-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Puluhan Prajurit TNI Jadi Korban Longsor Cisarua, Ini Kronologi Lengkap dan Penyebabnya

27 يناير 2026 | يناير 27, 2026 WIB Last Updated 2026-01-27T03:47:14Z

Pencarian korban bencana tanah longsor di Cisarua.


D'On, Cisarua, Bandung Barat — Bencana longsor yang melanda Kampung Pasir Kuning, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menyisakan duka mendalam. Tak hanya menelan korban dari warga sipil, musibah ini juga merenggut nyawa dan mengancam keselamatan puluhan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tengah menjalani latihan pratugas.


Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, sekitar pukul 03.00 WIB, saat sebagian besar warga dan prajurit masih terlelap dalam istirahat. Tanpa peringatan berarti, material tanah dari lereng perbukitan runtuh dan menghantam kawasan permukiman serta area latihan militer.


Hujan Deras Dua Hari, Tanah Kehilangan Daya Ikat


Berdasarkan data awal dan keterangan otoritas setempat, longsor Cisarua dipicu oleh cuaca ekstrem. Selama dua hari berturut-turut, wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas tinggi, disertai angin kencang.


Akumulasi air hujan meresap ke dalam lapisan tanah, menyebabkan struktur tanah menjadi jenuh dan kehilangan daya dukung. Lereng yang sebelumnya stabil berubah menjadi labil. Pada titik kritis itulah, longsor tak terelakkan.


Material tanah, batu, dan lumpur bergerak cepat, menimbun puluhan rumah warga serta area di sekitar lokasi latihan TNI yang berada tak jauh dari permukiman.


23 Prajurit Marinir Tertimbun Longsor


Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengonfirmasi bahwa 23 prajurit Marinir TNI AL menjadi korban dalam peristiwa ini. Pernyataan tersebut disampaikan usai rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di kompleks DPR/MPR, Jakarta, pada Senin (26/1/2026).

 

“Benar, terdapat 23 anggota Marinir yang tertimbun longsor. Hingga saat ini, empat personel telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara 19 lainnya masih dalam proses pencarian,” ujar Muhammad Ali.


Para prajurit tersebut diketahui sedang mengikuti latihan pratugas, sebagai bagian dari persiapan pengamanan wilayah perbatasan Republik Indonesia–Papua Nugini (RI–PNG). Kawasan Cisarua dipilih sebagai lokasi latihan karena karakter geografisnya yang dianggap relevan dengan medan tugas nantinya.


Namun, perubahan cuaca yang berlangsung cepat dan ekstrem membuat area latihan justru berubah menjadi zona rawan bencana.


Evakuasi Terhambat Medan dan Ancaman Longsor Susulan


Proses pencarian dan evakuasi korban tidak berjalan mudah. Tim gabungan menghadapi berbagai kendala di lapangan, mulai dari akses lokasi yang sempit, hingga kondisi tanah yang masih labil.


Alat berat belum dapat dikerahkan ke titik longsor karena jalur masuk terbatas dan berisiko memicu longsor susulan.

 

“Alat berat belum bisa masuk ke lokasi. Untuk sementara, pencarian dilakukan dengan memanfaatkan teknologi seperti drone, alat pemindai termal, serta anjing pelacak (K9),” jelas Laksamana Muhammad Ali.


Drone digunakan untuk memetakan area terdampak dari udara, sementara teknologi termal membantu mendeteksi panas tubuh di bawah timbunan material. Anjing pelacak turut dikerahkan untuk mempercepat pencarian korban yang tertimbun.


Empat Jenazah Ditemukan, 19 Prajurit Masih Dicari


Hingga Senin (26/1/2026), tim SAR gabungan berhasil menemukan empat jenazah prajurit. Seluruhnya dievakuasi dengan prosedur ketat dan penghormatan militer.


Sementara itu, 19 prajurit lainnya masih dinyatakan hilang, dan pencarian terus dilakukan dengan kehati-hatian tinggi. Tim penyelamat harus menyeimbangkan antara kecepatan evakuasi dan keselamatan personel di lapangan, mengingat potensi longsor susulan masih mengintai.


Duka Nasional dan Evaluasi Lokasi Latihan


Tragedi longsor Cisarua ini memicu keprihatinan luas, baik dari masyarakat maupun kalangan pemerintahan. Selain meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban, peristiwa ini juga menjadi pengingat penting akan risiko bencana di wilayah rawan, termasuk dalam pelaksanaan latihan militer.


Pakar kebencanaan menilai perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pemilihan lokasi latihan, terutama saat memasuki musim hujan dengan intensitas tinggi.


Pencarian Terus Berlanjut


Hingga kini, tim gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD, dan relawan masih berjibaku di lokasi bencana. Harapan untuk menemukan seluruh korban tetap dijaga, meski tantangan di lapangan sangat berat.


Tragedi longsor Cisarua bukan sekadar bencana alam, tetapi juga kisah pengabdian prajurit yang gugur saat mempersiapkan diri untuk menjaga kedaulatan negara. Negara pun kini menunggu, sambil berdoa, agar seluruh korban dapat segera ditemukan.


(L6)


#TNI #Peristiwa #LongsorCisarua

×
Berita Terbaru Update