Bergelimang Harta, Ternyata ini Sumber Dana Jaksa Pinangki

D'On, Jakarta,- Tim penasihat hukum mengklaim penghasilan jaksa Pinangki Sirna Malasari bukan cuma dari Kejaksaan Agung (Kejagung). Tapi juga terdapat penghasilan lainnya, karena mantan Kepala Sub Bagian Pemantauan dan Evaluasi II pada Biro Jaksa Agung Muda Pembinaan juga berprofesi sebagai dosen di sebuah universitas.


Tak hanya itu, Pinangki juga dikatakan mendapat warisan dari almarhum suaminya berupa aset dan uang dalam bentuk bank notes mata uang asing.


"Tentunya mengenai gaji kami tidak membantah hal itu, karena memang gaji resmi yang diterima dari Pihak Kejaksaan. Gaji yang keluar dari kas Kejaksaan kepada ibu Pinangki," kata tim PH Pinangki, Aldres Napitupulu, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis 5 November 2020.


Aldres lebih jauh menuturkan, penghasilan Pinangki di luar profesinya sebagai Jaksa tidak wajib dilaporkan kepada Kejagung. Sehingga penghasilannya bukan hanya dari Korps Adhyaksa.


"Sementara mengenai penghasilan ibu Pinangki diluar pekerjaannya sebagai jaksa tidak wajib dilaporkan kepada bagian Jaksa tadi karena sebagaimana diketahui Ibu Pinangki juga berprofesi sebagai Dosen," kata Aldres.


Selain itu bersumber dari gaji dan pendapat lainnya sebagai dosen, Aldres menegaskan kekayaan Pinangki juga berasal dari mendiang almarhum suaminya mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Djoko Budiharjo. Terakhir, Djoko Budiharjo menjabat sebagai Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan.


Aldres menjelaskan,  almarhum meninggalkan banyak aset saat meninggal. "Semasa hidup almarhum menjabat sebagai Kajati Riau, Kajati Sulawesi Tenggara, Kajati Jawa Barat, terakhir sebagai Sesjamwas, kemudian setelah pensiun almarhum berpraktik sebagai advokat," ujarnya.


Selama suaminya menjalani profesi sebagai jaksa maupun advokat itulah, ia menyimpan sejumlah uang yang diperuntukkan bagi Jaksa Pinangki.


Sebab, sang suami menyadari tidam dapat terus mendampingi Jaksa Pinangki karena terpaut umur puluhan tahun.


"Saat almarhum berprofesi advokat inilah Terdakwa mengetahui almarhum suami menyimpan uang dalam bentuk Banknotes mata uang asing, yang menurut almarhum adalah untuk kelangsungan hidup istrinya," ujarnya.


Aldres juga mengungkapkan, terkait pertemuan kliennya dengan Djoko Tjandra di Malaysia, tidak pernah ada perintah untuk menangkap terpidana kasus hak tagih Bank Bali itu. Sebab perintah eksekusi Djoko Tjandra baru ada pada 20 Mei 2020.


"Dari dokumen yang ada di Persidangan baru 20 Mei 2020 dan tidak pernah diperintahkan kepada ibu Pinangki untuk menangkap Djoko Tjandra. Jaksa juga mengatakan bahwa Jaksa tidak bisa melakukan penangkapan di luar negeri," imbuhnya. 


(ren/VV)


No comments

Powered by Blogger.