
Di Balik Seragam Cokelat, Ada Hati yang Tak Pernah Melupakan: Anjangsana Ditlantas Polda Sumbar Sambut Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-71
D'On, Padang - Seragam cokelat itu biasanya identik dengan ketegasan. Dengan peluit di tangan, berdiri di tengah padatnya arus kendaraan, jajaran Polisi Lalu Lintas dituntut sigap mengatur pergerakan kendaraan sekaligus memastikan keselamatan setiap pengguna jalan.
Namun, di balik ketegasan itu, ada sisi lain yang jarang terlihat.
Ada kepedulian. Ada penghormatan. Ada ikatan persaudaraan yang tetap terjaga meski masa pengabdian telah berakhir.
Sisi kemanusiaan itulah yang tergambar dalam kegiatan Anjangsana Ditlantas Polda Sumatera Barat dalam rangka menyambut Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-71 Tahun 2026, Senin (14/9/2026).
Dipimpin langsung Direktur Lalu Lintas Polda Sumbar Kombes Pol. H. M. Reza Chairul Akbar Sidiq, S.H., S.I.K., M.H., jajaran Ditlantas Polda Sumbar menyambangi kediaman sejumlah purnawirawan dan warakawuri.
Kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial menjelang peringatan hari jadi.
Lebih dari itu, anjangsana menjadi ruang untuk kembali membuka lembaran kenangan, menyapa mereka yang pernah berdiri di garis depan pengabdian, sekaligus menegaskan bahwa perjalanan panjang sebuah institusi tidak pernah dibangun oleh satu generasi saja.
Mengetuk Pintu, Menyapa Masa Lalu
Satu per satu rumah didatangi.
Kehadiran rombongan Ditlantas Polda Sumbar membawa suasana berbeda. Mereka yang dahulu mengenakan seragam dan menjalankan tugas di tengah masyarakat, kini menyambut kedatangan rekan-rekan dan generasi penerus dengan suasana penuh keakraban.
Tidak ada jarak antara senior dan junior.
Yang terlihat justru percakapan hangat, senyum, tawa, serta nostalgia tentang masa-masa ketika tugas kepolisian dijalankan dengan segala tantangannya.
Di ruang tamu, kisah-kisah lama kembali mengalir.
Tentang pengabdian.
Tentang dinamika bertugas.
Tentang jalan raya yang pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Tentang rekan seperjuangan yang mungkin kini sudah tidak lagi berada di sisi.
Dalam suasana seperti itu, anjangsana menjadi lebih dari sekadar kunjungan. Ia berubah menjadi perjalanan emosional untuk mengingat kembali dari mana sebuah pengabdian bermula.
Bagi para purnawirawan dan warakawuri, kedatangan jajaran Ditlantas menjadi pesan sederhana namun bermakna: pengabdian mereka tidak dilupakan.
Ketika Pengabdian Tak Berakhir Bersama Seragam
Masa tugas seorang anggota Polri memang memiliki batas. Ada waktunya seseorang melepas seragam, meninggalkan rutinitas dinas dan kembali menjalani kehidupan bersama keluarga.
Tetapi pengabdian tidak serta-merta berhenti ketika seragam dilepas.
Nilai-nilai kedisiplinan, keteladanan, keberanian, loyalitas dan kecintaan terhadap institusi tetap menjadi warisan yang diteruskan kepada generasi berikutnya.
Itulah makna yang ingin dirawat Ditlantas Polda Sumbar melalui anjangsana tersebut.
Penyerahan tali asih dan cenderamata menjadi simbol sederhana dari penghargaan atas perjalanan panjang para senior dan keluarga besar Polri.
Nilainya bukan semata-mata terletak pada apa yang diberikan.
Makna terbesarnya justru ada pada kehadiran.
Sebab terkadang, yang paling dibutuhkan seseorang bukan sesuatu yang besar, melainkan kepastian bahwa dirinya masih diingat, masih dihargai dan masih menjadi bagian dari keluarga besar yang pernah diperjuangkannya.
Reza: Keteladanan Purnawirawan Adalah Warisan Berharga
Kombes Pol. Reza Chairul Akbar Sidiq mengatakan, anjangsana merupakan wujud kepedulian sekaligus bentuk penghormatan institusi kepada para purnawirawan dan keluarga besar Polri.
Menurutnya, perjalanan institusi kepolisian tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para pendahulu yang telah mengabdikan tenaga, pikiran dan kehidupannya untuk bangsa dan negara.
"Pengabdian dan keteladanan para purnawirawan adalah warisan berharga bagi kami yang masih aktif bertugas. Melalui momentum Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-71 ini, kami ingin memastikan bahwa tali silaturahmi tidak akan pernah putus," tutur Kombes Pol. Reza.
Ia menilai semangat kekeluargaan menjadi salah satu energi penting bagi personel yang masih menjalankan tugas.
Sebab, ketika seorang anggota merasa menjadi bagian dari keluarga besar institusi, semangat pengabdian tidak hanya lahir dari kewajiban, tetapi juga dari rasa memiliki.
"Semangat kekeluargaan inilah yang menjadi energi bagi kami untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat," sambungnya.
Dari Rumah Para Senior, Kembali ke Jalan Raya
Ada pesan lain yang tersirat dari kegiatan tersebut.
Di tengah tuntutan modernisasi pelayanan kepolisian, teknologi, penegakan hukum dan berbagai persoalan lalu lintas yang semakin kompleks, Ditlantas Polda Sumbar ingin memastikan bahwa wajah Polisi Lalu Lintas tetap memiliki sisi humanis.
Semangat itu kemudian diterjemahkan melalui komitmen "Polantas Presisi, Mengabdi untuk Negeri."
Bagi jajaran Ditlantas, tugas Polantas bukan hanya mengatur kendaraan, melakukan penindakan atau menjaga kelancaran arus lalu lintas.
Di balik setiap tugas tersebut terdapat tujuan yang lebih besar: menjaga keselamatan manusia.
Karena itu, pelayanan kepada masyarakat harus dibangun dengan sikap humanis, responsif dan penuh kepedulian.
Jalan raya bukan sekadar ruang bagi kendaraan untuk bergerak. Di sana ada keluarga yang sedang bepergian, anak-anak yang berangkat sekolah, pekerja yang mengejar waktu, pedagang yang mencari nafkah dan jutaan manusia dengan cerita masing-masing.
Keselamatan mereka menjadi bagian dari tanggung jawab Polantas.
Hari Jadi yang Dirayakan dengan Mengingat
Peringatan Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-71 akhirnya menemukan makna yang lebih dalam melalui anjangsana.
Bukan hanya tentang bertambahnya usia sebuah korps.
Bukan pula sekadar rangkaian kegiatan memperingati hari jadi.
Tetapi tentang bagaimana sebuah generasi menundukkan kepala sejenak untuk mengingat mereka yang telah lebih dahulu berjalan.
Anjangsana menjadi pengingat bahwa sebuah institusi tidak lahir dalam ruang kosong.
Ada keringat para pendahulu.
Ada pengorbanan keluarga.
Ada perjalanan panjang yang membentuk karakter organisasi hingga sampai pada generasi hari ini.
Di rumah-rumah para purnawirawan dan warakawuri, jajaran Ditlantas Polda Sumbar seperti kembali menemukan potongan sejarah mereka sendiri.
Sejarah yang hidup melalui cerita, kenangan dan wajah-wajah yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan kepolisian.
Dan ketika rombongan akhirnya meninggalkan kediaman para senior, yang tersisa bukan hanya cenderamata atau tali asih.
Ada pesan yang jauh lebih kuat:
bahwa pengabdian boleh berganti generasi, seragam boleh dilepas, masa tugas boleh berakhir, tetapi penghormatan dan persaudaraan tidak seharusnya pernah selesai.
Memasuki usia ke-71, Ditlantas Polda Sumbar memilih merayakan perjalanan panjang itu dengan cara yang sederhana namun penuh makna mengetuk pintu, menjabat tangan, mendengarkan cerita dan mengingat orang-orang yang pernah berjuang.
Sebab di balik ketegasan seragam cokelat dan derap langkah menjaga ketertiban di jalan raya, selalu ada hati yang memahami arti sebuah keluarga.
Dan keluarga, bagi mereka, adalah tentang satu hal: tidak pernah melupakan.
(Mond)
#DirlantasPoldaSumbar #SumateraBarat