
Nanik S Deyang Buka Suara Soal Dugaan Korupsi BGN: "Saya Tidak Pernah Ikut Pengadaan, Apa yang Saya Korupsi?"
D'On, JAKARTA – Di tengah mencuatnya dugaan korupsi yang menyeret nama Badan Gizi Nasional (BGN), Kepala BGN yang baru, Nanik S Deyang, akhirnya angkat bicara. Ia membantah keras berbagai tudingan yang mengaitkan dirinya dengan proses pengadaan maupun pengelolaan anggaran di lembaga tersebut.
Dalam pernyataan terbukanya, Nanik menegaskan bahwa selama bertugas di BGN, dirinya tidak pernah terlibat dalam pengambilan keputusan terkait pengadaan barang dan jasa yang kini menjadi sorotan publik dan tengah menjadi perhatian aparat penegak hukum.
Menurut Nanik, posisi yang diembannya saat itu sebagai Wakil Kepala Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi tidak memiliki kewenangan dalam urusan anggaran maupun proyek pengadaan.
"Saya masuk ke BGN itu akhir September. Kalau dibilang orang lama, saya hampir sama barunya dengan yang lain. Sementara pengadaan yang ramai dibicarakan itu berlangsung sekitar bulan Juni. Jadi saya tidak pernah ikut pengadaan, tidak pernah diajak rapat, dan tidak tahu prosesnya," ujar Nanik dalam podcast Total Politik, Sabtu (13/6/2026).
Peran Hanya di Bidang Komunikasi
Nanik menjelaskan bahwa selama berada di BGN, tugas utamanya lebih banyak berkaitan dengan komunikasi publik dan penanganan situasi tertentu yang membutuhkan respons cepat dari lembaga.
Ia menegaskan bahwa ruang lingkup pekerjaannya berada jauh dari urusan anggaran negara maupun proyek-proyek operasional yang kini dipersoalkan.
"Saya baru terlibat kalau ada kejadian luar biasa (KLB). Itu pun bukan investigasi soal uang atau anggaran. Posisi saya di pinggiran sekali dalam struktur kerja BGN," katanya.
Bahkan, Nanik mengaku tidak memiliki akses terhadap berbagai kebijakan internal yang berkaitan dengan operasional lembaga, termasuk penyusunan petunjuk teknis maupun keputusan-keputusan strategis lainnya.
"Mau rapat soal kaus kaki, motor listrik, atau keputusan apa pun, saya tidak tahu. Saya tidak terlibat sama sekali. Seumprit kucing pun saya tidak tahu," tegasnya.
Sidak yang Menjadi Sorotan
Nama Nanik sebelumnya sempat menjadi perhatian publik setelah beberapa kali melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah lokasi yang terkait dengan program-program BGN.
Namun ia menegaskan, langkah tersebut murni dilakukan untuk menunjukkan kondisi riil di lapangan kepada pemerintah dan masyarakat.
Menurutnya, sidak yang dilakukan justru bertujuan untuk memastikan penggunaan anggaran negara berjalan efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat.
"Saya sidak itu ingin menunjukkan kepada Presiden dan semua pihak bahwa ini lho kondisi sebenarnya di lapangan. Kalau semuanya dikasih Rp6 juta tentu negara bisa boncos," ujarnya.
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan berbagai spekulasi di publik, termasuk tudingan bahwa dirinya menjadi pihak yang membocorkan berbagai persoalan internal BGN kepada publik maupun aparat penegak hukum.
Bantah Jadi "Cepu"
Menanggapi tuduhan tersebut, Nanik tidak tinggal diam. Ia membantah keras anggapan bahwa dirinya merupakan pelapor utama dalam kasus yang kini ramai diperbincangkan.
Menurut dia, berbagai dugaan penyimpangan yang sedang diproses hukum sebenarnya sudah lebih dulu menjadi pembahasan luas di media sosial sebelum dirinya berbicara.
"Kalau saya dianggap cepu, kalau pun iya saya cepuin untuk mengamankan uang negara. Salah tidak?" katanya.
Pernyataan itu menunjukkan sikap Nanik yang menganggap pengawasan terhadap penggunaan anggaran publik merupakan bagian dari tanggung jawab moral setiap pejabat negara.
Hubungan dengan Presiden Prabowo
Dalam kesempatan yang sama, Nanik juga membantah berbagai spekulasi yang menyebut dirinya memiliki akses khusus kepada Presiden Prabowo Subianto terkait persoalan yang terjadi di BGN.
Ia mengaku justru sangat jarang berinteraksi langsung dengan Presiden sejak dirinya diangkat sebagai pejabat di lembaga tersebut.
"Tanyakan saja ke Mas Teddy dan Sekretaris Bapak. Sejak saya diangkat jadi wakil, seingat saya belum pernah bertemu Presiden Prabowo. Sekali bertemu pun urusannya soal program becak listrik," ungkapnya.
Pernyataan ini sekaligus menjawab berbagai asumsi yang berkembang bahwa dirinya menjadi saluran langsung pelaporan berbagai persoalan internal BGN kepada kepala negara.
Pernah Singgung Korupsi di Hadapan Presiden
Meski mengaku tidak pernah secara khusus melaporkan dugaan penyimpangan di BGN kepada Presiden, Nanik mengungkapkan bahwa dirinya pernah menyinggung masih maraknya praktik korupsi saat berdiskusi mengenai program sekolah terintegrasi pada Januari 2025.
"Saya hanya bilang, 'Waduh berat Pak, masih banyak yang korup-korup'. Itu saja kalimat saya waktu itu," tuturnya.
Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut bersifat umum dan tidak merujuk secara spesifik kepada kasus tertentu di lingkungan BGN.
"Saya Tidak Terima Uang"
Di akhir penjelasannya, Nanik kembali menekankan bahwa dirinya tidak memiliki akses terhadap pengelolaan anggaran maupun penentuan lokasi program yang kini menjadi perhatian publik.
Menurutnya, urusan operasional berada di bawah kewenangan pejabat lain sehingga tidak ada dasar untuk mengaitkan dirinya dengan dugaan penyimpangan anggaran.
"Operasional itu bagiannya Pak Sony, termasuk soal titik-titik program. Saya tidak menerima uang. Jadi apa yang saya korupsi?" ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi bantahan paling tegas dari Nanik terhadap berbagai tudingan yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir.
Publik Menanti Kejelasan
Kasus yang menyeret nama BGN sendiri hingga kini masih menjadi perhatian publik. Berbagai spekulasi dan tudingan terus bermunculan seiring proses penelusuran yang dilakukan aparat penegak hukum.
Sementara itu, pihak-pihak yang disebut Nanik dalam pernyataannya belum memberikan tanggapan resmi terkait sejumlah klaim yang disampaikan.
Di tengah besarnya anggaran yang dikelola BGN dalam mendukung program strategis pemerintah, masyarakat kini menantikan transparansi dan kejelasan hukum agar polemik yang berkembang tidak semakin menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap lembaga negara yang bertugas mengawal program gizi nasional tersebut.
(B1)
#BadanGiziNasional #Korupsi #Nasional