Aparat Keamanan Mesir Ciduk Mahmoud Ezzat, Tokoh Terkemuka Ikhwanul Muslimin

D'On, Kairo (Mesir),- Otoritas keamanan Mesir menciduk Mahmoud Ezzat, tokoh terkemuka kelompok Ikhwanul Muslimin (Moslem Brotherhood) di tempat persembunyian di Kairo timur.

Dikutip dari media Al Ahram edisi Inggris, penangkapan Ezzat dinilai langkah pemberangusan paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir terhadap Ikhwanul Muslimin yang terlarang di Mesir ini.

Saudi Arabia, Emirat Arab, dan berbagai negara telah melarang eksistensi Ikhwanul Muslimin karena dianggap mengobarkan permusuhan dan berusaha menggulingkan pemerintah berkuasa di kerajaan maupun republik.

Dalam pernyataan Jumat (28/8/2020), Kementerian Dalam Negeri Mesir mengatakan Ezzat yang juga pemimpin Organisasi Internasional Persaudaraan Muslim, ditangkap setelah intelijen menemukan jejak persembunyiannya di sebuah flat di lingkungan permukiman di Kairo Baru.

Mereka mengatakan Mohammad Ezzat telah menggunakan apartemen itu sebagai tempat persembunyian terbarunya, meskipun rumor yang disebarkan IM menyebutkan Ezzat berada di luar negeri.

Pemimpin itu ditangkap setelah penggerebekan yang dilakukan berdasarkan surat perintah oleh Kejaksaan Keamanan Negara Tertinggi. Beberapa laptop dan ponsel yang menggunakan perangkat lunak sumber terbuka untuk mengamankan komunikasi, disita dari flat Ezzat.

Menurut pernyataan tersebut, Ezzat bertanggung jawab membentuk sayap bersenjata Ikhwanul Muslimin. Ia pula yang diyakini mengawasi operasi terorisme IM sejak 30 Juni 2013 hingga hari penangkapannya.

Menurut Kemendagri Mesir, operasi yang diawasi oleh Ezzat termasuk pembunuhan mantan jaksa penuntut umum Hisham Barakat pada 2015.

Lalu pembunuhan polisi Wael Tahoun pada 2015, pembunuhan Adel ragei, perwira tinggi angkatan darat pada 2016, dan percobaan pembunuhan mantan ajudan jaksa penuntut umum Zakaria Abdel-Azim pada 2016.

Ezzat juga diyakini mengawasi peledakan bom mobil mematikan di luar rumah sakit kanker utama di Kairo pada Agustus 2019, yang menewaskan 20 orang.

Ezzat juga bertanggung jawab atas serangan dunia maya yang mengelola (penyebaran) rumor dan berita palsu untuk menimbulkan kebingungan dan memecah belah opini public.

Pihak Kemendagri Mesir menambahkan, Ezzat mengelola pergerakan dana dan dana grup ke aktivitas melalui anggota grup di luar negeri dari organisasi internasional yang mencurigakan.

Ezzat telah berada di jajaran Ikhwanul Muslimin sejak 1960-an dan diangkat sebagai anggota Biro Bimbingan grup, atau dewan eksekutifnya, pada 1981.

Dia sebelumnya telah ditahan selama beberapa tahun karena aktivisme dan afiliasinya dengan grup tersebut.

Ezzat ditunjuk sebagai penjabat pemimpin grup pada Agustus 2013, setelah penangkapan tokoh paling terkemuka IM, Mohamed Badie, yang menerima hukuman seumur hidup keempat pada Juli atas tuduhan terkait kekerasan, dengan total hukuman 100 tahun.

Sejak Mesir diambilalih militer yang dipimpin Jenderal Abdel Fattah al-Sisi mendepak pemerintahan Moersi yang dikader Ikhwanul Muslimin. Ezzat dijatuhi beberapa hukuman in absentia.

Termasuk hukuman penjara seumur hidup dan hukuman mati, selama persidangan massal dari anggota terkemuka IM atas tuduhan spionase dengan kelompok Palestina Hamas dan kejahatan terkait kekerasan lainnya.

Berdasarkan hukum Mesir, hukuman in absentia harus diadili kembali setelah terdakwa ditangkap. Sputniknews mengutip sumbernya menyebutkan, IM mendistorsi informasi keberadaan Ezzat dengan menyebutkan pria itu berada di Turki atau Jalur Gaza.

Ikhwanul Muslimin, didirikan pada 1928 dan ditetapkan sebagai kelompok teroris pada 2013 setelah bentrokan besar-besaran dengan aparat penegak hukum.

Organisasi Islam yang kadernya pernah membunuh Presiden Mesir Anwar Sadat ini memiliki cabang di sekitar 70 negara dan berusaha mengupayakan Islamisasi masyarakat.

Hingga saat ini, sebagian besar pimpinan puncak Ikhwanul Muslimin berada di penjara, tetapi pada saat yang sama, sejumlah anggota puncaknya berhasil melarikan diri dari Mesir setelah militer berkuasa.

Pemberangusan kelompok Ikhwanul Muslimin di Mesir didukung penuh Emirat Arab dan Saudi Arabia, dibantu AS dan para sekutu Eropanya.

Mohammad Moersi didongkel, guna menghentikan meluasnya pengaruh kelompok ini di Mesir dan kawasan sekitarnya.

(Tribunnews.com/Ahram.org/Sputniknews.com/xna)

No comments

Powered by Blogger.