Ini Alasan Kapolres Blitar Hina Banci ke Kasat Sabhara


D'On, Blitar (Jatim),- 
Seorang perwira polisi di Polres Blitar mengajukan pengunduran diri secara tertulis ke Polda Jawa Timur serta melaporkan Kapolres Blitar AKBP Ahmad Fanani Prasetyo. Hal ini dilakukan oleh Kasat Sabhara Polres Blitar AKP Agus Hendro Tri Susetyo.

Apa yang dilakukan oleh Agus ini lantaran dirinya merasa tak terima dengan sikap arogansi Fanani. Tak hanya itu, dia juga merasa tidak terima dengan hinaan Fanani yang telah menyebut Agus 'bencong'.

Menanggapi hal itu, Kapolres Blitar AKBP, Ahmad Fanani Prasetyo memberikan alasan mengapa dirinya melontarkan ucapan tersebut kepada Agus. Dia mengungkapkan, Agus tak berani menegur anggotanya yang memiliki rambut panjang makanya dirinya memanggilnya bencong.

"Sekarang begini, saya ngomong bencong sama dia, enggak berani negor anggotanya (rambut panjang), ya sampai bencong aja kalau enggak negor, kan gitu," katanya saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Kamis (1/10).

"Dia bencong enggak berani negur anggotanya kan, kan karena anggotanya rambutnya panjang, terus enggak berani negur ya," sambungnya.

Setelah ditegur seperti itu, ternyata Agus tidak mulai masuk atau tidak berdinas sejak 21 September 2020. Sudah lama tak berdinas, tiba-tiba saja ia malah mengajukan surat pengunduran diri ke Polda Jatim.

Fanani menjelaskan, awal mula dirinya menegur Agus ketika sedang melakukan Operasi Yustisi yang sudah digelar sejak 14 September 2020.

"Waktu Operasi Yustisi di Kanigoro, itu saya melihat si Nur ini kok dia tampilannya beda, dia kok menutup-nutupin. Setelah saya buka rambutnya, ternyata rambutnya panjang. Setelah itu saya tanya, kamu pernah diingatkan enggak sama Kasat Sabhara, dia siap-siap aja," jelasnya.

Saat itu, Fanani langsung bertanya kepada Agus kenapa tidak menegur anggotanya yang berambut panjang. Padahal, seorang anggota Sabhara tidak boleh memiliki rambut yang panjang.

"Ya saya tanya sama Kasat Sabhara, kenapa kok anggota tidak ditegur rambutnya panjang gitu. Setelah saya tegur, dia ngomong tidak terima. Ya silahkan saja tidak terima, namanya saya baik kok menegur dengan baik. Itu kan bukan untuk saya, untuk tampilan Polres, tampilannya kita," ungkapnya.

"Kalau rambutnya anggota Sabhara tidak boleh panjang dong, kan dia pakai baju dinas. Memang sudah diatur," sambungnya.

Menurutnya, menegur anggota yang menyalahi aturan sudah menjadi kewajiban seorang pimpinan untuk mengingatkan.

"Kalau saya begini, di sini berat untuk mendisiplinkan anggota. Karena mereka sendiri tidak sadar bahwa dengan adanya disiplin itu kita bisa bekerja dengan baik, saya menegur anggota rambutnya panjang kan kewajiban saya sebagai Kapolres melihat anggota saya tidak sesuai dengan prosedur ya saya tegur, wajib hukumnya saya mengingatkan," tegasnya.

Setelah mendapatkan teguran langsung dari Kapolres, anggota atas nama Bripda Nur Setiavidi itu kemudian mencukur rambutnya tersebut. "Sudah (cukur), dia sudah menyadari kesalahannya," tutupnya.

Sebelumnya, merasa dihina oleh pimpinannya, seorang perwira di jajaran Polres Blitar mengajukan pengunduran diri secara tertulis ke Polda Jatim. Tidak hanya itu, ia juga melaporkan pimpinan karena dianggap cukup arogan terhadap anak buahnya.

Perwira yang mengajukan pengunduran diri secara tertulis ini adalah Kasat Sabhara Polres Blitar AKP Agus Hendro Tri Susetyo. Ia mengundurkan diri sebagai anggota kepolisian lantaran merasa telah dihina oleh Kapolres Blitar AKBP Ahmad Fanani Prasetyo.

Ia pun mendatangi Polda Jatim untuk menyerahkan seberkas surat pengunduran dirinya sebagai anggota Kepolisian, yang ditujukan pada Kapolda Jatim dengan tembusan ke Kapolri. AKP Agus pun mengungkapkan alasannya, mengapa ia nekat mengundurkan diri, meski telah mengabdi sebagai anggota Polri selama 27 tahun.

"Hari ini saya sudah ajukan pengunduran diri pada Kapolda Jatim dengan tembusan bapak Kapolri. Alasannya, saya tidak terima sebagai manusia dengan arogansi Kapolres saya," ujarnya, Kamis (1/10).

Ia menambahkan, dirinya tidak dapat menerima perlakuan Kapolres yang dianggapnya kerap memaki pada dirinya dan anak buahnya yang lain. Ia juga menyebut, kekesalan ini tidak hanya dirasakannya, namun juga dirasakan oleh perwira lain setingkat kepala satuan lainnya.

"Sebenarnya saya ini sudah akumulasi dari senior saya. Akumulasi (kekesalan) Kasat yang lain. Kalau ada yang tidak cocok begitu, maki-makian kasar itu sering disampaikan, mohon maaf, kadang sampai nyebut-nyebut binatang. Sama saya tidak separah itu, yang terakhir menyebut bencong, tidak berguna, banci, lemah dan lain-lain," tandasnya.

(mdk/fik)


No comments

Powered by Blogger.