Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tragedi PETI Sijunjung: 9 Penambang Tewas Tertimbun Longsor di Pertemuan Tiga Sungai

15 مايو 2026 | مايو 15, 2026 WIB Last Updated 2026-05-15T02:13:09Z

Tragedi PETI Sijunjung: 9 Penambang Tewas Tertimbun Longsor di Pertemuan Tiga Sungai



D'On, Sijunjung - Tragedi maut kembali terjadi di lokasi pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Sebanyak sembilan penambang dilaporkan meninggal dunia setelah tertimbun longsor saat melakukan aktivitas dompeng di kawasan Kampung Sintuk, Jorong Koto Guguak, Nagari Guguak, Kecamatan Koto VII, Kamis (14/5/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.


Peristiwa memilukan itu terjadi di tengah kondisi cuaca ekstrem yang beberapa hari terakhir melanda wilayah Sijunjung. Lokasi tambang ilegal yang berada di kawasan pertemuan tiga aliran sungai besar diduga menjadi faktor utama tingginya risiko longsor yang akhirnya merenggut nyawa para pekerja tambang.


Menurut informasi yang dihimpun di lapangan, para korban saat itu tengah melakukan aktivitas penambangan emas menggunakan mesin dompeng di bantaran sungai. Aktivitas berlangsung seperti biasa sejak pagi hari, meski hujan deras diketahui terus mengguyur kawasan hulu dalam beberapa hari terakhir.


Namun, tidak lama setelah waktu Dzuhur, suasana mendadak berubah mencekam. Tebing tanah di sekitar lokasi tambang tiba-tiba runtuh disertai material lumpur, batu, dan kayu yang langsung menghantam area penambangan.


Dalam hitungan detik, seluruh pekerja yang berada di lokasi tertimbun longsoran tanpa sempat menyelamatkan diri.


Wali Nagari Guguak, Zainal, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut terdapat sembilan pekerja tambang yang tertimbun material longsor saat bekerja di lokasi tambang emas ilegal tersebut.


“Yang sedang bekerja dan tertimbun ada sembilan orang. Lokasinya di Jorong Koto Guguak, tepatnya di Kampung Sintuk,” ujar Zainal saat dikonfirmasi, Kamis malam.


Begitu kabar longsor menyebar, warga sekitar langsung berbondong-bondong menuju lokasi untuk melakukan pencarian. Dengan menggunakan alat seadanya, masyarakat bersama keluarga korban menggali timbunan tanah dan bebatuan demi menemukan para korban.


Proses evakuasi berlangsung dramatis selama kurang lebih enam jam. Medan yang sulit, kondisi tanah yang masih labil, serta debit sungai yang terus meningkat membuat pencarian berlangsung penuh risiko.


“Evakuasi dilakukan sampai menjelang Maghrib. Warga bekerja bersama-sama mencari korban karena akses menuju lokasi juga cukup sulit,” kata Zainal.


Satu per satu korban akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Korban pertama yang ditemukan adalah Ujang Kandar (40). Jenazahnya langsung dibawa pihak keluarga ke rumah duka untuk dimakamkan.


Sementara delapan korban lainnya juga berhasil dievakuasi beberapa jam kemudian dan dipulangkan ke rumah masing-masing.


Adapun sembilan korban meninggal dunia dalam tragedi tersebut yakni Ujang Kandar (40), Haris (23), Atan (20), Baim (17), Acai (43), Marsel Buyuik (23), Ditol (40), Madi (24), dan Diok (22).


Sebagian besar korban diketahui masih berusia muda dan selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas tambang emas ilegal di kawasan tersebut.


Zainal menjelaskan, sebelum kejadian sebenarnya pihak nagari telah berulang kali mengingatkan masyarakat agar menghentikan sementara aktivitas dompeng karena cuaca buruk terus terjadi dalam beberapa hari terakhir.


Tingginya curah hujan membuat debit sungai meningkat drastis dan kondisi tanah di sekitar lokasi tambang menjadi sangat labil.


“Terkait kondisi cuaca, kami dari pihak nagari sudah menyampaikan untuk menahan kegiatan tambang, bahkan tadi pagi juga sudah saya sampaikan kepada para penambang. Tapi tetap dilakukan,” ungkapnya.


Lokasi tambang diketahui berada di titik pertemuan tiga aliran sungai besar, yakni Batang Kuantan, Batang Ombilin, dan Batang Sinamar. Saat hujan deras mengguyur kawasan hulu, arus sungai membesar dan menggerus tebing di sekitar lokasi tambang.


Kondisi itu membuat kawasan penambangan menjadi sangat rawan longsor sewaktu-waktu.


“Air Batang Ombilin dan Batang Sinamar sedang besar, lalu masuk ke Batang Kuantan. Kondisi itu membuat kawasan tambang menjadi sangat berbahaya,” jelas Zainal.


Pasca kejadian, aktivitas tambang emas ilegal di Kampung Sintuk langsung dihentikan sementara guna mengantisipasi longsor susulan maupun munculnya korban baru.


Meski demikian, aktivitas PETI di wilayah tersebut diakui telah berlangsung lama dan menjadi sumber penghasilan utama sebagian masyarakat setempat.


Minimnya lapangan pekerjaan alternatif membuat banyak warga tetap nekat bekerja di tambang ilegal meski menyadari tingginya risiko keselamatan.


“Memang itu mata pencarian utama masyarakat sekarang. Mau apa dikata,” ucap Zainal dengan nada prihatin.


Sementara itu, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sijunjung, Satria Zali, mengaku pihaknya tidak menerima laporan resmi terkait peristiwa longsor tambang tersebut.


“Kepada kami di BPBD Sijunjung tidak ada laporan langsung. Kami hanya mengetahui informasi dari grup WhatsApp,” kata Satria.


Ia menyebut aktivitas tambang emas ilegal di sejumlah wilayah Kabupaten Sijunjung memang masih marak berlangsung tanpa pengawasan ketat dan sering kali tidak terpantau pemerintah daerah maupun aparat terkait.


Tragedi di Kampung Sintuk kembali membuka fakta kelam tentang maraknya pertambangan emas tanpa izin di Sumatera Barat. Selain merusak lingkungan, aktivitas tambang ilegal juga kerap memakan korban jiwa akibat minimnya standar keselamatan kerja dan tingginya risiko bencana alam.


Peristiwa ini pun menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah dan aparat penegak hukum agar mengambil langkah tegas dalam penanganan aktivitas PETI yang terus berulang di berbagai daerah. Jika tidak ditangani serius, tragedi serupa dikhawatirkan akan kembali terjadi dan merenggut lebih banyak nyawa.


(DP)


#Peristiwa #Daerah #KabupatenSijunjung #PETI

×
Berita Terbaru Update