Air Tujuh Rasa "Aik Sipitu Dai" di Tanah Kelahiran Para Raja Batak

D'On, Sumut,- Sebuah gunung berapi aktif di barat Danau Toba dipercaya orang Batak sebagai tempat raja mereka bermula. Puncak Pusuk Buhit, dalam legenda suku Batak dipercaya sebagai tempat kelahiran raja Batak. Puncak indah tersebut dikelilingi beberapa kecamatan, seperti Sianjur Mula-Mula, Harian Boho, dan Pangururan.
Sianjur Mula-Mula dipercaya sebagai perkampungan pertama yang dibangun sang raja. Dari desa inilah suku Batak bermula hingga menyebar ke berbagai daerah. Tidak mengherankan jika Kecamatan Sianjur Mula-Mula menyimpan destinasi wisata sejarah yang amat terkait dengan legenda para raja Batak. Salah satu yang bisa kamu kunjungi ialah Aek Sipitu Dai.

Air Tujuh Rasa, demikianlah sebutan untuk sumber mata air ini. Terletak di Desa Aek Sipitu Dai, sumber mata air di lokasi ini terletak di bawah sebuah pohon rimbun. Uniknya, meskipun berasal dari satu sumber, rasa air di setiap pancuran yang ada di lokasi ini berbeda-beda. Selain itu, mata air ini pun dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Berdasar kisah legenda Batak, mata air ini berawal dari kisah Ompung Langgat Limbong, generasi kedua dari Marga Limbong, yang berusaha mencari sumber air. Karena tak kunjung mendapat air, ia pun berdoa. Setelah itu, ia tancapkan tongkatnya ke tanah. Beharap ada air yang keluar. Namun, ternyata tak ada yang terjadi. Sampai tujuh kali ia menancapkan tongkat, tetap saja air tak datang.
Di tengah rasa haus yang makin menjadi, Ompung Langgat Limbong kembali berdoa memohon air. Tak lama, dari tujuh lubang bekas tancapan tongkatnya mengalir air jernih.

Dalam versi legenda yang lain, kisah Boru Pareme dan pencarian pariban oleh Raja Lontung, anak dari Boru Parema. Pencarian itu malah berakhir di Aek Sipitu Dai yang ada di bawah Puncak Pusuk Buhit. Karena tak memiliki pariban, Raja Lotung berakhir menikahi sang ibu, Boru Pareme.
Dari perkawinan itu, lahirlah tujuh keturunan, yakni Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Aritonang, Simatupang, Nainggolan, dan Siregar.

Kisah legenda itulah yang membuat destinasi unik banyak dikunjungi wisatawan di hari libur maupun hari besar. Banyak yang datang ingin merasakan apakah benar tujuh pancuran di sana punya rasa yang berbeda. Ada juga yang ingin membuktikan khasiat air pancuran ini. Ya, pancuran di Aek Sipitu Dai memang punya khasiat masing-masing. Dari enteng jodoh hingga kelancaran dalam proses persalinan.
Saat bekunjung ke Aek Sipitu Dai, kamu bisa mencicipi air dari setiap pancuran. Dengan begitu, kamu bisa membuktikan apakah rasa airnya berbeda dari air pada umumnya. Selain itu, jangan lewatkan berbincang dengan pemandu yang juga warga sekitar lokasi. Mereka akan dengan senang berkisah seputar keunikan dan legenda yang melingkupi mata air tersebut.

Untuk berkunjung, kamu harus menempuh perjalanan dari Tomok, ibu kota Kabupaten Samosir, sejauh kurang lebih 60 kilometer. Di lokasi, kamu harus membayar retribusi Rp 2.000 untuk masuk ke lokasi pancuran. Tertarik berkunjung? (dinda)
Powered by Blogger.