Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

4 Pelaut Indonesia Disandera Perompak Somalia Selama Dua Bulan, Terjebak di Tengah Kelaparan, Penyakit, dan Ketidakpastian

22 يونيو 2026 | يونيو 22, 2026 WIB Last Updated 2026-06-22T08:36:13Z

4 Pelaut Indonesia Disandera Perompak Somalia Selama Dua Bulan, Terjebak di Tengah Kelaparan, Penyakit, dan Ketidakpastian



D'On, Somalia — Empat warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai awak kapal tanker asing MT Honour 25 kini berada dalam situasi yang mengkhawatirkan setelah dua bulan menjadi sandera kelompok perompak di perairan Somalia. Kondisi mereka dilaporkan semakin kritis akibat menipisnya persediaan makanan, ketiadaan air bersih, serta tekanan psikologis yang terus memburuk setiap harinya.


Tragedi kemanusiaan yang dialami para pelaut Indonesia ini kembali membuka mata dunia terhadap ancaman perompakan yang masih menghantui jalur pelayaran internasional di kawasan Tanduk Afrika.


Harapan para sandera untuk segera dibebaskan pun semakin menipis seiring belum adanya kepastian terkait proses negosiasi maupun langkah konkret penyelamatan.


Situasi memilukan tersebut terungkap melalui sebuah video amatir yang beredar luas. Dalam rekaman itu, para awak kapal tampak duduk berdesakan di dalam ruangan kapal dengan wajah lelah dan penuh kecemasan.


Persediaan logistik yang tersisa terlihat sangat terbatas. Makanan hanya tersisa seadanya, sementara air minum yang tersedia tampak keruh dan tidak layak dikonsumsi.


Di tengah kondisi yang memprihatinkan itu, Kapten MT Honour 25, Azhari Samadikun, yang berasal dari Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, menyampaikan permohonan bantuan secara langsung kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait.


Dengan suara yang terdengar lemah, Azhari menggambarkan betapa sulitnya mereka bertahan hidup di tengah penyanderaan yang tak kunjung berakhir.


"Saya Kapten Honour 25 memohon bantuan segera kepada kami, karena kondisi kami sekarang sangat-sangat kritis. Kami tidak tahu harus bertahan dengan apa," ujarnya.


Menurut Azhari, sebagian awak kapal mulai mengalami gangguan kesehatan serius akibat minimnya asupan makanan dan buruknya kualitas air yang mereka konsumsi setiap hari.


"Sekarang kru saya banyak yang sakit. Mereka mengalami diabetes, infeksi. Banyak yang sudah tidak mampu bertahan sekarang, karena kami makan dengan makanan seadanya dan air kotor," ungkapnya.


Ancaman Ganda: Kelaparan dan Tekanan Mental


Selain ancaman fisik, para sandera juga menghadapi tekanan mental yang sangat berat. Ketidakpastian kapan mereka akan dibebaskan membuat kondisi psikologis para kru terus menurun.


Hari demi hari berlalu tanpa kepastian, sementara komunikasi dengan keluarga di Indonesia semakin terputus.


Beberapa minggu terakhir, para sandera bahkan disebut sudah tidak dapat lagi berkomunikasi secara rutin dengan keluarganya.


Bagi keluarga yang menunggu di kampung halaman, situasi ini menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan.


Orang tua Kapten Azhari yang tinggal di Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, mengaku hanya bisa berharap dan berdoa agar anaknya segera kembali dengan selamat.


Ia mengaku kecewa lantaran hingga kini belum melihat adanya perkembangan signifikan terkait upaya pembebasan para sandera.


Menurutnya, komunikasi antara keluarga dengan perusahaan pemilik kapal pun sangat minim.


"Pihak perusahaan tidak ada yang peduli terhadap orang-orang yang ada di atas kapal. Dan Pemerintah Indonesia juga tidak ada sama sekali negosiasi ke perompak, sehingga anak saya di atas itu terkatung-katung keadaannya dan mengalami stres," katanya.


Komunikasi terakhir dengan Azhari terjadi sekitar tiga pekan lalu. Setelah itu, keluarga kehilangan kontak dan hanya bisa mengetahui kondisi para kru melalui video yang beredar.


Jalur Laut Somalia Masih Menjadi Ancaman


Kasus penyanderaan MT Honour 25 juga menjadi pengingat bahwa perairan Somalia masih menyimpan ancaman serius bagi pelayaran internasional.


Meskipun intensitas perompakan sempat menurun dalam beberapa tahun terakhir berkat patroli internasional, kelompok-kelompok bersenjata masih beroperasi dan memanfaatkan kapal-kapal yang melintas di salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia tersebut.


Kapal MT Honour 25 diketahui berbendera Uni Emirat Arab dan sedang beroperasi di kawasan perairan yang rawan aksi pembajakan.


Namun hingga kini, belum ada keterangan resmi yang menjelaskan secara detail kronologi penyanderaan, identitas lengkap para perompak, maupun perkembangan proses negosiasi pembebasan.


Desakan kepada Pemerintah Indonesia


Keluarga besar para pelaut mendesak pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah diplomatik yang lebih agresif dan terukur.


Mereka berharap Presiden Prabowo Subianto, kementerian terkait, hingga DPR RI dapat berkoordinasi dengan pemerintah negara-negara yang memiliki pengaruh di kawasan tersebut untuk mempercepat proses pembebasan para sandera.


Pengamat maritim juga menilai bahwa keselamatan WNI di luar negeri harus menjadi prioritas utama, terutama bagi para pekerja sektor pelayaran yang bertugas di jalur internasional berisiko tinggi.


Setiap jam yang berlalu tanpa kepastian berpotensi memperburuk kondisi kesehatan dan keselamatan para sandera.


Di tengah luasnya Samudra Hindia dan jauhnya jarak dari tanah air, empat pelaut Indonesia kini hanya bergantung pada satu harapan: negara hadir untuk membawa mereka pulang dengan selamat sebelum semuanya terlambat.


(B1)


#Kriminal #Internasional #Perompak #Somalia

×
Berita Terbaru Update