Ia Tak Gugur di Medan Perang, Tapi Mati Perlahan Dilupakan Bangsa Sendiri
Perdana Menteri Pertama Indonesia Sutan Sjahrir
Dirgantaraonline - 9 April 1966, Zurich, Swiss. Jauh dari tanah air yang ia perjuangkan dengan sepenuh jiwa, seorang putra bangsa menghembuskan napas terakhirnya. Ia bukan gugur di medan perang, bukan tumbang oleh peluru penjajah, melainkan perlahan-lahan terkikis oleh sunyi, pengasingan, dan ironi politik bangsanya sendiri. Namanya Sutan Sjahrir, seorang yang dijuluki “Bung Kecil” namun memiliki pemikiran raksasa.
Bung Kecil dengan Pikiran Raksasa
Sjahrir bukanlah pejuang dengan bambu runcing di tangan. Ia bukan pemimpin pasukan gerilya di hutan. Senjata utamanya adalah kata-kata, pemikiran, dan kecerdasan.
Dalam usia yang relatif muda, ia sudah dikenal sebagai orator ulung, pemikir tajam, dan seorang demokrat sejati. Dari balik podium, kalimat-kalimatnya mampu menembus nalar penjajah, menembus dinding-dinding diplomasi internasional.
Dalam pamflet terkenalnya, Perjuangan Kita (1945), Sjahrir menulis:
“Perjuangan kita bukanlah perjuangan untuk mengenyangkan perut, melainkan perjuangan untuk harkat manusia, untuk kebebasan dan harga diri.”
Sejak awal ia menegaskan, perjuangan bangsa tidak boleh berhenti pada kemerdekaan formal semata. Kemerdekaan, bagi Sjahrir, haruslah bermakna kebebasan berpikir, menghormati hak asasi, dan membangun demokrasi sejati.
Perdana Menteri Pertama
Sutan Sjahrir tercatat sebagai Perdana Menteri pertama Republik Indonesia pada 14 November 1945, ketika usia Republik masih seumur jagung. Pada masa itu, Indonesia tengah berada dalam situasi genting. Revolusi baru saja meletus, diplomasi internasional belum kokoh, dan kekuatan militer Indonesia belum seberapa.
Dalam suasana demikian, Sjahrir muncul sebagai pemimpin muda yang tenang, rasional, dan tegas. Ia berani mengambil keputusan sulit, seperti memilih jalur diplomasi di saat sebagian pejuang menganggap kompromi adalah bentuk pengkhianatan.
Dalam salah satu pidatonya, ia pernah berkata:
“Janganlah kita mempermainkan revolusi kita dengan kemarahan semata. Revolusi yang sejati adalah revolusi akal budi, revolusi kesadaran, bukan hanya revolusi senjata.”
Baginya, diplomasi bukanlah bentuk kelemahan, melainkan strategi panjang untuk memastikan Indonesia tidak terisolasi di mata dunia.
Langit Politik yang Menggelap
Namun, zaman berubah. Kekuasaan politik di tanah air perlahan menggelap. Suara-suara jernih, kritis, dan bersih sering kali dianggap ancaman. Dan Sjahrir, yang tak pandai berpura-pura atau mencari aman, menjadi salah satu korbannya.
Pada Januari 1962, ia ditangkap tanpa surat perintah, tanpa dakwaan jelas, tanpa pernah diadili. Tuduhan makar diarahkan kepadanya, sebuah tuduhan yang hingga akhir hayatnya tak pernah terbukti.
Dalam salah satu tulisannya, Sjahrir sudah mengingatkan bahaya politik yang otoriter:
“Bentuk tirani yang paling kejam ialah ketika suara rakyat sendiri dibungkam oleh mereka yang mengaku berkuasa atas nama rakyat.”
Ironisnya, kata-kata itu menjadi kenyataan dalam hidupnya sendiri.
Akhir dalam Sunyi
Pahlawan diplomasi itu kini dipaksa menjalani hidup di dalam sel sempit. Podium dunia yang pernah memberinya tepuk tangan, digantikan empat dinding dingin yang bisu. Dari sorak-sorai internasional, kini ia hanya ditemani oleh sunyi.
Seiring waktu, tubuhnya yang mulai rapuh terserang penyakit. Stroke melumpuhkan sebagian fisiknya. Barulah, ketika kondisi semakin parah, pemerintah mengizinkan ia berobat ke luar negeri. Namun, semua itu sudah terlambat.
Di sebuah rumah sakit di Zurich, Swiss, pada 9 April 1966, Sutan Sjahrir meninggal dunia. Jauh dari tanah kelahirannya, jauh dari bangsa yang dulu ia perjuangkan dengan sepenuh jiwa.
Ironisnya, setelah wafat, jasadnya dipulangkan ke tanah air dengan penghormatan kenegaraan. Ia diberi gelar Pahlawan Nasional. Sebuah penghormatan yang terasa pahit, mengingat di tahun-tahun terakhir hidupnya ia justru menjadi korban ketidakadilan bangsanya sendiri.
Warisan yang Terlupakan
Sutan Sjahrir bukan hanya seorang negarawan, ia juga seorang pemikir besar. Melalui karya-karyanya, seperti “Perjuangan Kita” (1945), ia menegaskan pentingnya demokrasi, kebebasan berpikir, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Dalam sebuah kutipan lain yang terkenal, ia menulis:
“Kita ingin Indonesia yang merdeka, tetapi janganlah kemerdekaan itu hanya berganti tuan. Kemerdekaan sejati ialah bila rakyat berdaulat, dan manusia dihargai sebagai manusia.”
Sayangnya, warisan pemikiran Sjahrir kerap tenggelam dalam riuhnya narasi sejarah yang lebih menonjolkan pertempuran fisik. Padahal, diplomasi, kecerdasan, dan idealisme yang ia bawa adalah fondasi penting bagi berdirinya Indonesia di panggung dunia.
Hingga kini, banyak yang berpendapat bahwa Sjahrir adalah salah satu tokoh yang “terlalu cepat” untuk zamannya. Ia seorang demokrat sejati di tengah politik otoriter, seorang pemimpin yang lebih memilih integritas dibanding kompromi.
Sutan Sjahrir telah tiada, tetapi kisahnya tetap hidup sebagai pengingat. Bahwa perjuangan tidak selalu dengan senjata, bahwa cinta tanah air bisa hadir dalam bentuk gagasan, keberanian bersuara, dan keteguhan memegang prinsip.
Ia memang tidak gugur di medan perang, tetapi kisah hidupnya mengajarkan bahwa kadang luka yang paling dalam justru datang bukan dari peluru musuh, melainkan dari pengkhianatan bangsa sendiri.
(Mond)
#Sejarah #SutanSjahrir #Tokoh