Breaking News

Ditampar Pedagang "Rakik Maco"

D'On, Padang (SUMBAR),- Namanya Dani. Usianya mungkin sekira 14-16 Tahun, seumuran dengan anak Kelas 2 SMP.
Awal cerita, saya melihat bocah ini sedang asik menjajakan makanan khas Sumatera Barat “Rakik Maco” bersama dengan 2 orang temannya, yang belakangan ternyata adalah saudara sepupunya.

“Bali Rakik bang”, Ujarnya sambil menyodorkan baskom, berisi sejumlah Rakik.

Saya pun memegang satu bungkus sambil berkata, “Beko bang bayia yo”.

Dia pun hanya menatap harap, seolah percaya saja dan yakin saya tidak akan lari.

Lalu ia kembali menyodorkan dagangannya ke pengunjung lain di Restoran tersebut. Saat itu saya makan di bersama keluarga, di kawasan jalan Patimura Kota Padang.

Seusai makan, saya pun kembali menghampiri Dani.

“Bara ciek diak”, Tanya saya.
“ 15 ribu bang,” Jawabnya.

Hanya berniat iseng saya bertanya, mungkin juga karena naluri jurnalis mulai muncul melihat kegigihan adik-adik ini.

“Sia yang buek ko diak”,Lanjut saya bertanya.
“ Etek bang,” Jawabnya, yang berarti adalah tantenya, atau saudari dari ibu atau ayahnya.
“Owh.. Ibu awak mano,” Saya mulai penasaran dengan pribadi anak ini.
“Ibu wak lah maningga bang,” Ujarnya dengan datar.

Jleb.. Saya mulai merasakan kesamaan antara kami berdua.

“Ayah? Masih ado?”, Saya makin penasaran.
“Masih bang, Tapi sedang merantau,” Jawabnya.
“Jadi Samo sia tingga kini”
“Samo Nenek bang,” Ujarnya.

Yap.. awalnya saya mengira benar ternyata. Anak ini dan saya punya kesamaan. Setidaknya sama-sama sudah ditinggal kedua orang tuanya.

Saya pun melanjutkan percakapan, terutama tentang pendidikannya, yang mana anak seumuran Dani masih usia sekolah, bagaimana ia membagi waktunya.

“Dari jam bara manggaleh? Ndak sekolah?”. Tanya saya lagi.
“Mmmm..,” Dia mulai terdiam.

Lalu mencoba menjawab,
“Wak ndak sekolah lai do bang. Lah baranti sekolah bang.”

Dengan nada tinggi saya kembali bertanya,

“ Baa kok baranti sekolah? Sayang lah wak ndak sekolah. Hiduik buliah susah diak, tapi nan pendidikan wak harus diutamakan, apo lai usia adiak. Lanjut lah sekolah, kini kan sekolah gratis mah, ado program pemerintah untuak anak-anak mode adiak ko mah,” Ujar saya berusaha menjelaskan program pemerintah yang setahu saya itu memang ada untuk anak-anak seperti mereka.

“Wak manyekolahkan adiak wak bang, kalau sekolah lo wak, sia mancarian ntuak adiak wak bang.”

“Sedangkan lai dari pagi wak manggaleh, lai payah juo bang. Ciek lai adiak wak SD baru bang, jadi awak yang manyiapkan nyo sabalum barangkek sekolah bang,” Ujarnya dengan senyuman yang betul-betul menampar saya.

PAAMM..!!
Telak sekali..
Saya betul-betul ditampar..
Anak ini tidak sama dengan saya..
Memang status kami hampir sama..
Tapi dia memiliki beban yang lebih berat, di usianya sekarang..
Saya ditinggalkan kedua orang tua, namun masih dalam kondisi manja dengan sejumlah warisan, dan masih sering meratapi nasib ini..

Tapi dia..
Dani..
Bocah ini..
Penjual “Rakik Maco” ini..

Masha Allah..
Tak terasa air mata ini menetes..
Dan memohon ampun kepada Allah didalam hati saya..
Saya hanya bisa mendokan, semoga ia tetap tegar, selalu diberi kesehatan, mendapatkan rezeki yang berlimpah dari Allah SWT..

Terakhir sebelum pamit, saya mengajaknya untuk selalu mendoakan orang tuanya.. Do’a untuk ibunya agar mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Dan do’a untuk ayahnya, agar selalu dalam lindungan Allah SWT dalam setiap aktivitasnya..

Dan ternyata Ayah dan Ibu Dani, adalah asli orang Pesisir Selatan. Tepatnya di Kenagarian Asam Kumbang, Kecamatan Bayang Utara.

Bagi “Urang Pasisia” yang suka makan atau belanja di Kawasan Patimura Kota Padang, anak ini biasa berjualan di Restoran Bebek Sawah, ataupun Pizza Hut.

Belilah dagangannya agak sebungkus. Karena dari sebungkus itu dia,  mendapatkan upah 2 ribu rupiah yang ia tabung kepada neneknya untuk biaya sekolah sekaligus perlengkapan adeknya.

Terima kasih Ya Rabbi.. Engkau mempertemukan saya dengan motivasi yang sangat menampar saya hari ini. Saya jauh merasa lebih “kecil” dari bocah ini.
Bocah yang punya semangat hidup..
Bocah yang tegar..
Bocah yang mencintai keluarganya..
Bocah yang kuat meski beban berat berada di pundaknya..

Tetap semangat Diak..
Allah bersama orang-orang kuat sepertimu..
Amin Ya Robbal Allamin.. (dl/ikw)