
Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi
D'On, Solo - Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) secara tegas mengunci arah politik nasional menuju Pilpres 2029. Di tengah derasnya spekulasi elite dan manuver dini para aktor politik, Jokowi memastikan satu hal: tidak ada skenario lain selain Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka dua periode.
Pernyataan keras itu disampaikan Jokowi di kediaman pribadinya di Sumber, Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (30/1/2026). Tanpa basa-basi, Jokowi mematahkan isu yang menyebut putranya, Gibran Rakabuming Raka, akan maju sebagai calon presiden secara terpisah.
“Kan sudah saya sampaikan, Prabowo–Gibran dua periode,” kata Jokowi, singkat namun sarat pesan politik.
Ucapan tersebut bukan sekadar klarifikasi, melainkan peringatan politik bagi pihak-pihak yang mencoba membaca celah kekuasaan pasca-Pilpres 2024. Jokowi seolah ingin menutup ruang tafsir: tidak ada pecah kongsi, tidak ada duel internal, dan tidak ada agenda tersembunyi.
“Sudah, itu saja,” tegasnya, menandai berakhirnya polemik yang sengaja dibiarkan berkembang di ruang publik.
Jokowi Ambil Alih Narasi, Relawan Dikonsolidasikan
Yang membuat pernyataan ini semakin signifikan, Jokowi secara terbuka mengakui bahwa dukungan dua periode bukan wacana spontan, melainkan agenda politik yang telah dikonsolidasikan sejak awal.
Bahkan, Jokowi menyatakan telah memerintahkan langsung relawan-relawan loyalnya untuk mengamankan dukungan terhadap Prabowo–Gibran hingga 2029.
“Sejak awal sudah saya sampaikan kepada seluruh relawan,” ujar Jokowi pada kesempatan sebelumnya, Jumat (19/9/2025).
Pengakuan ini mengonfirmasi satu hal penting: Jokowi masih menjadi king maker, meskipun secara formal telah lengser dari kursi presiden. Relawan yang dahulu menjadi mesin elektoral Jokowi kini diarahkan menjadi benteng politik pemerintahan Prabowo–Gibran.
“Memang sejak awal saya perintahkan untuk mendukung pemerintahan Pak Presiden Prabowo–Gibran dua periode,” katanya.
Isu Gibran Capres Dibaca Sebagai Manuver Dini
Isu Gibran maju capres 2029 selama ini dibaca sebagai bagian dari manuver elite untuk menguji reaksi publik sekaligus mengukur kekuatan politik Wakil Presiden termuda dalam sejarah Indonesia itu. Namun Jokowi secara terang-terangan mematikan wacana tersebut bahkan sebelum berkembang lebih jauh.
Langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas kekuasaan dan mencegah friksi internal yang berpotensi melemahkan pemerintahan Prabowo di tahun-tahun awal.
“Saya sampaikan itu karena relawan bertanya ke saya,” kata Jokowi, menandakan bahwa arah politik telah ditetapkan dari pusat, bukan dari bawah.
Pesan Keras ke Elite Politik Nasional
Pernyataan Jokowi ini sekaligus menjadi pesan keras kepada partai politik dan elite nasional yang mulai menyusun peta 2029. Jokowi ingin memastikan bahwa fokus pemerintahan tidak terganggu oleh spekulasi suksesi dini.
Lebih dari itu, dukungan terbuka Jokowi menegaskan bahwa Gibran diposisikan sebagai wakil presiden yang harus menuntaskan mandat, bukan sebagai figur yang melompat ke kontestasi berikutnya.
Dalam konteks ini, Jokowi tidak hanya berbicara sebagai ayah Gibran, tetapi sebagai arsitek kekuasaan yang ingin memastikan transisi politik berjalan tanpa gejolak.
2029 Sudah Dimulai
Meski Pilpres 2029 masih tiga tahun lagi, pernyataan Jokowi menegaskan satu realitas politik: pertarungan sudah dimulai. Namun Jokowi memilih langkah ofensif mengunci narasi lebih awal, menutup spekulasi, dan mengonsolidasikan barisan.
Dengan satu kalimat sederhana, Jokowi menegaskan siapa yang ia dukung, siapa yang ia lindungi, dan ke mana arah kekuasaan akan bergerak.
Dan pesan itu jelas:
Prabowo–Gibran bukan sekadar pasangan pemenang 2024, tetapi proyek kekuasaan dua periode.
(L6)
#Nasional #Politik #Jokowi