Drama All England, Indonesia: BWF Tidak Kompeten!

D'On, London (Inggris),- Duta Besar Indonesia untuk Inggris Raya menyebutkan bahwa Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) tidak kompeten dalam penyelenggaraan kejuaraan All England di Birminghma, Inggris, sehingga terjadi diskriminasi dan perlakuan tidak adil yang dialami tim bulutangkis Indonesia.

Dubes Indonesia di London, Desra Percaya, menyatakan bahwa pihaknya sejak kemarin sudah melakukan komunikasi yang intensif dengan berbagai pihak di Inggris, seperti Dubes Inggris di Jakarta Owen Jenkins, diplomat Kemlu Inggris Sarah Cook, juga anggota Parlemen Inggris Richard Graham.

Tak ketinggalan juga pihak NHS dan juga Poul Erik Hoyer Larsen, Presiden BWF serta Adrian Christy, Presiden Bulutangkis Inggris. “Fakta yang ada Indonesia sudah ditarik dari All England tanpa ada komunikasi yang jelas dan langsung dari BWF dan panitia,” kata desa, dalam konferensi pers daring, Jumat (19/03).

Desra menyatakan ada 3 hal yang dia sampaikan kepada mereka, yakni kasus seorang pemian Turki yang ternyata positif Covid tapi dibiarkan tetap bermain, kemudian PCR ulang terhadap 7 pemain dan official beberapa negara serta perlakuan tidak pantas yang diterima pemain-pemain Indonesia sesudah pemberitahuan bahwa mereka harus diisolasi.

Para diplomat Inggris dan juga anggota parlemen Richard Graham, kata Desra, menyampaikan permintaan maaf bila dirasakan ada perlakuan diskriminatif dan unfair yang diterima tim Indonesia. “Mereka mengatakan tidak ada niat samasekali untuk melakukan diskriminasi dan memastikan akan melakukan klarifikasi atas hal tersebut,” ujar Desra.

Sementara terhadap Poul Erik dan juga Adrian, Desra menuntut agar mereka melakukan klarfikasi langsung kepada tim Indonesia dan juga PBSI. “Saya sampaikan kepada Poul, jelas sekali bahwa Anda (BWF) tidak kompeten, Anda tidak siap melakukan All England di saat pandemi,” ujarnya.

Dari berbagai komunikasi tersebut, Desra menyimpulkan bahwa memang tidak ada kebijakan yang bersifat diskriminatif. “Namun karena kompetensi BWF yang tidak baik, maka dalam pelaksanaannya terjadilan tindak diskriminasi dan perlakuan yang tak adil itu,” katanya.

Desra juga memastikan bahwa seluruh pemain dan official Indonesia akan sesegera mungkin meninggalkan Birmingham menuju Tanah Air. “Mereka mengizinkan (untuk tim Indonesia meninggalkan BIrmingham sebelum karantina selesai), yang penting dari hotel langsung ke airport lalu terbang,” ujarnya.

Namun, tak mau percaya begitu saja, Desra meminta jaminan tertulis bahwa tim Indonesia memang mendapat izin untuk meninggalkan Inggris. “Saya tidak mau keluar dari hotel tim kita dihalang-halangi,” kata Desra.

 

(Gatra)


Powered by Blogger.