Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Tengah Luruhnya Rumah dan Air Mata, Harapan Itu Datang Bersama Reses Wakil Rakyat

Wakil Ketua DPRD Kota Padang Mastilizal Aye Lakukan Reses di Kampung Lapai 

D'On, Padang
- Banjir bandang dan longsor belum sepenuhnya reda dari ingatan warga Kota Padang. Lumpur masih menempel di dinding rumah, sisa kayu dan bebatuan masih berserakan di halaman, sementara sejumlah warga masih sibuk membersihkan puing-puing yang tersisa. Namun di tengah suasana duka itu, secercah harapan muncul ketika Wakil Ketua DPRD Kota Padang, Mastilizal Aye, datang menyapa mereka secara langsung melalui kegiatan reses masa sidang II Tahun 2026 di Kelurahan Kampung Lapai, Kecamatan Nanggalo, Minggu (4/1).

Reses kali ini tidak sekadar agenda rutin menyerap aspirasi. Ia hadir sebagai ruang perjumpaan emosional antara warga yang sedang berduka dan wakil rakyat yang datang membawa pesan penguatan. Langit mendung, tikar sederhana dibentang, kursi plastik tersusun rapi, dan wajah-wajah lelah menanti kepastian: apa yang bisa dilakukan setelah bencana ini?

Berduka Bersama, Bangkit Bersama

Di hadapan camat, lurah, ninik mamak, tokoh masyarakat, unsur LPM, Bundo Kanduang, pengurus RT/RW, serta relawan PMI Kota Padang, Mastilizal Aye membuka sambutannya dengan nada yang pelan namun tegas. Ia tidak berbicara dengan bahasa formalistis, melainkan dengan empati.

“Atas nama Anggota DPRD Kota Padang, kami turut berduka atas musibah ini. Namun kita tidak boleh larut dalam kesedihan. Tahun 2026 adalah momentum untuk bangkit bersama. Bersatu kita kuat, bersama kita bisa melewati cobaan ini,” ujarnya.

Ucapan itu disambut anggukan warga. Sebagian masih terlihat berkaca-kaca mengingat rumah yang hanyut, perabot yang hilang, atau akses jalan yang putus. Namun bagi mereka, kehadiran langsung wakil rakyat sudah menjadi semangat tersendiri: mereka tidak sendirian.

Reses yang Berubah Menjadi Ruang Curhat Bencana

Tidak seperti reses biasanya yang penuh tanya jawab prosedural, reses kali ini berubah menjadi ruang curhat bencana. Warga satu per satu menyampaikan persoalan:

  • sungai yang perlu dikeruk
  • drainase yang tak lagi berfungsi
  • toilet rumah yang rusak diterjang banjir
  • jalan menuju Pulau Talena yang terputus
  • aula serbaguna yang kini memprihatinkan
  • hingga jalan menuju mushalla yang perlu segera diperbaiki menjelang Ramadhan

Mastilizal Aye mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia mencatat, sesekali ia berdiri menghampiri warga yang bersuara lirih.

“Silakan bapak dan ibu sampaikan usulan langsung. Kebutuhan mendesak akan kita upayakan segera direalisasikan, sementara usulan berskala besar akan diperjuangkan melalui mekanisme dan pengajuan proposal,” tegasnya.

Di ujung kalimatnya, ada janji, tetapi bukan janji kosong. Ia membedakan mana yang bisa dilakukan segera dan mana yang menempuh proses panjang sebuah transparansi yang justru membuat warga merasa dihargai.

PMI: Bertarung Tanpa Anggaran Tetap

Salah satu suara penting datang dari Ketua PMI Kota Padang, Zulhardi Z Latif. Dengan nada jujur, ia mengungkapkan bagaimana PMI bekerja di tengah bencana nyaris tanpa anggaran khusus.

“PMI tidak memiliki anggaran khusus dan hanya mengandalkan relawan saat bencana. Dukungan anggaran sangat kami harapkan, setidaknya untuk Kecamatan Nanggalo,” ucapnya.

Di balik kalimat itu, tergambar perjuangan relawan yang bekerja siang-malam, mengangkat korban, membagikan bantuan, dan menenangkan warga, meski fasilitas terbatas.

Pemerintah Setempat: Jangan Ada yang Terhambat

Camat Nanggalo, Amrizal Rengganis, menegaskan bahwa masa bencana adalah masa darurat, sehingga tidak boleh ada layanan publik yang terhenti.

“Segera laporkan persoalan administrasi atau kebutuhan layanan kesehatan darurat. Tidak boleh ada yang terhambat,” katanya.

Bagi warga yang kehilangan dokumen penting, sakit akibat bencana, atau membutuhkan akses cepat, pernyataan itu menjadi jaminan moral.

Janji Kecil yang Bermakna Besar

Di penghujung acara, Mastilizal Aye kembali menguatkan komitmennya.

Usulan yang membutuhkan anggaran besar memang harus melewati mekanisme panjang. Tetapi ada satu hal yang membuat warga tersenyum perbaikan jalan menuju mushalla.

“Usulan yang membutuhkan anggaran besar akan ditempuh melalui mekanisme, namun perbaikan jalan mushalla insya Allah akan direalisasikan dalam waktu dekat,” tutupnya.

Kalimat itu disambut doa dan harapan. Jalan mushalla bukan hanya akses fisik; ia adalah akses spiritual, terlebih menjelang Ramadhan. Di situlah harapan warga bergantung.

Lebih dari Sekadar Reses

Reses ini tidak hanya tentang serapan aspirasi. Ia adalah tentang:

  • kehadiran di saat sulit
  • kepedulian yang terasa nyata
  • komunikasi dua arah tanpa jarak
  • dan keyakinan bahwa bangkit itu mungkin

Banjir dan longsor mungkin meruntuhkan rumah, namun tidak meruntuhkan semangat. Di Kampung Lapai hari itu, yang mengalir bukan hanya air sungai melainkan harapan.

(Mond)

#Padang #DPRDPadang