Usai Berperang Negara ini Terdampak Covid-19, Harga Pangan Melambung Tinggi


D'On, Suriah,- Penduduk Suriah lagi-lagi dilanda kesusahan. Setelah dipukul perang tak berkesudahan dan juga ancaman virus Corona kini warga disusahkan dengan naiknya harga pangan yang tinggi.

Program pangan dunia atau World Food Programme (WFP) mengatakan, harga bahan pangan di Suriah meroket tajam, dua kali lipat dari tahun lalu atau 14 kali dari rata-rata harga sebelum perang dimulai pada 2011.

"Dalam 12 bulan, harga pangan referensi WFP rata-rata meningkat 107 persen di seluruh Suriah," kata badan PBB tersebut.
Juru bicara WFP, Jessica Lawson mengatakan bahwa hal ini adalah 14 kali rata-rata sebelum krisis dimulai dan sekaligus menjadi rekor tertinggi yang pernah tercatat, seperti dikutip dari laman Asharq Al-Awsat.

Menurut PBB, perang yang terjadi sejak 2011 di Suriah telah memporak-porandakan ekonomi negara tersebut dan membuat 80 persen rakyatnya jatuh miskin.

Pekan lalu, jutaan umat Muslim di seluruh Suriah memulai bulan puasa Ramadan, banyak dari mereka yang harus mengungsi dari rumah mereka dan sebagian besar lainnya mengurung diri untuk mencegah meluasnya penyebaran virus Corona.

WFP mengatakan harga pangan meningkat 152 persen di Provinsi Sweida, salah satu provinsi yang berada di bawah kekuasaan pemerintah. Kemudian di wilayah Hama dan Homs, yang juga berada di bawah kekuasaan pemerintah, harga pangan melonjak 133 persen.

Sementara itu di Ibu Kota Damaskus, harga pangan naik sebanyak 124 persen hanya dalam 12 bulan.

Di Damaskus, harga satu kilogram tomat naik dua kali lipat dalam sebulan terakhir, dari 500 menjadi 1.000 pound Suriah atau sekitar Rp30.000. Harga permen juga melonjak tiga kali lipat dalam tiga bulan terakhir.

Penduduk Suriah di wilayah-wilayah yang dikuasai pemerintah Bashar Al Asad pada tahun lalu harus berjuang dengan kenaikan harga pangan, krisis bahan bakar dan jatuhnya mata uang Suriah di pasaran.

Sementara itu, pemerintah Suriah menyalahkan sanksi ekonomi barat yang dijatuhkan kepada Suriah. Tetapi para analis mengatakan kontrol modal di negara tetangga, Lebanon juga berkontribusi dalam menghambat masuknya dolar ke Suriah.

Pada bulan Februari, pihak berwenang di Damaskus meluncurkan kartu pintar yang membuat masyarakat Suriah mendapatkan gula, beras dan teh dalam jumlah tertentu dengan diskon.

Damaskus secara resmi mengumumkan 43 kasus penyakit Corona COVID-19 dan 3 kasus kematian. PBB telah mengumumkan satu kematian di timur laut negara tersebut. Perang yang terjadi di Suriah sejak 2011 telah menewaskan lebih dari 380 ribu orang dan membuat jutaan orang lainnya terpaksa meninggalkan tempat mereka hidup.

Sumber: VIVANews

No comments

Powered by Blogger.