-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mengapa Gula Darah Disebut “Silent Killer”? Ancaman Diam-Diam yang Sering Diabaikan

25 يناير 2026 | يناير 25, 2026 WIB Last Updated 2026-01-25T07:31:51Z


Ilustrasi 



Dirgantaraonline -  Gula darah tinggi kerap dijuluki sebagai silent killer atau pembunuh senyap. Julukan ini bukan tanpa alasan. Banyak orang hidup bertahun-tahun dengan kadar gula darah di atas normal tanpa menyadari bahwa tubuhnya perlahan mengalami kerusakan serius.


Berbeda dengan penyakit akut yang menunjukkan gejala jelas sejak awal, gangguan gula darah khususnya diabetes sering berkembang secara diam-diam. Ketika gejala muncul, kerusakan organ biasanya sudah terjadi.


Tanpa Gejala, Tapi Mematikan


Pada tahap awal, kenaikan gula darah jarang menimbulkan keluhan berarti. Penderitanya masih bisa beraktivitas normal, bekerja, bahkan berolahraga seperti biasa. Inilah yang membuat banyak orang lengah.


“Sebagian besar pasien datang berobat ketika sudah terjadi komplikasi, bukan saat gula darah mulai naik,” ungkap seorang tenaga medis.


Gejala ringan seperti mudah haus, sering buang air kecil, cepat lelah, atau penurunan berat badan sering dianggap sepele. Padahal, di balik itu, pembuluh darah dan saraf perlahan rusak.


Merusak Organ Vital Secara Perlahan


Gula darah yang terus tinggi akan merusak hampir seluruh organ tubuh. Dampaknya tidak terjadi sekaligus, tetapi bertahap dan progresif:

  • Jantung dan pembuluh darah
    Risiko serangan jantung dan stroke meningkat drastis akibat penyempitan dan pengerasan pembuluh darah.

  • Ginjal
    Diabetes menjadi penyebab utama gagal ginjal kronis yang membuat pasien harus menjalani cuci darah seumur hidup.

  • Mata
    Kerusakan retina (retinopati diabetik) dapat menyebabkan kebutaan permanen.

  • Saraf
    Mati rasa pada kaki dan tangan sering berujung pada luka yang sulit sembuh, bahkan amputasi.


Ironisnya, semua ini bisa terjadi tanpa rasa sakit yang berarti pada fase awal.


Gaya Hidup Modern Jadi Pemicu Utama

Pola hidup masa kini mempercepat munculnya masalah gula darah. Konsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat olahan, minim aktivitas fisik, stres berkepanjangan, serta kurang tidur menjadi faktor utama.


Minuman manis, makanan cepat saji, dan camilan tinggi gula kini mudah dijangkau semua kalangan, termasuk anak-anak dan remaja. Tanpa disadari, kebiasaan ini menumpuk risiko sejak usia muda.


Tak Hanya Menyerang Orang Tua


Anggapan bahwa diabetes hanya menyerang orang lanjut usia kini terbantahkan. Kasus gula darah tinggi pada usia produktif bahkan remaja semakin meningkat.


“Banyak pasien usia 30-an datang dengan komplikasi yang seharusnya baru muncul di usia lanjut,” ujar seorang dokter.


Hal ini menunjukkan bahwa gula darah tinggi bukan lagi penyakit usia tua, melainkan ancaman lintas generasi.


Pencegahan Jadi Kunci Utama


Karena sifatnya yang “diam-diam”, deteksi dini menjadi senjata paling ampuh. Pemeriksaan gula darah secara rutin sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga diabetes.

Langkah pencegahan sederhana namun efektif meliputi:

  • Mengurangi konsumsi gula dan makanan olahan
  • Memperbanyak aktivitas fisik
  • Menjaga berat badan ideal
  • Mengelola stres
  • Tidur cukup dan berkualitas


Gula darah disebut silent killer karena membunuh secara perlahan tanpa peringatan jelas. Saat gejala berat muncul, sering kali tubuh sudah mengalami kerusakan serius.


Kesadaran, pola hidup sehat, dan pemeriksaan rutin menjadi kunci agar ancaman ini tidak terus memakan korban. Jangan menunggu sampai tubuh “berteriak” lewat komplikasi karena saat itu, penyesalan sering datang terlambat.


(***)


#GayaHidup #Kesehatan #GulaDarah

×
Berita Terbaru Update