
Presiden Prabowo Subianto mengunjungi posko pengungsian korban terdampak banjir di Padang Pariaman, Sumatra Barat, Senin (1/12/2025) (Biro Pers Istana)
D'On, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menegaskan kehadiran negara secara nyata dalam penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra. Pemerintah, kata Prabowo, telah mengerahkan lebih dari 50.000 personel TNI dan Polri ke daerah terdampak sebagai bentuk respons cepat dan masif menghadapi situasi darurat kemanusiaan.
Pernyataan tegas itu disampaikan Prabowo saat memimpin sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025), yang dihadiri para menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih.
“Kita sudah mengerahkan lebih dari 50.000 TNI dan Polri. Itu setara dengan 50 batalion yang sudah berada di daerah terdampak. Jadi kalau ada yang mengatakan negara tidak hadir, ya kita waspada saja. Bisa jadi ada unsur-unsur yang memang punya agenda lain,” ujar Prabowo dengan nada serius.
Presiden menekankan bahwa penanganan bencana bukan sekadar retorika, melainkan kerja nyata di lapangan yang melibatkan ribuan personel, peralatan berat, serta dukungan logistik berskala besar.
Operasi Udara dan Darat Digelar Serentak
Selain pengerahan pasukan, Prabowo mengungkapkan pemerintah juga mengoperasikan lebih dari 60 unit helikopter serta belasan pesawat untuk mendukung distribusi logistik, evakuasi korban, dan pembukaan wilayah yang terisolasi akibat putusnya akses darat.
Operasi udara ini menjadi krusial mengingat banyak daerah di Sumatra yang terdampak banjir dan longsor berada di wilayah perbukitan dan pedalaman, dengan kondisi jalan rusak parah atau tertimbun material longsoran.
Hunian Tetap dan Sementara Segera Dibangun
Dalam sidang tersebut, Presiden juga menginstruksikan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman serta Menteri Pekerjaan Umum untuk segera membangun hunian sementara dan hunian tetap bagi warga terdampak.
“Pembangunan hunian segera dilakukan. Sekitar 2.000 rumah akan segera mulai dibangun,” tegas Prabowo.
Langkah ini, menurut Presiden, penting untuk memastikan para korban tidak berlarut-larut tinggal di pengungsian dan dapat kembali menjalani kehidupan secara lebih layak.
1.000 Alat Berat dan 50 Jembatan Bailey
Dalam upaya percepatan pemulihan infrastruktur, pemerintah telah mengerahkan sekitar 1.000 unit alat berat, terdiri dari truk, ekskavator, tangki air bersih dan air minum, hingga fasilitas pendukung seperti toilet portable.
Tak hanya itu, pemerintah juga membangun 50 unit Jembatan Bailey untuk menggantikan jembatan yang rusak atau hanyut diterjang banjir.
“Sebanyak 50 jembatan Bailey sedang kita kerjakan, dan 7 di antaranya sudah selesai dibangun,” ungkap Prabowo.
Keberadaan jembatan darurat ini diharapkan mampu memulihkan konektivitas antarwilayah, memperlancar distribusi bantuan, serta membuka kembali akses ekonomi masyarakat.
Presiden Minta Publik Bersabar
Prabowo secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila proses pemulihan pascabencana tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Ia menegaskan bahwa penanganan bencana berskala besar membutuhkan waktu, tenaga, dan kehati-hatian.
“Saya sudah minta maaf. Saya tidak punya tongkat Nabi Musa. Kita tidak bisa selesaikan dalam 3 hari, 4 hari, atau 5 hari. Mungkin perlu 2 sampai 3 bulan sampai aktivitas benar-benar normal kembali,” ujarnya jujur.
Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan realistis pemerintah dalam menghadapi kompleksitas bencana alam yang terjadi secara luas dan simultan.
Listrik Berangsur Pulih, Keselamatan Jadi Prioritas
Di sektor kelistrikan, Presiden mengungkapkan bahwa sebagian besar wilayah terdampak sudah kembali dialiri listrik. Namun demikian, pemulihan belum bisa sepenuhnya dilakukan karena masih terdapat risiko keselamatan.
“Masih ada kabel-kabel yang terendam air. Itu berbahaya. Kalau tidak hati-hati, bisa mengakibatkan korban jiwa,” jelas Prabowo.
Ia pun memberikan apresiasi kepada para petugas PLN dan Kementerian PUPR yang tetap bekerja di lapangan dalam kondisi ekstrem dan penuh risiko.
“Mereka bekerja sangat keras, menghadapi kondisi yang sangat menantang, dan sudah berada di lokasi belasan hari,” pungkas Presiden.
Negara Hadir, Fokus pada Keselamatan Rakyat
Melalui paparan tersebut, Prabowo menegaskan bahwa seluruh langkah pemerintah berorientasi pada keselamatan rakyat dan pemulihan kehidupan masyarakat terdampak. Ia meminta semua pihak menjaga empati, tidak membangun narasi yang menyesatkan, serta mendukung upaya kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Penanganan bencana Sumatra, menurut Presiden, adalah ujian nyata bagi soliditas negara dalam melindungi rakyatnya di saat paling sulit.
(L6)
#PrabowoSubianto #Nasional #TNI #Polri #BencanaSumatera