Geram Pemerintah Korup, Seorang Pria Nekat Bakar Diri di Alun-alun Tahrir

D'On, Kairo (Mesir),- Seorang pria Mesir membakar dirinya di Alun-alun Tahrir, Kairo pada Kamis (13/11/2020) sebagai bentuk protes atas korupsi dan kondisi kehidupan yang memburuk di negara Afrika Utara itu.


Dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial, pria itu mengeluhkan kondisi keuangan dan kehidupannya akibat upayanya untuk mengungkap korupsi pemerintah. Dia mengatakan bahwa upayanya untuk mengungkap korupsi oleh pejabat negara membuatnya dipecat dari pekerjaannya di bank dan menghadapi denda besar di tangan pasukan Keamanan Nasional.


Meneriakkan slogan-slogan menentang pemerintah, yang ia tuduh dipimpin oleh "pencuri", pria itu membakar diri sebelum polisi dan orang yang lewat berhasil memadamkan api, demikian diwartakan Middle East Eye.


"Saya tidak perlu menangis. Hidup saya telah hancur. Saya telah dipecat secara tidak adil dari pekerjaan saya dan secara tidak adil dihalangi untuk kembali ke pekerjaan itu. Inilah yang terjadi sekarang," katanya sesaat sebelum membakar dirinya sendiri.


The Egyptian citizen who set himself on fire in Tahrir square is An employee of the Central Auditing Agency who revealed a corruption case in which sisi’s son was mentioned He insisted on transferring it to the prosecution, the State Security Agency arrested and tortured him. https://t.co/740D7IAAGk— ود البيه (@khalidalbaih) November 12, 2020


"Ada lingkaran orang korup yang memerintah Mesir, mereka semua korup, mereka semua pencuri ... dewan militer adalah sumber korupsi di negara itu. Mereka mencuri dari negara itu sampai hari ini, sementara rakyat tidak bisa makan.


"Para majikan sedang membalas dendam dari para budak yang memberontak terhadap mereka (dalam pemberontakan 2011). Di sinilah kita sekarang. Semakin Anda diam, semakin buruk jadinya," teriak pria itu.


Alun-alun Tahrir adalah alun-alun di jantung kota Kairo dan menjadi tempat protes revolusioner pada 2011 yang menggulingkan rezim Hosni Mubarak.


Banyak dari mereka yang menjadi terkenal dalam pemberontakan tersebut telah dipenjara atau telah meninggalkan Mesir di tengah penindasan terhadap masyarakat sipil dan dikekangnya kebebasan berbicara di bawah Presiden Abdel Fattah el-Sisi.


Dalam tujuh tahun sejak Sisi mengambil alih kekuasaan dalam kudeta militer, sekira 60.000 tahanan politik mendekam di penjara.


Ekonomi Mesir juga memburuk dengan laporan Bank Dunia pada 2019 mengatakan 60 persen orang Mesir dalam kondisi "miskin atau rentan".



(Middle east eye)

No comments

Powered by Blogger.