Stasiun TV Junta Siarkan Foto Wajah Demonstran Luka Lebam Seusai Disiksa Militer

D'On, Myanmar,- Sebuah kelompok pemantau di Myanmar mendesak tindakan internasional, mengungkapkan kekhawatiran atas penyiksaan dan pembunuhan demonstran anti-kudeta setelah militer menayangkan foto enam tahanan yang terluka karena penyiksaan.

Dalam gambar yang ditayangkan televisi militer, MRTV pada Minggu malam, wajah empat laki-laki dan dua perempuan tampak berdarah dan lebam. Salah satu perempuan mengalami rahang bengkak.


“Junta ini menggunakan penyiksaan sebagai kebijakannya,” kata Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) di Twitter, dikutip dari Al Jazeera, Senin (19/4).

“Jika komunitas internasional tidak bertindak, penyiksaan dan kematian, jelas akan terus berlanjut.”

Menurut AAPP, pasukan keamanan telah membunuh 737 orang sejak kudeta 1 Februari dan sekitar 3.229 orang ditangkap di seluruh negeri.

“AAPP khawatir dengan semua tahanan, khususnya yang berada di lokasi yang dirahasiakan,” lanjutnya.

Enam tahanan tersebut ditangkap pada Minggu di Yankin, pinggir kota Yangon, menurut wartawan Al Jazeera, Tony Cheng. Mereka dituduh terlibat dalam pengeboman pada Sabtu pukul 14.00 di luar kantor pemerintah di Yankin di mana tiga tentara dilaporkan terluka. Tapi menurut Cheng, yang melaporkan dari Bangkok, Thailand, militer tidak memberikan informasi lebih lanjut terkait pengeboman tersebut.

“Dan kita melihat pemerintah militer melontarkan tuduhan kejahatan palsu kepada warga. Kita juga melihat mereka menggunakan taktik ini sejak kudeta militer, menampilkan orang-orang dalam penjara, mungkin untuk mencegah mereka yang masih keluar dan melakukan demo,” jelas Cheng.

'Kami bisa lebih kejam'

Kim Jolliffe, seorang peneliti sipil dan hubungan militer Myanmar, menyampaikan keputusan militer untuk menayangkan gambar tahanan itu bertujuan untuk menumbuhkan ketakutan.

“Strategi junta Myanmar dari awal sampai akhir berdasar pada langkah pertama yang sama: ‘Kami bisa lebih kejam dari kalian. Kami bisa jauh lebih menyakitkan dan menakutkan dari kalian,” kata Jolliffe di Twitter.

“Itu tujuan mereka. Tapi itu tidak mengenal batasan.”

Pengguna Twitter mengumpulkan foto enam orang tersebut sebelum dan setelah ditangkap, di mana beberapa orang mendorong para pengunjuk rasa tidak menyerah menunjukkan perlawanan mereka terhadap kudeta.

“Ini adalah sifat junta yang kita hadapi,” tulis pengguna Twitter, Shwe Yee.

“Kita jangan sampai menyerah dengan apa yang kita lakukan demi kebebasan kita. Kalian tidak bisa menindas kami dengan ketakutan.”

Kekerasan aparat di Myanmar menuai kecaman dari sejumlah negara Barat dan kritik yang tidak diduga dari beberapa negara ASEAN, di mana pemerintah militer masuk dalam keanggotaan ASEAN. Negara anggota ASEAN berusaha mencari jalan keluar atas krisis di Myanmar tapi militer tidak begitu tertarik terlibat perundingan dengan negara tetangganya dan tidak ada tanda militer berkeinginan untuk berunding dengan pemerintah sipil.

(pan/Al Jazeera)

No comments

Powered by Blogger.