
Dokter Tompi mengungkap kondisi mata seperti dialami Wapres Gibran dikenal dalam dunia medis.sebagai ptosis. (Foto: AI)
Dirgantaraonline - Nama dokter bedah plastik sekaligus musisi, Tompi, belakangan menjadi sorotan publik setelah menanggapi materi stand up comedy Pandji Pragiwaksono yang menyinggung kondisi mata Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan sebutan “ngantuk”. Tompi menilai penyebutan tersebut bisa dikategorikan sebagai hinaan fisik, karena kondisi mata yang tampak turun itu bukan sekadar ekspresi lelah, melainkan berpotensi merupakan kondisi medis yang dikenal sebagai ptosis.
Polemik ini akhirnya membuka diskusi publik yang lebih luas:
sebenarnya apa itu ptosis?
apakah berbahaya?
bagaimana penanganannya?
Apa Itu Ptosis?
Dalam dunia medis, ptosis adalah kondisi ketika kelopak mata atas turun sehingga letaknya berada lebih rendah dari posisi normal. Kondisi ini dapat terjadi pada:
- satu mata (unilateral)
- atau kedua mata (bilateral)
Pada sebagian orang, ptosis hanya memberikan kesan seperti mengantuk atau kurang tidur. Namun pada kasus yang lebih berat, kelopak mata dapat menutupi pupil hingga mengganggu lapang pandang.
Berdasarkan American Academy of Ophthalmology, ptosis dapat dialami oleh siapa saja:
- bayi dan anak-anak (ptosis kongenital)
- orang dewasa (ptosis didapat)
Artinya, ini bukan semata-mata masalah estetika, tetapi dapat memengaruhi fungsi penglihatan dan kualitas hidup penderitanya.
Mengapa Ptosis Bisa Terjadi?
Secara anatomi, posisi kelopak mata dikendalikan oleh otot utama bernama levator palpebrae superioris. Ptosis terjadi ketika:
- otot tersebut melemah
- jaringan penyangganya kendur
- atau terjadi gangguan pada saraf pengontrolnya
Beberapa penyebab yang umum meliputi:
- proses penuaan (degeneratif)
- bawaan lahir (kelainan perkembangan otot kelopak)
- gangguan saraf, misalnya akibat cedera otak atau penyakit neuromuskular
- pasca operasi mata, seperti operasi katarak
- adanya massa atau tumor yang membebani kelopak
- penggunaan lensa kontak jangka panjang pada sebagian kasus
Pada anak-anak, ptosis kongenital biasanya berhubungan dengan perkembangan otot yang tidak sempurna sejak dalam kandungan.
Bagaimana Gejala Ptosis Dirasakan Penderita?
Ptosis tidak selalu menyebabkan keluhan yang sama pada setiap orang. Namun gejala umum yang sering muncul antara lain:
- kelopak mata tampak turun atau tidak simetris
- lapang pandang atas terasa terhalang
- mata lebih cepat lelah
- sering mengangkat dagu atau mengernyitkan dahi untuk melihat jelas
- sakit kepala tegang karena kompensasi otot dahi
Pada anak-anak, ptosis yang dibiarkan tanpa terapi dapat menyebabkan:
- ambliopia (mata malas)
- gangguan perkembangan penglihatan permanen
Karena itu, deteksi dini pada kelompok usia ini sangat penting.
Kapan Kondisi Ini Perlu Diwaspadai?
Ptosis pada dasarnya bisa ringan, bisa juga menjadi tanda penyakit serius. Waspadai bila:
- muncul tiba-tiba
- disertai penglihatan ganda
- disertai kelemahan anggota gerak
- terjadi pada satu sisi wajah bersamaan dengan kelumpuhan lain
Kondisi seperti ini perlu evaluasi segera oleh dokter karena dapat berkaitan dengan gangguan saraf, aneurisma, atau penyakit neuromuskular.
Bagaimana Cara Mengatasi Ptosis?
Penanganan ptosis sangat bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya.
Beberapa pilihan penanganan antara lain:
🔹 1. Observasi
Dilakukan pada:
- kasus ringan
- tidak ada gangguan penglihatan
- tidak ada progresivitas
🔹 2. Obat tetes mata resep
Beberapa jenis tetes bekerja merangsang otot tertentu pada kelopak mata sehingga membuka lebih lebar. Umumnya cocok untuk ptosis ringan pada orang dewasa. Namun:
- harus digunakan rutin
- efeknya sementara
- tidak cocok untuk semua tipe ptosis
🔹 3. Operasi ptosis
Merupakan terapi definitif, dilakukan bila:
- mengganggu penglihatan
- mengganggu aktivitas
- mengganggu penampilan dan kepercayaan diri
Tindakan operasi bertujuan:
- menguatkan otot levator
- atau menggantikan fungsinya dengan jaringan lain
Pada anak-anak, operasi sering dilakukan lebih dini untuk mencegah mata malas.
Mengapa Penting untuk Tidak Menjadikannya Bahan Olok-olok?
Kasus yang melibatkan Pandji dan Gibran menyentuh isu penting:
👉 kondisi medis sering kali tampak seperti karakter fisik atau “ciri khas wajah”, padahal bisa berdampak pada kesehatan.
Menyebut orang dengan ptosis sebagai “ngantuk”, “lesu”, atau “kurang semangat” dapat:
- menimbulkan stigma
- mengabaikan aspek medis yang mendasari
- melukai psikologis penderita
Padahal, ptosis:
- bisa diobati
- bisa melibatkan penyakit serius
- bukan pilihan atau sekadar penampilan
Ptosis bukan sekadar “mata sayu” atau “terlihat mengantuk”. Ini adalah kondisi medis yang:
- dapat dialami sejak lahir atau di kemudian hari
- memiliki beragam penyebab
- berpotensi mengganggu penglihatan
- memiliki pilihan terapi dari observasi hingga operasi
Jika Anda atau anak Anda mengalami kelopak mata turun, terutama bila disertai keluhan penglihatan, konsultasikan dengan dokter mata (oftalmolog) untuk evaluasi lebih lanjut.
(*)
#Ptosis #Kesehatan