3 Ton Ikan Larangan Mati Akibat Banjir di Pasaman Barat

D'On, Pasaman Barat (Sumbar),- Sebanyak 3 ton ikan mati pasca-banjir bandang di kawasan Lubuk Landur, Nagari Kajai, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, Selasa (1/3). Hal itu diduga akibat lumpur yang memenuhi sungai.


Ikan tersebut merupakan ikan larangan yang tak pernah ditangkap dan dimakan warga yang memiliki bobot 5-12 Kilogram per ekornya.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Pasaman Barat Zulfi Agus mengatakan kematian ikan-ikan itu diakibatkan oleh banyaknya material lumpur di dalam sungai yang dipicu hujan lebat dan banjir bandang.

"Material lumpur yang ada dalam sungai menyebabkan gangguan insang. Itu yang menyebabkan ikan mati," jelasnya, Rabu (2/3).

Ikan mati tersebut, kata dia, hampir mencapai 3 ton. Warga kemudian mengumpulkan dan menguburkannya di pinggir aliran sungai.

"Mereka memilih menguburkan, ketimbang memakan ikan tersebut, karena statusnya adalah ikan larangan," kata Zulfi.

Bagi masyarakat Minang, ikan larangan terkait mitos lokal yang melarang penangkapan, pemancingan, dan konsumsi ikan tersebut. Yang melanggar dipercaya akan mendapat bala karena ikan sudah dimantrai.

Ikan baru bisa dimanfaatkan melalui sebuah agenda dan ritual khusus. Ikan larangan juga tidak akan bergerak kemana-mana/meskipun banjir sekalipun.

Salah seorang warga, Asiman (47) mengatakan ikan-ikan itu bibitnya ditebar sambil dimantrai oleh salah seorang mendiang warga. Tujuannya, ikan-ikan tersebut tak pergi dari lokasi itu.

"Sebelum ikan itu dimasukkan ke dalam sungai, orang yang memasukkan benihnya harus membuat janji terlebih dahulu dan menjadikan ikan-ikan tersebut menjadi ikan larangan," jelasnya.

Sebelum janji tersebut dicabut, kata Asiman, tidak ada yang diperbolehkan memakannya. Sejauh ini, katanya, janji itu belum dicabut karena yang menyebarkan benih ikan keburu meninggal.

"Kami di sini menyebutnya ikan yang hidup hingga akhirek (akhirat)," katanya.

Sebelumnya, banjir bandang dan longsor terjadi di Pasaman Barat pasca gempa Magnitudo 6,1 di wilayah itu. Akibatnya, berdasarkan data pos penanggulangan bencana, 11 titik terdampak longsor.

Terkait evakuasi korban gempa, Koordinator Pos Basarnas Pasaman Hendra mengatakan satu dari lima orang korban tertimbun longsor di Nagari Malampah, Kecamatan Tigo Nagari, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar) ditemukan pada Selasa (1/3) sore.

Korban ditemukan menggunakan bantuan anjing pelacak yang terkubur sedalam dua meter di bawah material lumpur.

"Pada pukul 19.00 WIB kami menerima laporan dan segera mengidentifikasi serta memastikan bahwa memang salah seorang korban lainnya ditemukan," ujarnya kepada wartawan, Selasa (1/3).

"Untuk identitas belum kami ketahui," kata dia.

Sementara empat orang lainnya diduga masih tertimbun material longsor. Korban pertama, ditemukan pada hari Sabtu (26/2), dan korban kedua sudah dievakuasi pada hari Rabu (2/3).

(nya/arh)


#IkanLarangan #GempaPasaman #Sumbar


Powered by Blogger.