Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bentrokan TNI dan Brimob di Labuan Bajo Berujung Penikaman, Berawal dari Acara Syukuran hingga Dugaan Pengeroyokan

13 يونيو 2026 | يونيو 13, 2026 WIB Last Updated 2026-06-13T09:55:15Z

Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution. (Antara/Pendam Udayana)



D'On, LABUAN BAJO  — Insiden bentrokan yang melibatkan anggota TNI dan Brimob di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengundang perhatian publik setelah berujung pada penikaman terhadap seorang anggota Brimob. Peristiwa yang terjadi pada Rabu (10/6/2026) malam itu kini masih dalam proses penyelidikan intensif oleh aparat berwenang.


Kodam IX/Udayana mengungkapkan, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, insiden bermula dari sebuah acara syukuran pelantikan anggota Brimob berinisial Bripda JG yang digelar di kawasan Wae Mata, Desa Gorontalo, Kecamatan Komodo.


Tiga anggota Kodim 1630/Manggarai Barat, yakni Pratu IB, Pratu IW, dan Pratu FR, hadir dalam acara tersebut sebagai tamu undangan. Menurut keterangan yang disampaikan Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana, Kolonel Inf Amrizal Nasution, ketiga prajurit TNI itu awalnya diterima dengan baik oleh tuan rumah dan mengikuti kegiatan dalam suasana yang kondusif.


Namun situasi mulai berubah ketika di tengah acara terdengar instruksi yang meminta seluruh anggota Brimob meninggalkan lokasi. Belum diketahui secara pasti alasan instruksi tersebut dikeluarkan.


Sekitar 30 menit setelah meninggalkan lokasi, lebih dari 15 anggota Brimob disebut kembali datang ke tempat berlangsungnya acara. Kehadiran mereka kemudian memicu ketegangan yang berujung pada bentrokan fisik.


Berdasarkan hasil pemeriksaan awal yang dilakukan pihak TNI, sejumlah anggota Brimob diduga menarik salah seorang anggota TNI, Pratu IB, ke arah jalan raya sebelum terjadi aksi pemukulan dan pengeroyokan.


Melihat rekannya menjadi sasaran kekerasan, Pratu IW berupaya memberikan bantuan. Namun upaya tersebut justru membuat dirinya ikut menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah orang yang berada di lokasi.


"Keterangan yang diperoleh dari hasil pemeriksaan menunjukkan adanya dugaan pengeroyokan terhadap dua anggota Kodim oleh sejumlah anggota Brimob yang berada di lokasi," ujar Kolonel Amrizal Nasution dalam keterangannya.


Menurutnya, dugaan pengeroyokan tersebut tidak hanya berdasarkan pengakuan para anggota TNI yang terlibat, tetapi juga diperkuat oleh keterangan sejumlah saksi mata yang mengaku menyaksikan langsung insiden tersebut.


Sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi bahkan disebut sempat berusaha melerai pertikaian agar tidak berkembang menjadi lebih besar. Namun upaya tersebut tidak berhasil menghentikan keributan yang sudah terlanjur memanas.


Dalam kondisi terdesak dan merasa keselamatannya terancam, Pratu IW kemudian melarikan diri menuju rumah orang tuanya yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Dari rumah tersebut, ia mengambil sebilah pisau jenis kerambit sebelum kembali ke lokasi bentrokan.


Berdasarkan berita acara pemeriksaan yang telah dilakukan, Pratu IW mengakui telah melakukan penikaman terhadap seorang anggota Brimob yang terlibat dalam peristiwa tersebut.


Dalam keterangannya kepada penyidik, tindakan itu dilakukan karena dirinya merasa terancam akibat pengeroyokan yang sedang berlangsung dan berusaha menyelamatkan diri.


Tak lama setelah terdengar teriakan bahwa ada korban yang terkena tusukan, situasi yang sebelumnya ricuh mulai mereda. Korban yang mengalami luka akibat penikaman segera dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.


Hingga kini kondisi korban belum dijelaskan secara rinci oleh pihak berwenang, sementara proses pemeriksaan terhadap seluruh pihak yang terlibat masih berlangsung.


Kodam IX/Udayana menegaskan bahwa kronologi yang disampaikan saat ini masih bersifat sementara dan berdasarkan hasil pendalaman awal. Penyidik dari Subdenpom IX/1-1 Ende masih terus mengumpulkan keterangan, memeriksa saksi, serta menelusuri fakta-fakta lain guna mengungkap kronologi utuh peristiwa tersebut.


Investigasi juga diarahkan untuk mengetahui motif sebenarnya di balik bentrokan, siapa saja yang terlibat, serta sejauh mana masing-masing pihak memiliki peran dalam insiden yang mencoreng hubungan antaranggota aparat negara tersebut.


"Kami mengimbau seluruh pihak agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Proses hukum dan investigasi masih berjalan untuk memastikan seluruh fakta terungkap secara objektif dan transparan," tegas Amrizal.


Kodam IX/Udayana memastikan tidak akan memberikan toleransi terhadap setiap bentuk pelanggaran hukum yang dilakukan anggotanya. Jika terbukti bersalah, anggota TNI yang terlibat akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.


Pada saat yang sama, Kodam juga menegaskan bahwa insiden tersebut merupakan tindakan yang bersifat individual dan tidak mencerminkan hubungan kelembagaan antara TNI dan Polri yang selama ini terjalin baik.


Di tengah sorotan publik terhadap kasus ini, koordinasi antara kedua institusi disebut terus dilakukan guna menjaga stabilitas keamanan serta memastikan proses hukum berjalan secara profesional dan transparan.


Peristiwa ini menjadi perhatian luas karena terjadi di Labuan Bajo, salah satu destinasi pariwisata super prioritas nasional yang selama ini dikenal aman dan kondusif. Masyarakat kini menunggu hasil penyelidikan resmi untuk mengetahui fakta sebenarnya di balik bentrokan yang melibatkan dua institusi penegak keamanan negara tersebut.


(B1)


#TNI #Polri #Peristiwa #BentrokTNIPolri

×
Berita Terbaru Update