Breaking News

Din Syamsuddin: Perjalanan Seorang Politikus yang Dituding Radikal

D'On, Jakarta,- Beberapa hari lalu Gerakan Anti Radikalisme ITB (GAR-ITB) melaporkan Din Syamsuddin kepada Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) karena dianggap telah melanggar disiplin dan etika Aparatur Sipil Negara (ASN). 

Din Syamsuddin adalah pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang merupakan almamaternya. Sebagai ASN, oleh para pelapor, ia dianggap telah melawan pemerintah. Sementara para pembelanya menyangkal tuduhan tersebut. Menkopolhukam Mahfud MD malah menyebut Din Syamsuddin sebagai tokoh yang kritis dan selalu didengar pemerintah dan baginya tak ada persoalan.

Din Syamsuddin sejatinya adalah seorang politikus. Waktu kecil di kampungnya, di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, ia punya reputasi sebagai dai cilik. Meski masih bocah, ia yang tergolong paling cerdas di kampungnya itu, bisa berpidato dengan percaya diri di hadapan khalayak.

Pada Pemilu 1971 yang merupakan pemilu pertama di era Orde Baru, Din Syamsuddin baru berusia 13 tahun. Ayahnya, Syamsuddin Abdullah, adalah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di kampungnya. Saat musim kampanye, Partai NU mengajak Din Syamsuddin untuk menjadi juru kampanye (jurkam). Syamsuddin Abdullah tak bisa menolaknya. 

“Saya tidak tahu bahwa anak-anak tidak boleh ikut politik praktis. Waktu itu juga tidak ada larangan anak di bawah umur mengikuti kampanye bahkan menjadi jurkam,” kata Din Syamsuddin dalam biografinya Din Syamsuddin: Dari Sumbawa untuk Dunia (2017:102) yang disusun Fahmi Sustiwi. Sebagai jurkam, ia diberi tugas untuk membacakan puisi. 

Aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Ayah Din Syamsuddin adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Agama. Ibunya, Rohana Nurdin, putri dari HM Nurdin--penghulu di keraton Kesultanan Sumbawa dan bergelar Lebai Dalam. 

Din Syamsuddin pernah sekolah di madrasah-madrasah milik NU. Menurut Fahmi Sustiwi dalam Din Syamsuddin: Dari Sumbawa untuk Dunia (2017:33), “pendidikan sekolah formal Madrasah Ibtidaiyah NU hanya tempuh dalam 4 tahun saja.” Artinya, bocah cerdas ini melompati dua kelas. Ia kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah yang juga milik NU. Lalu ke Pesantren Modern Gontor Darussalam di Jawa Timur. Dan setelah lulus dari Gontor pada 1975, Din Syamsuddin kuliah di Jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. 

Waktu masih di kampung, Din Syamsuddin pernah menjadi Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) cabang Sumbawa. Maka wajar jika ayahnya mengharapkan ia untuk aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang juga berafiliasi dengan NU. Namun, di Jakarta, ia tinggal bersama pamannya yang aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Setelah berdiskusi dengan pamannya, Din Syamsuddin pun akhirnya bergabung dengan IMM.

Setelah lulus dari IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, ia lalu mengikuti jejak ayahnya menjadi PNS di Departemen Agama dengan menjadi dosen di almamaternya. Selain itu, ia juga mengajar di beberapa kampus milik Muhammadiyah. 

Meski sudah lulus sebagai sarjana, tapi ia masih aktif di IMM dan pernah menjadi Ketua DPP IMM pada 1985. Selain itu, Din Syamsuddin juga pernah menjadi Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (1989–1993). Selain terus berorganisasi, ia juga meneruskan kuliahnya di University of California, Los Angeles (UCLA) di Amerika Serikat hingga meraih Ph.D.

Ketika Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang disponsori Presiden daripada Soeharto lahir, Din Syamsudin ikut bergabung. Ia pernah menjadi Sekretaris Dewan Penasihat ICMI Pusat (1990–1995). Ia juga pernah menjadi kader Golongan Karya (Golkar) dan menjadi Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan DPP Golkar (1993–1998).

Ia kemudian masuk ke pemerintahan dengan menjadi Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja RI (1998–2000). Di MPR, Din Syamsudin pernah menjadi wakil sekretaris Fraksi Karya Pembangunan.

Din Syamsuddin sempat menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari 2014 sampai 2015. Sejak tahun 2000, ia menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Dan pada 2005 ia terpilih sebagai Ketua PP Muhammadiyah, menggantikan Ahmad Syafii Maarif. Din Syamsuddin menjadi Ketua PP Muhammadiyah selama 10 tahun. 

Seperti NU, Muhammadiyah juga organisasi Islam yang penting di Indonesia. Tidak sedikit tokoh dari dua organisasi ini yang terlibat dalam pendirian Republik Indonesia. Sumanto Al Qurtuby dalam Lubang Hitam Agama(2005:28) menyebut Muhammadiyah dan NU dikenal sebagai sayap Islam moderat di Indonesia. 

Meski demikian, dalam buku Muhammadiyah Melawan Radikalisme (2004:133) disebutkan bahwa Din Syamsuddin dianggap tidak cocok memimpin Muhammadiyah, karena retorikanya bukan retorika dakwah tapi politis. Hal itu dianggap tidak kondusif dalam membangun iklim yang sejuk di Muhammadiyah. 

Setelah tak jadi pengurus PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin aktif kembali dalam politik praktis seperti Amien Rais yang juga mantan ketua organisasi tersebut. Ia kerap menjadi bahan pemberitaan politik Indonesia. Dan pada 8 Agustus 2020, ia ikut mendeklarasikan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang berbuntut tudingan radikal terhadap dirinya.

(Tirto)