Rusia Tegang, Militer China dan India Diambang Perang


D'On, Moskow (Rusia),- Rusia akhirnya buka suara setelah lama menahan diri terkait meningkatnya ketegangan militer antara China dan India di perbatasan Ladakh.

Rusia mengaku khawatir atas pertempuran militer China-India yang sedang berlangsung di Ladakh, kendati negeri Beruang Merah tersebut masih yakin bahwa kedua raksasa Asia tersebut akan menyelesaikan masalah mereka dengan damai.

Hal itu dikatakan Wakil Kepala Misi Rusia di Delhi Roman Babushkin kepada saluran TV.

“Tentu saja, kami khawatir dengan situasi saat ini di Line of Actual Control (LAC). Namun, seperti yang kita ketahui, ada mekanisme khusus yang dikembangkan oleh kedua negara (India dan Cina) termasuk hotline dan dialog perwakilan khusus dan bahkan KTT informal," ujarnya seperti dilansir Deccanchronicle.com, Selasa (2/6/2020).

Ia menambahkan bahwa Rusia yakin baik India maupun China telah memiliki jaluar yang baik untuk mencari jalan keluar. 

Tugas Rusia adalah mendorong kedua negara menuju pembicaraan damai.
Rusia merupakan mitra India yang telah teruji oleh waktu dan sebagai pemasok utama sistem pertahanan selama beberapa dekade ke India. Rusia juga menjadi mitra strategis utama India.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, Rusia merasa cemburu atas meningkatnya hubungan India dengan Amerika Serikat. Kendati pemerintah India telah melakukan segala upaya untuk mempertahankan hubungan yang kuat dengan Rusia dan Moskow sehingga tetap menjadi teman dekat.

Rusia juga merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB bersama dengan China dan memiliki hubungan yang dekat dengan Beijing.

Pekan lalu, India mengatakan tekad mereka sangat kuat di perbatasan untuk memastikan keamanan dan kedaulatan nasionalnya. Kendati India mengatakan, mereka tetap menjalin komunikasi dengan China baik di tingkat diplomasi maupun militer untuk menyelesaikan masalah perbatasan secara damai.

Bulan lalu, India menuding Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) memblokir patroli Angkatan Darat India di sisi INdia LAC yang merupakan perbatasan de-factor China-India.

New Delhi juga mengatakan bahwa kadang-kadang insiden seperti itu terjadi karena kedua belah pihak tidak memiliki persepsi yang sama mengenai LAC.

Masalah ini juga menjadi latar belakang terjadinya dua insiden terpisah bulan lalu di sektor Sikkim dan Ladakh ketika tentara India dan China saling adu jotos dan mengakibatkan cedera terhadap pasukan di kedua sisi.

Insiden ini terjadi di Sikkim utara pada 9 Mei sementara di Ladakh Timur telah terjadi pada malam intervensi 5-6 Mei 2020.

Dalam dua insiden itu, patroli PLA yang agresif dihentikan pasukan India di wilayah India yang diklaim China sebagai miliknya.

Kronologi

Seperti diberitakan, ratusan tentara India dan China terlibat dalam pertempuran terakhir yang terkonsentrasi di wilayah Ladakh India di seberang Tibet.

Kedua negara memiliki beberapa titik sengketa di sepanjang 3.500 km (2.175 mil) perbatasan mereka. Mereka berperang di perbatasan pada tahun 1962 dan telah terjadi pertengkaran rutin sejak itu.

Ketegangan terakhir meletus pada 9 Mei ketika puluhan tentara China dan India terluka dalam perkelahian dan saling melempar batu di negara bagian Sikkim.
Pusat pertikaian sekarang di Ladakh berpusat di sekitar lembah Galwan yang mengontrol akses ke beberapa titik strategis di perbatasan Himalaya mereka.

Kedua belah pihak saling menyalahkan satu sama lain tetapi para analis mengatakan bahwa pembangunan jalan baru India di wilayah tersebut mungkin menjadi penyebab perselisihan India dan China.

Kedua belah pihak telah mengirim bala bantuan dan alat berat ke zona tersebut.

"Saya ingin meyakinkan bahwa kita tidak akan membiarkan harga diri India terluka dalam keadaan apa pun," kata Singh.

Pasukan China telah secara berkala siapkan strategi pembalasan di pangkalan militer mereka yang berdekatan dengan Line of Actual Control di timur Ladakh dengan membawa senjata tempur, kendaraan perang dan peralatan militer yang berat.
Sementara Pasukan India juga telah memindahkan tambahan tentara beserta peralatan militer dan senjata untuk mengimbangi apa yang telah disusun oeh China.

Ditambahkan juga oleh sumber militer yang namanya tidak ingin disebutkan bahwa India tidak akan mengalah sampai status quo dipulihkan di Pangong Tso, Galwan Valley dan sejumlah bidang lainnya.

Jika memang akan terjadi baku tembak dan ketegangan militer antara keduanya, militer India dan China sama-sama hadapi kekuatan yang mengerikan.

Siapa sangka, kedua negara itu memiliki peringkat militer yang berdampingan.
Melansir globalfirepower.com, kekuatan militer China dan India ternyata termasuk dari top 5 militer dari 138 negara.
Hal itu berdasarkan peringkat tahunan dari Global Fire Power.

Global Fire Power menilai peringkat militer dari peringkat Pwrlndx, yang dinilai dari nilai individu dan kolektif masing-masing negara.

Kekuatan Militer China

Untuk tahun 2020 ini, China berada di peringkat 3 dari 138 militer negara yang dibandingkan.

Peringkat Pwrlndx mereka adalah 0.0691, dengan militer yang dianggap sempurna memiliki peringkat Pwrlndx sebesar 0.0000.
China, dengan populasi total sebanyak 1.384.688.986, memiliki jumlah tentara sebesar 752.855.402, dan ada 621.105.706 tentara yang siap perang.

Total personil militer mereka diestimasi sebesar 2.693.000.

Pasukan Angkatan Udara mereka ada 3.210, dengan 1.232 penerbang jet tempur, 911 helikopter dan 281 helikopter penyerang.
Sementara Angkatan Darat mereka memiliki 3500 tank, dan kendaraan senjata berat sejumlah 33.000 kendaraan dan senjata sejumlah 3.800 buah.

Angkatan Laut mereka memang cukup 'sedikit' jika dibandingkan dengan Angkatan Udara dan Angkatan Darat, tetapi untuk ketegangan militer dengan India sepertinya akan sulit bagi Angkatan Laut keduanya beroperasi.

Sementara bantuan logistik China tersedia dalam jumlah banyak, ada buruh kerja paksa yang merupakan warga mereka sendiri sejumlah 806.700.000, dengan penguasaan jalan sejumlah 3.860.800 km dan penguasaan rel kereta 86.000 km.

Kekuatan Militer India

India berada di peringkat 4, berselisih tipis dengan China dengan peringkat Pwrlndx sebesar 0.0953.

Dengan jumlah populasi tidak jauh berbeda dengan China yaitu sebesar 1.296.834.042 jiwa, ada jumlah rakyat yang sanggup masuk militer sebanyak 622.480.340, dan yang siap perang sebanyak 494.249.390 orang.

Total personil militer mereka adalah 3.544.000 (estimasi).

Pasukan Angkatan Udara mereka ada 2.123, dengan 538 penerbang jet tempur, 722 helikopter dan 23 helikopter penyerang.
Sementara Angkatan Darat mereka memiliki 4.292 tank, dan kendaraan senjata berat sejumlah 8.686 kendaraan dan senjata sejumlah 235 buah.

Sementara bantuan logistik India tersedia dalam jumlah banyak, ada buruh kerja paksa yang merupakan warga mereka sendiri sejumlah 521.900.000, dengan penguasaan jalan sejumlah 3.320.410 km dan penguasaan rel kereta 63.974 km.
Semua data ini didapatkan Global Fire Power dari data CIA World Factbook.

Kembali mengutip Business Standard, Angkatan Udara India telah menjaga dan mengawasi wilayah perbatasan melalui penjagaan di udara.

Pasalnya, sejumlah personil militer China (2500 pasukan) telah masuk ke India dari perbatasan de-fakto awal bulan ini.

Mereka juga telah memasang tenda di Pangong Tso dan Galwan Valley sejak itu.
Militer India dengan cepat menangkis agresi militer China tersebut dan menuntut agar mereka segera keluar untuk pengembalian perdamaian di wilayah tersebut.

Namun militer China justru perkeruh suasana dengan hadir di Demchok dan Daulat Beg Oldie, dua area sensitif yang memiliki sejarah kelam terkait kedua negara tersebut.

Militer India dengan cepat belajar bahwa China sedang menakut-nakuti mereka untuk menekan mereka.

"Kami sangat sadar dengan pola permainan China. Militer India adalah militer yang kuat dan kami tidak akan menerima selain restorasi status quo di wilayah tersebut.

(*/Tribunnews)

No comments

Powered by Blogger.