-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Iran Izinkan Kapal Melintas di Selat Hormuz dengan Syarat Usir Dubes AS dan Israel

10 مارس 2026 | مارس 10, 2026 WIB Last Updated 2026-03-10T15:46:25Z

Iran memberi syarat kepada negara-negara Arab dan Eropa jika kapal mereka bisa melintasi Selat Hormuz tanpa gangguan (Foto: AP)



D'On, Teheran — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait akses pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan kapal tanker minyak dari berbagai negara dapat melintas dengan aman di selat tersebut, dengan syarat negara asal kapal mengusir duta besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayah mereka.


Pernyataan tersebut disampaikan melalui laporan stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, yang mengutip pernyataan resmi IRGC pada Selasa (10/3). Dalam pernyataan itu, Iran menegaskan bahwa negara-negara Arab maupun Eropa tetap memiliki hak untuk menggunakan jalur pelayaran internasional tersebut, namun harus mengambil sikap tegas dengan memutus hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat dan Israel.


Langkah ini muncul setelah Iran menutup Selat Hormuz sejak serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Penutupan jalur laut tersebut segera menimbulkan dampak besar bagi perdagangan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu choke point energi terpenting di dunia.


Selat sempit yang memiliki lebar sekitar 33 kilometer itu menjadi jalur utama distribusi energi global. Diperkirakan sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia serta gas alam cair (LNG) melewati jalur tersebut setiap harinya. Karena perannya yang sangat vital, gangguan di kawasan ini langsung memicu gejolak pasar energi internasional.


Sejak penutupan tersebut, puluhan kapal tanker dari berbagai negara dilaporkan tertahan di sekitar Teluk Persia dan Laut Arab. IRGC bahkan mengancam akan menyerang kapal apa pun yang mencoba melintas tanpa izin, kecuali kapal milik negara yang dianggap sekutu Iran seperti China dan Rusia.


Situasi ini membuat aktivitas pelayaran di kawasan tersebut hampir lumpuh. Perusahaan pelayaran dan operator tanker memilih menunggu kepastian keamanan daripada mengambil risiko menghadapi konfrontasi militer di jalur laut yang rawan konflik.


Dampak langsung dari krisis ini juga terasa di pasar energi global. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Pada perdagangan Senin (9/3), harga minyak global tercatat menembus angka 119 dolar Amerika Serikat per barel.


Lonjakan harga tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Para analis energi memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama, dampaknya bisa meluas ke krisis energi global dan memicu tekanan inflasi di berbagai negara.


Di tengah situasi tersebut, Iran juga disebut sedang mempertimbangkan kebijakan baru berupa pungutan “bea masuk keamanan” bagi kapal tanker dan kapal komersial milik Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara sekutunya yang melintas di Teluk Persia.


Sumber dari pemerintah Iran yang mengetahui rencana tersebut menyebut kebijakan itu merupakan bagian dari strategi tekanan terhadap Washington. Iran berharap langkah tersebut dapat memaksa Amerika Serikat menghentikan operasi militer terhadap Teheran.


“Kami memegang kendali atas harga minyak dunia. Untuk waktu yang lama Amerika Serikat harus menunggu tindakan kami untuk mengendalikan harga,” ujar sumber tersebut sebagaimana dikutip dalam laporan media internasional.


Ia juga menegaskan bahwa Iran akan terus meningkatkan tekanan sampai pemerintah Amerika Serikat, yang dipimpin Presiden Donald Trump, menghentikan serangan terhadap Iran.


Ketegangan terbaru ini semakin memperumit situasi keamanan di Timur Tengah yang sejak lama menjadi kawasan dengan dinamika geopolitik paling sensitif di dunia. Banyak negara kini memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz dengan cermat karena setiap eskalasi konflik berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global.


Sejumlah analis menilai konflik ini bukan hanya persoalan militer, tetapi juga pertarungan pengaruh geopolitik dan kendali atas energi dunia. Jika situasi terus memburuk, Selat Hormuz bisa berubah dari jalur perdagangan vital menjadi titik konflik internasional yang berisiko menyeret banyak negara ke dalam krisis yang lebih luas.


(*)


#Internasional #Iran #SelatHormuz

×
Berita Terbaru Update