Boss Media Ini Siap Jadi Pesaing Trump di Pilpres AS 2020


D'On, Amerika,- Baru-baru ini, media ramai memberitakan niatan pendiri Bloomberg L.P., (77) untuk masuk dalam bursa pencalonan presiden Amerika Serikat (AS) pada 2020 mendatang. 

Sebenarnya, kabar mencalonkan diri sebagai pemimpin AS bukanlah hal yang baru bagi miliarder ini (terlebih pada Maret lalu, ia sempat mengumumkan penolakannya untuk mencalonkan diri sebagai presiden).

Agaknya, pencalonan Bloomberg kali ini dianggap serius oleh media, bahkan sempat mendapatkan komentar tajam oleh salah satu kandidat kuat Demokrat, Andrew Yang. Tentu saja, pencalonan Bloomberg ini membuat persaingan kandidat presiden makin seru. Terlebih banyak pihak, termasuk yang menyebutnya sebagai lawan terberat.

Dilansir dari berbagai berbagai sumber,  pada Selasa (12/11) media ini menghimpun 5 fakta menarik pesaing dalam pemilu presiden 2020, 

1. Menjabat wali kota New York selama 12 tahun

Sebelum kerap diberitakan masuk dalam bursa calon presiden, Bloomberg nyatanya sudah mempunyai pengalaman cukup mumpuni dalam bidang politik, yaitu menjadi wali kota New York selama 3 periode atau hampir 12 tahun lamanya (Januari 2002 hingga Desember 2013). 

Selama menjabat sebagai wali kota New York ke-108, Bloomberg pun tidak lepas dari berbagai sensasi serta kontroversi seperti membuat kebijakan yang cenderung 'berlebihan' hingga menolak untuk menerima gaji kota, dan hanya menerima remunerasi atau jumlah kompensasi sebesar USD 1 (Rp14 ribu) per tahun.

Misalnya saja, saat menjabat, Bloomberg kerap mengeluarkan kebijakan-kebijakan uniknya, seperti melarang warganya untuk merokok di berbagai tempat umum seperti restoran, taman umum, pantai, marina, trotoar, dan kawasan pejalan kaki. Hingga melarang penggunaan garam berlebih, makanan kemasan, mengatur jumlah kalori dalam menu, serta membatasai minuman mengandung banyak gula seperti soda di berbagai restoran Kota New York.

Tidak hanya itu, Bloomberg juga sempat mendapatkan sorotan terkait dengan permintaannya kepada badan legislatif untuk memperpanjang masa jabatannya hingga 3 periode dengan dalih bahwa Kota New York masih membutuhkan keterampilan keuangan dan pengalamannya untuk menghadapi iklim ekonomi yang sulit. Selain itu, Bloomberg juga pernah mengundang kontroversi lantaran saat menduduki periode terakhirnya, ia sempat mengeluarkan kebijakan yang kerap disebut dengan istilah 'stop and frisk' di mana pihak berwenang diberikan hak untuk memungkinkan petugas polisi untuk menahan, menanyai, hingga memburu orang-orang yang dicurigai tanpa harus ada tuduhan terlebih dahulu.

2. Didaulat sebagai salah satu orang terkaya di dunia

Sebagai pendiri media massa serta perusahaan data finansial terkemuka dunia, Bloomberg pastinya selalu masuk di salah satu daftar manusia terkaya di dunia setidaknya sejak tahun 2007 oleh majalah bisnis populer AS, Forbes. Pada Maret ini saja, Forbes menempatkan Bloomberg sebagai orang terkaya di dunia ranking 9 dengan jumlah kekayaan pada November 2019 mencapai sekitar USD 52,3 miliar (Rp735,35 triliun).

Dengan jumlah kekayaan fantastis tersebut, tidak heran jika banyak pengamat yang memprediksi bahwa Bloomberg akan mengulang caranya yang dulu untuk mencalonkan diri sebagai presiden AS 2020, yaitu membiayai kampanyenya sendiri. Pasalnya, saat itu, miliarder ini rela merogoh koceknya hingga lebih dari USD 68 juta (Rp 956 miliar lebih) demi kampanye pemilihan wali kota New York.

3. Dikenal super dermawan

Bloomberg ternyata juga dikenal sebagai seorang filantropis yang kerap menyumbangkan banyak donasi untuk keperluan pendidikan, kesehatan, seni dan kebudayaan, inovasi pemerintah, hingga perubahan iklim. Pada tahun 2018 lalu, Bloomberg 'membalas' keputusan Trump menarik diri dari Perjanjian Paris dengan mendirikan program 'American Cities Climate Challege' senilai USD 70 juta (Rp984 miliar lebih) demi membantu kota-kota AS untuk menghadapi perubahan iklim.

Karena berbagai program amalnya, Bloomberg pun sempat dianugerahi gelar bintang Kekaisaran Britania Raya, 'Honorary Knight of the Most Excellent Order of the British Empire' oleh Ratu Elizabeth II terlebih karena gerakan amal dan kontribusinya bagi perekonomian Inggris. Tidak hanya itu, oleh Forbes pun, Bloomberg diganjar skor 5 alias sangat sempurna atau miliarder paling dermawan di dunia.

4. Pernah menjadi petugas parkir, kehilangan pekerjaan, hingga ditolak sekolah perwira

Seperti halnya para miliarder dunia lainnya, Bloomberg pun pernah mengalami masa-masa sulit sebelum akhirnya menjadi pendiri Bloomberg L.P. pada 1980-an. Setidaknya selama masih kuliah, Bloomberg pernah menghadapi kesulitan biaya hingga ia harus bekerja menjadi petugas parkir saat menjalani kuliah strata 1 di Universitas Johns Hopkins, Maryland.

Tidak hanya itu, mantan mahasiswa S2 jurusan bisnis di Universitas Harvard ini ternyata juga pernah ditolak oleh Sekolah Calon Perwira Angkatan Bersenjata AS pada tahun 1966 karena mempunyai kondisi kaki datar. Alhasil, saat itu, Bloomberg pun gagal masuk militer dan menjadi tentara dalam Perang Vietnam. Bahkan, ketika sudah berkarier selama sekitar 25 tahun di salah satu bank investasi legendaris AS, 'Salomon Brothers', Bloomberg akhirnyaa harus kehilangan pekerjaannya lantaran pada tahun 1981, perusahaan tersebut dibeli oleh Phibro Corporation. Namun, karena hal inilah, ia akhirnya berhasil mendirikan perusahaannya raksasanya sendiri, Bloomberg L.P.

5. Didukung sepenuhnya oleh Jeff Bezos hingga diramal bakal mengalahkan Trump dalam pemilu

Berita pencalonan Bloomberg dalam pemilu 2020 ini tampaknya memang membuat heboh lantaran semenjak berita ini berembus, banyak pihak dari berbagai kalangan langsung menunjukkan respons berupa kritik hingga dukungan. Tidak hanya Trump atau Andrew Yang yang memberikan komentar, orang terkaya di dunia sekaligus pemilik Amazon, Jeff Bezos bahkan turut ambil bagian dengan mengatakan bahwa ia sepenuhnya mendukung Bloomberg untuk mencalonkan diri dan menggulingkan Trump pada pemilu AS mendatang.

Tidak berhenti di situ, sesaat setelah menyatakan dukungannya, anggota senat top AS, Bernie Sanders justru menimpali Bezos dan mengatakan kepada publik bahwa Bloomberg tidak bakalan bisa menekuk Trump dan hanya menertawakan pendiri Amazon tersebut dengan menyebut tindakannya hanyalah semacam 'solidaritas orang kaya'. Pun, bahkan sebelum berita pencalonan ini dikonfirmasi sendiri oleh Bloomberg, berbagai media AS seperti Morning Consult atau Politico sudah mulai mengadakan jajak pendapat hingga mengumumkan hasil polling dengan prediksi bahwa Bloomberg setidaknya bakal memperoleh 6 persen suara lebih banyak dari Trump.

Itulah 5 fakta menarik pendiri Bloomberg L.P. yang saat ini tengah gencar diberitakan media lantaran mencalonkan diri sebagai presiden AS pada pemilu 2020 mendatang.[

Dari berbagai sumber

No comments

Powered by Blogger.