-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Nestapa Penjual Es Kue Jadul: Dituduh Jual Es Spons, Mengaku Dipukul Aparat Saat Rumah Ambruk

27 يناير 2026 | يناير 27, 2026 WIB Last Updated 2026-01-27T16:35:20Z

Suderajat, pedagang es kue jadul, mengaku menjadi korban fitnah dan penganiayaan saat berjualan di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia dituduh menjual es kue berbahan spons, tudingan yang kemudian berujung pada tindakan kekerasan oleh oknum aparat.



D'On, Bogor - Nasib pilu menimpa Suderajat (55), seorang pedagang es kue jadul yang telah puluhan tahun mengais rezeki secara sederhana di Desa Rawa Panjang, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Di saat hidupnya sedang diuji oleh ambruknya rumah yang ia tempati bersama keluarga, Suderajat justru menghadapi cobaan lain yang tak kalah berat: tudingan menjual es berbahan spons dan dugaan tindak kekerasan yang ia alami.


Peristiwa ini menyita perhatian publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Suderajat dituding menjual es krim berbahan spons tuduhan yang langsung menuai reaksi keras dari warga sekitar yang selama ini mengenalnya sebagai pedagang jujur dan bersahaja.


Ketua RW 06 Desa Rawa Panjang, Ali Akbar yang akrab disapa Boim menyampaikan keprihatinannya atas musibah beruntun yang menimpa warganya tersebut. Ia menegaskan bahwa tudingan terhadap Suderajat sama sekali tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

 

“Saya sebagai pengurus lingkungan merasa sangat kasihan, Pak. Tuduhan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Suderajat ini benar-benar mencari nafkah secara halal untuk menghidupi keluarganya,” ujar Ali Akbar, Selasa (27/1/2026).


30 Tahun Berjualan, Tak Pernah Bermasalah


Menurut Ali Akbar, Suderajat telah berjualan es krim jadul selama kurang lebih 30 tahun. Selama itu pula, ia dikenal warga sebagai sosok pekerja keras yang tidak pernah tersangkut masalah, apalagi melakukan kecurangan terhadap pembeli.


Setiap hari, Suderajat berkeliling menjajakan es kue sederhana es yang akrab dengan kenangan masa kecil banyak warga. Dari hasil jualan itulah ia menghidupi istri dan lima orang anaknya.

 

“Selama puluhan tahun dia jualan, enggak pernah ada komplain. Warga di sini tahu betul es yang dijual memang es kue, bukan spons,” tegas Ali Akbar.


Ia pun menyayangkan adanya pihak-pihak yang langsung menuduh tanpa melakukan pemeriksaan yang menyeluruh. Padahal, menurutnya, es yang dijual Suderajat telah diperiksa dan terbukti merupakan es kue asli.

 

“Harusnya diperiksa dulu keasliannya. Faktanya, es itu benar-benar es kue. Bahkan sampai dibawa ke tempat produksinya, hasilnya tetap sama: es kue,” katanya.


Pengakuan Dipukul dan Ditekan


Di tengah polemik tersebut, muncul dugaan bahwa Suderajat mengalami tindakan kekerasan. Ali Akbar mengaku memperoleh informasi itu langsung dari pengakuan korban, meskipun ia tidak menyaksikan kejadian secara langsung.

 

“Pengakuan dia sih katanya dipukul. Mungkin karena keabsahannya belum jelas, jadi hari itu dia ditekan,” ujar Ali Akbar.


Pengakuan ini menambah keprihatinan warga sekitar. Mereka menilai, jika benar terjadi kekerasan, maka hal tersebut sangat disayangkan dan mencederai rasa keadilan, terlebih terhadap seorang pedagang kecil yang sedang tertimpa musibah.


Rumah Ambruk Tak Terkait Kasus Viral


Ali Akbar juga meluruskan kabar simpang siur terkait rumah Suderajat yang tengah diperbaiki. Ia menegaskan bahwa perbaikan rumah tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan kasus viral tudingan es spons.

 

“Ini perlu diluruskan. Bantuan rumah sudah ada sebelum kejadian viral. Viralnya hari Sabtu, tapi bantuan rumah ini sudah turun sejak Kamis,” jelasnya.


Menurutnya, rumah Suderajat ambruk murni karena kondisi bangunan yang sudah tua dan tidak layak huni. Perbaikan rumah tersebut bersumber dari dana desa, sementara bantuan tambahan berupa kebutuhan pokok dan selimut datang dari pihak kecamatan.

 

“Bantuan perbaikan rumah dari dana desa karena bangunannya memang sudah tua dan ambruk,” katanya.


Harapan Akan Keadilan dan Kepedulian


Kini, Suderajat dan keluarganya masih berjuang untuk bangkit dari musibah yang menimpa. Di tengah keterbatasan, dukungan warga dan pemerintah setempat menjadi secercah harapan agar ia dapat kembali menjalani hidup dengan tenang tanpa stigma yang berkepanjangan.


Ali Akbar berharap persoalan ini dapat ditangani secara adil dan bijaksana, serta menjadi pembelajaran agar tidak mudah menghakimi masyarakat kecil tanpa dasar yang jelas.

 

“Alhamdulillah, masih ada kepedulian untuk warga kami yang sedang kena musibah ini. Kami berharap tidak ada lagi stigma dan masalah ini bisa diselesaikan dengan adil,” pungkasnya.


(B1)


#Viral #PenjualEsJadul #Peristiwa

×
Berita Terbaru Update