiap data, ada wajah-wajah perempuan yang berjuang menghidupi anak-anaknya, ada kisah pernikahan yang kandas karena jarak, dan ada istri yang ditinggalkan suami karena maut.

Data ini seharusnya menjadi pintu masuk bagi pemerintah, akademisi, hingga masyarakat luas untuk menata ulang perspektif tentang ketahanan keluarga, kesehatan laki-laki, serta perlindungan sosial yang lebih berpihak pada perempuan.

Karena pada akhirnya, angka janda yang tinggi bukanlah sekadar statistik, melainkan cermin dari rapuhnya fondasi sosial yang perlu segera diperkuat.

(Mond)

#Janda #BPS #SumateraBarat