-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KSAL Benarkan 23 Prajurit Marinir TNI AL Tertimbun Longsor di Cisarua, Empat Ditemukan Meninggal

26 يناير 2026 | يناير 26, 2026 WIB Last Updated 2026-01-26T10:12:36Z

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (26/1/2026).



D'On, Jakarta – Tragedi bencana alam menimpa prajurit TNI Angkatan Laut yang tengah menjalani latihan di wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali membenarkan bahwa sebanyak 23 anggota Marinir TNI AL tertimbun material longsor, akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut selama hampir dua hari berturut-turut.


Pernyataan itu disampaikan KSAL saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (26/1/2026). Ali mengungkapkan bahwa hingga kini, empat prajurit telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara 19 personel lainnya masih dalam proses pencarian intensif.

 

“Saya menyampaikan terkait kejadian bencana alam yang terjadi di Jawa Barat, tepatnya di Desa Soreang. Memang terdapat 23 anggota Marinir yang tertimbun longsor,” ujar Ali.


Evakuasi Terhambat Cuaca dan Akses Lokasi


KSAL menjelaskan bahwa upaya evakuasi menghadapi tantangan besar. Curah hujan yang masih tinggi serta akses jalan yang sempit dan rusak membuat alat berat belum bisa menjangkau titik longsor. Kondisi tanah yang labil juga meningkatkan risiko longsor susulan.

 

“Alat berat memang belum bisa masuk karena kondisi cuaca dan jalan yang kecil. Tapi pencarian tetap kami lakukan dengan teknologi,” jelasnya.


Sebagai alternatif, TNI AL mengerahkan drone pemantau udara, kamera thermal, serta anjing pelacak (K9) untuk mendeteksi keberadaan korban yang tertimbun material tanah dan bebatuan. Tim SAR gabungan terus bekerja siang dan malam dengan tetap mengutamakan keselamatan personel di lapangan.


Sedang Jalani Latihan Penugasan Perbatasan RI–PNG


Ali menerangkan bahwa para prajurit Marinir tersebut sedang mengikuti latihan kesiapan tugas, sebagai bagian dari persiapan penugasan pengamanan perbatasan Republik Indonesia–Papua Nugini (RI–PNG). Wilayah Cisarua dipilih sebagai lokasi latihan karena karakter medan yang menantang dan menyerupai area penugasan sesungguhnya.

 

“Memang mereka sedang melaksanakan latihan untuk dikirim melaksanakan PAM perbatasan RI–PNG. Latihan dilaksanakan di sana,” katanya.


Latihan ini melibatkan aktivitas lapangan di area perbukitan dan pemukiman desa, yang pada saat kejadian juga terdampak longsor.


Hujan Lebat Diduga Jadi Pemicu Longsor


KSAL menduga intensitas hujan ekstrem menjadi faktor utama penyebab bencana. Menurutnya, hujan deras mengguyur kawasan tersebut hampir selama dua malam tanpa henti, sehingga membuat struktur tanah menjadi jenuh dan mudah runtuh.

 

“Kondisinya hujan lebat hampir dua malam terus-menerus. Mungkin itu yang mengakibatkan terjadinya longsor. Longsor ini juga menimpa penduduk satu desa, dan kebetulan prajurit kita sedang berlatih di sana,” ungkap Ali.


Selain prajurit TNI AL, sejumlah warga desa juga dilaporkan terdampak, meski hingga kini belum ada laporan resmi terkait jumlah korban dari kalangan sipil.


Duka Mendalam dan Komitmen Pencarian


KSAL menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya prajurit Marinir dalam peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa seluruh jajaran TNI AL berkomitmen penuh untuk menemukan seluruh korban, sekaligus memastikan keluarga prajurit mendapatkan perhatian dan pendampingan maksimal.


Operasi pencarian akan terus dilanjutkan hingga seluruh personel ditemukan, dengan evaluasi kondisi cuaca dan medan dilakukan secara berkala.


Tragedi ini kembali menjadi pengingat keras akan tingginya risiko yang dihadapi prajurit TNI, bahkan di luar medan pertempuran, demi kesiapan menjaga kedaulatan negara.


(T)


#TNI #Peristiwa #LongsorCisarua

×
Berita Terbaru Update