AS-China Memanas, Trump Kirim 7 Kapal Selam ke Laut China Selatan

D'On, Laut China Selatan,- Hubungan antara Amerika Serikat dengan China kini makin panas lagi. Diawali dengan merebaknya virus cororna dari China hingga jatuhnya korban jutaan orang di AS, kini Presiden AS Donald Trump mengirimkan 7 buah kapal selam ke Laut China Selatan.

"Operasi kami adalah demonstrasi kesediaan kami untuk membela kepentingan dan kebebasan kami di bawah hukum internasional," kata Komandan sub-pasukan Pasifik Laksamana Muda Blake Converse seperti dikutip dari Express.

Ada pun sejumlah kapal selam yang dikirim tersebut empat kapal selam penyerang (attack submarines) yang bermarkas di Guam, USS Alexandria, serta beberapa kapal yang berbasis di Hawaii.

Sementara untuk diketahui, attack submarines sendiri merupakan kapal selam yang dipersenjatai dengan torpedo dan rudal jelajah Tomahawk. Kapal selam jenis ini mampu melakukan pengawasan rahasia.

Tak berhenti disitu, Angkatan Laut AS juga telah menempatkan armada kapal perang di Pasifik Barat. Hal ini dilakukan di tengah ketegangan kedua negara meningkat.

Sedangkan China tetap meningkatkan aktivitasnya di Laut China Selatan. China juga terus memperluas kendalinya atas sebagian besar wilayah di perairan tersebut dengan membangun pulau reklamasi.

Meluasnya aktivitas China ini cukup mengganggu aktivitas negara lainnya. Yang terakhir merasa terganggu akibat ulah China adalah Kapal eksplorasi minyak Perusahaan energi Petronas malaysia.

Namun, ulah China itu dinilai AS sebagai upaya ilegal. China juga dianggap telah dengan sengaja memanfaatkan kondisi di mana pandemi sedang mewabah untuk meningkatkan keuntungan negara di kawasan tersebut.

"Ketika militer AS menangani COVID-19 di dalam negeri, kami tetap fokus pada misi keamanan nasional kami di seluruh dunia. Banyak negara telah berupaya untuk pulih dari pandemi, dan sementara itu, pesaing strategis kami berusaha untuk mengeksploitasi krisis ini untuk keuntungan mereka dengan mengorbankan negara lain," kata Menteri Pertahanan AS Mark Esper.

Esper juga menuduh China meningkatkan "kampanye disinformasi" untuk mengalihkan kesalahan terkait wabah penyakit COVID-19 dan melindungi citra negaranya.

"Kami terus melihat perilaku agresif oleh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) di Laut China Selatan, mulai dari mengancam kapal angkatan laut Filipina hingga menenggelamkan kapal nelayan Vietnam dan mengintimidasi negara-negara lain agar dibiarkan terlibat dalam pengembangan minyak dan gas lepas pantai," papar Esper.

Esper mengatakan bahwa dua kapal AS baru menyelesaikan operasi kebebasan navigasi (FONOP) di Laut China Selatan minggu sebelumnya. Kedua kapal itu adalah Kapal penjelajah berpeluru kendali USS Bunker Hill, dan kapal perusak USS Barry.

Kapal penjelajah berpeluru kendali USS Bunker Hill melakukan FONOP di Kepulauan Spratly, dan kapal perusak USS Barry berlayar dua kali melalui Selat Taiwan dan melalui Kepulauan Paracel, wilayah sengketa yang diklaim China sebagai miliknya.

"(Operai ini) ntuk mengirim pesan yang jelas ke Beijing bahwa kami terus melindungi kebebasan navigasi dan perdagangan untuk semua negara besar dan kecil." katanya.

(IOC/Express)

No comments

Powered by Blogger.