Cara Taiwan Hadapi Virus Covid-19 Sendirian


D'On, Taiwan,- Sebagai negara tetangga dengan China, Taiwan pernah diprediksi akan menjadi episenter kedua wabah virus korona baru. Ada 850.000 dari 23 juta penduduk Taiwan yang wara-wiri keluar masuk China tiap tahun. Yang terjadi justru sebaliknya.

Taiwan pertama kali melaporkan kasus pertama COVID-19 pada 25 Januari, sejak saat itu, jumlah pasien COVID-19 tak penah lebih dari 500 orang. Angka tertinggi untuk kasus positif COVID-19 di Taiwan 'hanya'447 orang pada medio Maret lalu. Hingga detik ini 'cuma' ada lima korban meninggal akibat virus yang sangat menular itu di negara yang punya sistem pemerintahan republik itu.

Bagaimana Taiwan membuat wabah virus ini tetap berada di bawah kontrol sementara negara-negara lain kewalahan menghadapinya?

Taiwan banyak belajar dari wabah SARS yang terjadi pada tahun 2003 silam. Sebagai salah satu negara dengan jumlah kasus positif dan meninggal terbanyak akibat SARS, Taiwan seolah tak ingin mengulang kesalahan yang sama.

Saat itu 181 orang meninggal dan sebanyak 150.000 orang dikarantina di negara yang hingga saat ini masih bersengketa dengan China itu.
  
17 tahun kemudian setelah wabah SARS, Taiwan tak mau bernasib seperti dulu. Lembaga khusus bernama Pusat Komando Kesehatan Nasional Taiwan (National Health Command Center/NHCC) yang dibentuk setelah wabah SARS, langsung bergerak cepat melakukan pencegahan saat awal wabah virus corona. 

Cara Taiwan dalam menangani COVID-19 ini juga dilaporkan dalam jurnal ilmiah Journal of American Medical Association (JAMA). Mereka mengambil langkah antisipasi super ketat sejak Januari 2020. 

Tim kesehatan yang dibentuk dalam lembaga ini sudah terlatih dan berpengalaman untuk mengenali krisis dan mengaktifkan struktr manajemen darurat untuk mengatasi wabah penyakit yang muncul. Taiwan juga didukung oleh sistem perawatan kesehatan kelas dunia yang terkenal.

"Taiwan dengan cepat membuat dan menerapkan sedikitnya 124 tindakan dalam lima minggu terakhir untuk melindungi kesehatan warganya,” ujar Direktur Pusat Kebijakan, Hasil dan Pencegahan Penyakit di Stanford University Jason Wang, seperti dikutip CNN, Kamis (8/4/2020).

Wang menyebut, setidaknya ada tiga sampai empat langkah strategis yang dilakukan oleh pemerintah Taiwan, antara lain kontrol perbatasan dari udara dan laut, mengidentifikasi kasus, karantina ODP, mengelola alokasi sumber daya, briefing pers harian, mengidentifikasi informasi palsu dan merumuskan kebijakan ekonomi.
Tindakan-tindakan tersebut sangat mungkin dilakukan di Taiwan karena adanya integrasi big data dan teknologi di sana. 

"Kebijakan dan tindakan yang mereka lakukan telah melampai apa pun termasuk kontrol perbatasan, karena mereka mengakui hal itu tidak cukup ampuh untuk menekan penyebaran," kata Wang.

Pemerintah gencar kampanye hidup bersih dan mencuci tangan. Selain menjaga kebersihan, pemakaian masker juga menjadi salah satu budaya yang lazim ditemui di Taiwan. Mereka sejak lama tak mengakui argumen WHO bahwa hanya orang yang sakit yang memakai masker. 

Warga di ibu kota Taipei dan kota lainnya biasa memakai masker terutama saat musim pancaroba yang menyebabkan flu. 
Saat keadaan darurat dan permintaan masker terus melonjak, pemerintah kemudian mengambil alih produksi. 

Presiden Tsai Ing Wen selanjutnya mengumumkan bahwa Taiwan dapat menghasilkan hingga 10 juta masker per hari.

“Hal inilah yang membantu Taiwan mengendalikan penyebaran dan meminimalkan kematian,” ucap Wang.

(CNN/era)

No comments

Powered by Blogger.