Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tragedi PETI Sijunjung: Sudah Diperingatkan, Tambang Ilegal Tetap Beroperasi, 9 Penambang Tewas Tertimbun Longsor

15 مايو 2026 | مايو 15, 2026 WIB Last Updated 2026-05-15T08:21:17Z

Tragedi PETI Sijunjung: Sudah Diperingatkan, Tambang Ilegal Tetap Beroperasi, 9 Penambang Tewas Tertimbun Longsor



D'On, Sijunjung - Aktivitas tambang emas tanpa izin (PETI) di Nagari Guguak, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, kembali memakan korban jiwa. Meski telah diperingatkan berkali-kali untuk menghentikan operasi akibat cuaca ekstrem dan meningkatnya debit sungai, para penambang tetap nekat bekerja hingga akhirnya longsor maut menewaskan sembilan orang, Kamis (14/5/2026) siang.


Tragedi memilukan itu terjadi di kawasan Kampung Sintuk, Jorong Koto Guguak, saat para pekerja sedang melakukan penambangan emas ilegal dengan metode dompeng di bawah tebing perbukitan dekat aliran sungai. Tanah yang labil setelah diguyur hujan deras beberapa hari terakhir tiba-tiba runtuh dan menghantam para pekerja yang berada di lubang tambang.


Wali Nagari Guguak, Zainal, mengungkapkan pihak nagari sebenarnya sudah berulang kali mengingatkan masyarakat agar menghentikan sementara aktivitas tambang karena kondisi sangat berbahaya. Bahkan pada Kamis pagi, beberapa jam sebelum maut datang, peringatan itu kembali disampaikan langsung kepada para penambang.


“Kami sudah mengingatkan agar aktivitas tambang dihentikan dulu karena cuaca tidak memungkinkan. Tadi pagi juga sudah saya sampaikan langsung, tetapi tidak diindahkan,” ujar Zainal.


Menurutnya, lokasi tambang ilegal tersebut memang dikenal sangat rawan longsor. Area itu berada di titik pertemuan tiga sungai besar, yakni Batang Kuantan, Batang Ombilin, dan Batang Sinamar. Saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut, debit air meningkat drastis hingga membuat struktur tebing menjadi rapuh.


“Air Batang Ombilin dan Batang Sinamar sedang besar dan masuk ke Batang Kuantan. Kondisi itu membuat tebing menjadi labil,” katanya.


Saat longsor terjadi sekitar pukul 12.00 WIB, para pekerja diduga tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diri. Material tanah dan batu langsung menimbun area tambang.


Warga bersama tim gabungan kemudian melakukan pencarian secara manual dengan kondisi medan berat. Evakuasi berlangsung sejak selepas salat Dzuhur hingga menjelang Maghrib.


“Evakuasi dimulai setelah Dzuhur dan selesai sekitar pukul 18.15 WIB,” jelas Zainal.


Seluruh korban yang ditemukan dinyatakan meninggal dunia dan dievakuasi ke Puskesmas Tanjung Ampalu sebelum diserahkan kepada keluarga masing-masing.


Berikut identitas korban meninggal dunia yang berhasil didata:

  1. Ujang Kandar (40), warga Jorong Padang Lalang, Nagari Guguak
  2. Haris (23), warga Jorong Koto Guguak, Nagari Guguak
  3. Atan (20), warga Jorong Koto Guguak, Nagari Guguak
  4. Baim (17), warga Jorong Koto Guguak, Nagari Guguak
  5. Acai (43), warga Jorong Padang Lalang, Nagari Guguak
  6. Ditol (40), warga Nagari Tanjung, Kecamatan Koto VII
  7. Madi (24), warga Jorong Koto, Nagari Padang Laweh
  8. Diok (22), warga Jorong Padang Lalang, Nagari Guguak
  9. Satu korban lainnya masih dalam proses pendataan petugas.


Wali Nagari Padang Laweh, Jouharuddin, menegaskan lokasi tambang ilegal tersebut berada di wilayah Nagari Guguak, meski akses menuju lokasi melewati kawasan Padang Laweh.


Ia mengaku mendapat informasi kejadian sekitar pukul 13.30 WIB dari Bhabinkamtibmas saat berada di Kota Padang. Setelah itu, perangkat nagari dan anggota Linmas langsung diterjunkan membantu proses pencarian korban.


Menurut Jouharuddin, dua pekerja berhasil selamat karena berada di luar titik longsor saat kejadian. Kedua orang itulah yang pertama kali memberi kabar kepada warga mengenai musibah tersebut.


“Ada dua orang yang selamat karena tidak berada di titik longsor. Mereka yang pertama memberi tahu masyarakat,” katanya.


Ia juga membenarkan satu korban bernama Madi (24) merupakan warga Nagari Padang Laweh yang bekerja di lokasi tambang karena memiliki hubungan keluarga dengan warga Guguak.


Dari keterangan saksi mata, jumlah pekerja di lokasi saat longsor diperkirakan mencapai 12 orang. Hingga Kamis malam, proses pencarian masih terus dilakukan menggunakan alat manual dan alat berat.


Saksi mata bernama Iswanto mengatakan hujan deras beberapa hari terakhir membuat kondisi tanah sangat rapuh. Namun aktivitas tambang tetap berjalan seperti biasa.


“Curah hujan tinggi beberapa hari terakhir. Tiba-tiba tebing runtuh dan menimbun pekerja yang berada di bawah,” ujarnya.


Tragedi ini kembali membuka kenyataan pahit bahwa praktik PETI masih marak di sejumlah wilayah Sumatera Barat. Meski berulang kali memakan korban jiwa dan merusak lingkungan, aktivitas tambang ilegal tetap berlangsung seolah tanpa pengawasan ketat.


Kini masyarakat menunggu langkah tegas pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menghentikan praktik tambang ilegal yang terus mengancam nyawa warga.


(DP)


#PETI #Daerah #Peristiwa #KabupatenSijunjung

×
Berita Terbaru Update