Mengungkap Arti Kode ACAB 1312: Simbol Perlawanan yang Hidup dari Penjara Inggris Hingga Aksi Protes Dunia
Ilustrasi ACAB 1312. iStockphoto
Dirgantaraonline - Kode ACAB dan angka 1312 mungkin sering ditemui di dinding penuh grafiti, tato bergaya “old school”, hingga gambar grafis yang beredar di media sosial. Sekilas, simbol ini mungkin hanya terlihat seperti tulisan misterius tanpa makna jelas. Namun, di balik rangkaian huruf dan angka tersebut, tersimpan sejarah panjang penuh kontroversi: mulai dari jeruji besi penjara Inggris, lantang di stadion sepak bola Eropa, hingga meledak menjadi slogan global dalam gerakan protes terhadap polisi.
Makna ACAB dan 1312
Dalam bahasa Inggris, ACAB adalah singkatan dari kalimat provokatif “All Cops Are Bastards” atau bila diterjemahkan bebas: “semua polisi adalah bajingan.” Sementara angka 1312 merupakan representasi numerik dari akronim tersebut, di mana setiap angka mewakili urutan huruf dalam alfabet: A=1, C=3, A=1, B=2.
Simbol ini digunakan bukan sekadar untuk estetika, melainkan sebagai bentuk perlawanan, protes, dan ungkapan kemarahan terhadap perilaku polisi yang dianggap tidak etis, sewenang-wenang, atau menyalahgunakan kekuasaan.
Awalnya, slogan ACAB populer sebagai tato penjara di Inggris Raya, biasanya ditulis di ruas jari hingga membentuk huruf-huruf ACAB ketika tangan mengepal. Namun, seiring waktu, simbol ini merambah ke berbagai lapisan masyarakat, mulai dari komunitas kriminal, penggemar sepak bola garis keras, hingga aktivis jalanan.
Jejak Sejarah: Dari Penjara Hingga Lagu Punk
Asal-usul ACAB tidak pernah benar-benar jelas. Beberapa peneliti menyebut istilah ini muncul pada paruh pertama abad ke-20 di Inggris, ketika pekerja yang sedang mogok menggunakan slogan ini untuk melawan aparat yang mengamankan demonstrasi.
Kisah lain menyebut akronim ini terdokumentasi pada tahun 1977 oleh seorang jurnalis asal Newcastle, Eric Partridge, yang saat itu mendekam semalam di penjara. Ia menemukan tulisan “ACAB” di dinding sel tahanan. Temuannya itu kemudian ia masukkan dalam bukunya berjudul “The Dictionary of Catchphrases”. Partridge meyakini istilah ini sudah lama beredar di kalangan kriminal profesional, bahkan sejak era 1920-an.
Menariknya, sebuah lagu lama yang liriknya berbunyi “All Coppers Are Bastards” juga sempat populer di Inggris pada dekade tersebut, menandakan bahwa istilah ini mungkin sudah beredar sejak jauh sebelum 1970-an.
Slogan ACAB makin dikenal luas pada era punk 1980-an, ketika band punk Inggris The 4 Skins merilis lagu berjudul “ACAB.” Musik punk yang sarat dengan perlawanan, anti-otoritas, dan ekspresi kebebasan menjadikan akronim ini semakin identik dengan simbol perlawanan terhadap aparat.
Dari Stadion Sepak Bola ke Jalanan Demonstrasi
Seiring berjalannya waktu, ACAB mulai diadopsi oleh kelompok suporter sepak bola fanatik di Inggris dan Eropa. Bagi mereka, bentrokan dengan polisi bukanlah hal asing, dan ACAB menjadi simbol solidaritas sekaligus perlawanan di tribun stadion maupun jalanan.
Namun, popularitas terbesar ACAB muncul kembali pada tahun 2020. Setelah kematian George Floyd di Minneapolis, Amerika Serikat, akibat tindihan lutut polisi kulit putih di lehernya selama hampir 10 menit, slogan ACAB menjadi bagian dari gelombang protes Black Lives Matter.
Tulisan ACAB bermunculan di dinding gedung, mobil polisi, hingga media sosial. Di titik ini, akronim tersebut tak lagi hanya milik subkultur tertentu seperti napi, hooligan, atau punk, tetapi menjadi simbol global kemarahan masyarakat terhadap polisi.
Simbol yang Sarat Kontroversi
Meski banyak dipakai untuk menyoroti kasus kekerasan polisi, makna ACAB tidak selalu diterima secara bulat. Bagi sebagian orang, ungkapan “All Cops Are Bastards” dianggap terlalu menyamaratakan dan merugikan polisi yang bekerja dengan integritas. Namun bagi kelompok lain, istilah ini bukan sekadar generalisasi, melainkan kritik terhadap sistem kepolisian secara keseluruhan, yang dinilai sarat penyalahgunaan kekuasaan.
Kini, ACAB dan 1312 tetap menjadi simbol perlawanan yang kontroversial. Ia bisa dilihat di dinding penuh grafiti perkotaan, poster protes, lagu-lagu punk, hingga tato di kulit orang-orang yang ingin menunjukkan sikap anti-otoritas.
Dari jeruji besi penjara Inggris, dentuman musik punk, hingga sorak-suara pengunjuk rasa di jalanan Amerika, ACAB 1312 adalah bukti bagaimana sebuah kode sederhana bisa menjelma menjadi simbol global perlawanan terhadap kekuasaan. Meski penuh kontroversi, kehadirannya terus hidup sebagai pengingat bahwa hubungan antara rakyat dan polisi selalu menyimpan ketegangan yang belum pernah benar-benar terselesaikan.
(***)
#ACAB #1312 #Polisi