Mencari Jalan Damai Nus-Jhon Kei, Mengurai Konflik Keluarga

D'On, Jakarta,- Agrapinus Romatora alias Nus Kei, 54 tahun pada masa lalu dikenal sebagai orang kepercayaan John Refra alias John Kei, 51 tahun. Kepercayaan itu bukan sekadar solidaritas yang terbangun dalam kelompok preman yang paling ditakuti dan disegani di Ibu Kota Jakarta, namun karena karena keduanya, yang sama-sama berasal dari Kepulauan Kei, itu, memiliki hubungan kekerabatan.

Nus Kei adalah paman kandung John Kei. Namun keduanya bukan dari satu fam (marga). Nus Kei bermarga Romatora, sedangkan John Kei bermarga Refra. Ayah John Kei adalah kakak kandung Nus Kei, sedangkan ibunya adalah saudara Nus Kei.

“Jadi kalau dilihat dari bapaknya, dia panggil saya ‘bapak muda’. Tapi kalau dari mamanya, ‘om’ dia panggil saya. Makanya dipanggil paman. Di sana itu lebih dikenal panggilannya ‘ait’.

‘Ait’ itu bahasa Kei yang artinya om atau paman yang paling sayang,” ungkap Nus Kei yang ditemui tim detikcom di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa, 23 Juni 2020, lalu. Ait  hanya bahasa digunakan di Kepulauan Kei, Maluku Utara.

Sementara secara umum panggilan paman di wilayah Maluku dan Maluku Utara adalah wate. Walau John Kei dan Nus Kei memiliki kekerabatan yang kental, namun kasus penyerangan ke rumah Nus Kei di Perumahan Green Lake City, Cipondoh, Kota Tangerang Banten dan pembacokan anak buahnya di Jalan Raya Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu, 21 Juni 2020 lalu oleh kelompok John Kei menjadi tanda tanya

Apakah konflik di antara keduanya hanya gara-gara ketidakpuasan pembagian hasil penjualan lahan tanah yang bakal dijadikan rumah sakit di Ambon? Ataukah memang sebelumnya sudah ada konflik lain?

“Kalau bagi saya, sebetulnya saya nggak punya konflik apa-apa dengan dia. Dia saja yang berpikir kaya gitu. Kami ini kan keluarga. Kita ini masih punya satu darah kental. Keturunan dekat yang sangat kental. Mamah saya Refra (marga), bapaknya dia Refra juga, sama bapak saya Rumatora, tapi kami itu bukan karena marga yang berbeda,” jelas Nus Kei lagi.

John Kei mulai menjejakkan kaki di Jakarta sekitar tahun 1990. Dua tahun kemudian, Nus Kei menyusul. Nus Kei awalnya tidak langsung tinggal bersama keponakannya itu, tapi di rumah saudara yang lain.

Tak beberapa lama, Nus Kei tinggal tak begitu jauh dari rumah yang selama ini dikenal menjadi markas John Kei di Jalan Tytyan Indah, Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Pada tahun 2000, John Kei mendirikan organisasi Angkatan Muda Kei (AMKEI). Organisasi ini terbentuk pasca kerusuhan di Tual, Pulau Kei, pada bulan Mei 2000. Melalui organisasinya itu, John Kei menjalankan bisnis debt collector.

Ia dikenal memiliki banyak pendukung. Ia juga dikenal kalangan pengusaha dan pejabat. Karirnya di bidang debt collector kian moncer setelah tewasnya Basri Sangaji, adik kandung Ongen Sangaji di Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan tahun 2004.

Tewasnya Basri merupakan buntut bentrokan kedua kelompok ini yang menewaskan kakak kandung John Kei, Walterus Refra atau Sammy Kei di diskotik Stadium, Jakarta.

“Iya masih itu, masih sampai sekarang. Tidak ada kerjaan lain kan? Kerjanya memang itu. Dia sangat bergantung dari itu. Jadi tidak ada yang lain. Anak-anak pun ya setiap hari pekerjaannya itu, nagih-nagih pakai kekerasan. Adik-adik saya, saudara-saudara saya nggak pernah melakukan itu. Mereka kerja semua kok,” ungkap Nus ketika ditanya soal aktivitas John Kei di AMKEI itu.

Kelompok John Kei memang memiliki daftar panjang terkait bentrok dengan kelompok lainnya. Selain bentrok dengan kelompok Basri Sangaji, kelompok John Kei juga pernah bentrok dengan Daud Kei yang tak lain bekas pengikutnya pada 2012.

Lalu bentrokan dengan kelompok Thalib Makarim asal Flores di Klub Blowfish, Wisma Mulia dan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tahun 2010. Dalam bentrokan, nama Nus Kei sempat muncul.

John Kei juga sempat dipenjara terkait pembunuhan anak buahnya pada 1992. Tahun 2008, John Kei sempat ditangkap Detasemen Khusus Anti Teror (Densus 88) Polda Maluku terkait penganiayaan warga Tual.

Terakhir, ia ditangkap karena menjadi dalang pembunuhan pengusaha Tan Harry Tantono alias Ayung, Direktur Sanex Stell Mandiri di Swiss-Belhotel, Jakarta tahun 2012. Ia dijebloskan ke dalam penjara selama 16 tahun.

John Kei di penjara di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Salemba, lalu dipindahkan ke Lapas Nusakambangan. Selama John dipenjara itu, John berubah dan bahkan sempat menyatakan menjadi pendakwah. Akhirnya, setelah menerima remisi, John Kei bebas bersyarat pada akhir Desember 2019 lalu.

“Saya pikir di dalam (penjara) dia sudah bertaubat. Saya kaget ketika wawancara dengan Kick Andy itu ‘wah hebat banget ini’,  kita berdoa, ya syukur semoga apa yang sudah ia perbuat di dalam itu ya di luarnya seperti itu. Tapi rupanya itu cuma disampulnya aja, nggak sampai isinya,” ucap Nus Kei.

Nus Kei mengakui pemicu penyerangan kelompok John Kei terkait uang hasil penjualan tanah di Ambon. Kasus jual beli tanah itu sendiri sebenarnya sudah selesai, hanya saja soal pembagian uang belum dibagikan karena pembayaran dari Pemda di Ambon.

Pembayaran itu sendiri menunggu proses persetujuan DPRD di dana. Nus Kei sudah beberapa kali meminta kepada John Kei untuk lebih bersabar, namun justru melakukan penyerangan.

Nus Kei mengaku setelah John Kei bebas ia sering menerima teror dan ancaman. Ancaman itu sendiri bukan langsung dilakukan oleh John Kei. Sejak itu, Nus Kei mengakui putus komunikasi dengan John Kei.

“Saya WhatsApp juga nggak dibales kok, saya telepon juga nggak dijawab. Mungkin dia nggak tahu nomor saya, padahal nomor saya ini kan dari dulu nggak pernah ganti. Saya sudah tulis ‘tolong jawab telepon saya-Nus’, nggak pernah dibales,” ucap Nus Kei.

Terakhir, sebelum penyerangan ke rumahnya itu, Nus Kei juga mengaku sempat menerima teror dan ancaman melalui telepon. Teror juga diterima keluarga lainnya, termasuk dilayangkan ke istri Nus Kei sendiri.

Bahkan, istrinya sudah tak tahan dan minta pindah rumah. Teror terakhir hari Sabtu, 20 Juni 2020, saat ia tengah berada di Plaza Indonesia. Ia sempat menanyakan kepada para penerornya itu dan menyuruh mereka bertemu di tempat itu.

Walau Nus Kei yakin bahwa orang yang menerornya itu suruhan John Kei, ia masih percaya John Kei tak bakal melakukan penyerangan karena masih saudara dekatnya. Ia pun berusaha tak terpancing emosi.

“Makanya saya dari dulu bilang, biar masalah ini kami selesaikan berdua, biar jangan korbankan orang lain, yang tidak tahu masalah. Itu dari awal saya sampaikan ke dia, tetapi dia selalu seperti itu, kekerasan yang selalu dia pakai.”

Nus Kei menyatakan, dirinya tetap akan melindungi keluarganya dan tidak akan melakukan tindakan di luar hukum atas kejadian pada Minggu, 21 Juni lalu. Nus Kei bercita-cita ingin tetap melakukan rekonsiliasi agar semua orang Kei di Jakarta tetap bersatu.

“Saya bilang kami ini keluarga, damai tetap damai, tetapi proses hukumnya tetap berjalan, negara ini berdasar atas hukum. Jadi semua yang dilakukan sudah jadi pidana, pembunuhan berarti kan ada tersangka, jalani saja proses hukum ini.

Tetapi kalau untuk damai itu saya siap, dia adalah keponakan saya, kenapa saya tidak damai? Saya manusia biasa, Tuhan saja mengampuni, bagaimana saya yang hanya manusia biasa. Damai pasti, damai bukan berarti menghentikan penyidikan proses hukum yang berjalan,” pungkas Nus Kei.

Pihak John Kei mengaku akan terbuka atas ajakan berdamai dengan Nus Kei. Mereka juga meminta Nus untuk menunjukan itikad baiknya.

Selama ini, menurut kuasa hukum John Kei, Anton Sudanto, ajakan perdamaian itu baru disampaikan Nus melalui media massa. Anton mengaku hingga saat ini, pihaknya juga belum pernah berkomunikasi dan bertemu dengan Nus.

“Nanti bisa dimediasi melalui penyidik, macam-macam sih teknisnya melalui lawyer dengan lawyer, bisa dengan para pihak terkait. Itu kan tergantung dari Nus Kei yang ingin damai gitu loh. Ya kita welcome-welcome aja, nanti kita lihat pertimbangkan,” kata Anton di Polda Metro Jaya, Senin, 23 Juni 2020.

Sumber: detik.com

No comments

Powered by Blogger.