Dunia Tuntut Kejelasan Saudi Atas Tewasnya Khashoggi


D'On, Riyadh (ARAB SAUDI),- Arab Saudi menghadapi seruan marah dari sebagian dunia setelah mengakui, Sabtu (20/10), bahwa jurnalis Jamal Khashoggi telah tewas dalam sebuah interogasi yang kebablasan di gedung Konsulat Saudi di Istanbul, Turki.

Penjelasan musabab kematiannya cukup samar, dan di mana jasadnya juga tidak diutarakan.

Khashoggi meninggalkan negaranya sejak September 2017 untuk menghindari penangkapan karena ia sering mengkritik kebijakan reformasi dari Putra Mahkota Mohammad bin Salman. Ia juga sangat vokal menentang keterlibatan Saudi dalam konflik di Yaman, Suriah, dan Irak.

Lelaki kelahiran 13 Oktober 1958 itu kemudian tinggal di Amerika Serikat, seiring pekerjaannya sebagai kontributor media terkenal Washington Post. Ia memasuki gedung Konsulat di Istanbul untuk mengurus dokumen jelang pernikahannya dengan seorang perempuan Turki pada 2 Oktober. Sejak itu, ia tak pernah keluar.

Otoritas Turki meyakini Khashoggi telah dibunuh atas perintah kerajaan. Polisi mengaku memiliki bukti rekaman video tentang kedatangan tim khusus berjumlah 15 orang dari Saudi, yang meninggalkan Turki pada hari yang sama saat Khashoggi dinyatakan menghilang, plus rekaman audio saat sang jurnalis diinterogasi (disiksa).

Polisi Turki sudah menggeledah gedung Konsulat, kediaman Konsul, dan menyisir hutan di Istanbul yang diduga menjadi tempat pembuangan mayat Khashoggi.

Saudi bersikeras menyangkal telah melenyapkan nyawa sang jurnalis. Bahkan, mereka bilang ia sudah meninggalkan gedung Konsulat di Istanbul dalam keadaan selamat.

Namun, setelah didesak banyak pihak, termasuk Presiden AS Donald Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, akhirnya negara kerajaan itu mengakui Khashoggi "terbunuh setelah melawan ofisial (interogator) di dalam gedung Konsulat".

Namun, penjelasan terkait kronologi kejadian ditambah ketiadaan mayat korban,  la menuai tanggapan skeptis dan nyinyir dari banyak pihak, termasuk para sekutu terdekat Saudi.

Ankara berjanji akan mengungkapkan seluruh detail investigasi yang mereka kerjakan, sementara Presiden Trump mengatakan tidak puas dengan pengakuan Saudi terkait terbunuhnya Khashoggi. Di luar itu, Uni Eropa, Jerman, Prancis, Inggris, Australia, Kanada, dan PBB juga menuntut klarifikasi lebih jelas.

Kontroversi ini telah menyudutkan Saudi-sekutu kunci selama beberapa dekade terakhir bagi upaya negara-negara Barat dan AS untuk membatasi pergerakan Iran dan pengakuan tanpa penjelasan terkait kasus ini membuat Saudi tambah tertekan.

Perkembangan terkini juga kian menodai imej Putra Mahkota Mohammad bin Salman (MBS), sosok kesukaan rezim Trump, dalam upayanya mengubah Saudi sebagai negara modern dan lebih terbuka pada budaya luar.

"Sepertinya ini momen paling seismik di perpolitikan Timur Tengah sejak ‘Arab Spring' pada 2010," kata Michael Stephens, pakar Timur Tengah dari Royal United Services Institute di London, merujuk pada gelombang unjuk rasa yang berujung penggulingan sejumlah pemerintahan di dunia Arab (Timur Tengah dan Afrika Utara) yang otoriter dan korup.

"Sayang sekali Jamal tidak tahu dampak kematiannya terhadap kawasan yang sangat ia pedulikan tersebut."

Ganti Cerita

Inggris menjadi pihak terbaru yang mempertanyakan versi Riyadh tentang kasus Khashoggi.

"Saya kira itu tidak meyakinkan. Ada beberapa pertanyaan serius terkait penjelasan mereka," kata Menteri Urusan Brexit Dominic Raab pada BBC, Minggu (21/10). "Kami mendukung penyelidikan yang dilakukan Turki dan pemerintah Inggris berharap semua pelaku yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini diadili."

Ankara mengatakan mereka memiliki "utang kehormatan" untuk mengungkap kejadian sebenarnya.

"Kami tidak menuduh siapa-siapa, tapi kami tidak terima jika ada yang ditutup-tutupi," kata Juru Bicara Partai Keadilan dan Pembangunan Omer Celik.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan, ada banyak pertanyaan tak terjawab, sedangkan Kanselir Jerman Angela Merkel menyerukan transparansi, sembari menambahkan bahwa "laporan kronologi kejadian di dalam gedung Konsulat tidak memadai".

Diplomat top Uni Eropa Federica Mogherini dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan investigasi sampai tuntas dan semua pelaku harus diadili.

Senator Florida Marco Rubio lebih sinis dalam mengungkapkan pendapatnya.
"Perubahan cerita tentang kronologi kejadian yang menyebabkan tewasnya Khashoggi itu sudah kuno. Yang terakhir sangat janggal, tentang adu tinju yang berujung kematian," katanya lewat Twitter, Sabtu, seraya menyerukan sanksi tegas untuk mereka yang terlibat.

Presiden Trump awalnya bisa menerima penjelasan Saudi, tapi sekarang ia menunjukkan kesan skeptis, meskipun ia tidak mau masalah ini mengganggu kerja sama perdagangan senjata senilai US$ 110 miliar dengan negara kerajaan konservatif itu.

"Tidak, saya tidak puas sampai menemukan jawaban sebenarnya," kata Trump. "Pengakuan itu adalah langkah besar pertama, langkah yang bagus. Namun, saya ingin jawaban sepenuhnya."

Di lain pihak, sekutu Saudi di Teluk, terutama Uni Emirat Arab, menerima dan menyambut baik penjelasan kerajaan. Pun halnya dengan Mesir, Kuwait, dan Oman.

Melindungi Sang Pangeran

Ketika menyampaikan pengakuan resmi, Sabtu, Jaksa Penuntut Umum Saudi Jenderal Sheikh Saud al-Mojeb juga mengumumkan beberapa tindakan terhadap sejumlah terduga pelaku pembunuhan Khashoggi.

Ia menjelaskan 18 orang Saudi ditangkap dan dua pengawal terdekat Pangeran Mohammad telah dipecat, bersama tiga orang lain dari dinas intelijen.

Raja Salman juga memerintahkan pembentukan sebuah badan kementerian di bawah kepemimpinan Putra Mahkota, yang bertugas merestrukturisasi dinas intelijen negara serta mempertegas tugas dan wewenang lembaga itu.

Pemerintah Saudi masih membantah bahwa sang Pangeran terlibat dalam kasus Khashoggi.

Rencana perombakan dalam struktur intelijen, serta pemecatan sejumlah orang yang berada dalam lingkaran terdekat Pangeran MBS dianggap sebagai langkah untuk "menjauhkan sang Putra Mahkota dari pembunuhan", demikian keterangan lembaga analis Eurasia Group. (mond/AFP)

No comments

Powered by Blogger.