Heboh beredar seruan aksi penolakan Kapolda gegara non muslim, netizen: Pancasila?

D'On, Jawa Timur,- Baru-baru ini beredar di jagat media sosial sebuah surat yang berisi adanya pemberitahuan aksi sejumlah massa terkait seruan penolakan Kapolda Jawa Timur (Jatim) lantaran berasal dari kalangan non muslim alias buka beragama Islam.

Salah satu warganet penghuni media sosial yang menggunggah adalah akun Instagram @Negativisme.

Melalui unggahan tersebut, ia menulis sebuah caption yang mempertanyakan arti sebenarnya tentang persatuan dan kesatuan yang terdapat pada dasar negara Pancasila.

Padahal para pendiri bangsa Indonesia dengan jelas menyatakan bahwa tanah air kita ini terdiri dari kemajemukan seperti yang tertuang pada dasar negara dan semboyan negara yakni, Bhineka Tunggal Ika.

“Apakah Pancasila hanya mengakui satu agama saja? sampai-sampai sesama warga negara yg punya hak sama, ditolak begini?,” kata akun @Negativisme dalam captionnya.

Terlihat dalam surat pemberitahuan yang diedarkan, terdapat sejumlah keterangan mulai dari nomor surat, perihal, hingga maksud dan tujuan.

Adapun surat ini dikeluarkan oleh Pemuda Madura Peduli Islam pada 18 Desember 2020 silam, di Bangkalan.

Surat pemberitahuan aksi tersebut disampaikan langsung kepada Kapolda Jawa Timur yang menjelaskan bahwa menurut pihaknya, warga Jawa Timur mayoritas berpenduduk Agama Islam, khususnya di Madura yang hampir secara keseluruhan adalah muslim.

“Warga Jawa Timur merupakan penduduk yang mayoritas Agama Islam khususnya warga Madura yang hampir 100% merupakan agama Islam maka dari itu kami dari Pemuda Madura Peduli Islam akan melakukan aksi demonstrasi di depan Polda Jawa Timur,” ujar pihak Pemuda Madura Peduli Islam dalam surat tersebut.

Oleh sebab itu, organisasi massa itu akan menyerukan aksi demonstrasi di depan Polda Jawa Timur pada Selasa, 22 Desember 2020.

Tuntutan aksi yang akan digelorakan yakni, “Menolak Irjen Nico Afinta sebagai Kapolda Jawa Timur karena Non Muslim”.

Selain itu, nantinya di titik aksi akan dihadiri sekitar 150 orang perwakilan dari empat kabupaten di Madura.

Sontak postingan yang diunggah akun Instagram @negativisme dibanjiri berbagai komentar dari warganet yang geram dengan adanya surat tersebut. Banyak di antara mereka yang menyayangkan aksi itu lantaran Indonesia sendiri memiliki pedoman yang sangat toleransi.

“Hadeh kok gak jelas gitu yak alasannya. Emang sih, dalam Islam memang harus memilih pemimpin yang seumat. Tapi ya bukan berarti menolak pemimpin yang gak seumat,” balas akun @kng******.

“Kenapa sih smpai segitunya? Kalian takut ya? Segitu tipisnya kah iman kalian sampai kalau ada apa-apa yang menjabat non muslim sampai ketakutan gitu? Tenang saja, non muslim di ajarkan cinta kasih di agamanya. Enggak akan jahat,” ujar akun @brigit*****.

“Rasis banget, tinggal di Indonesia padahal,” kata akun @raissam*****.

“Gue menyetujui muslim tidak dipimpin non muslim. Tapi sayangnya ini negara hukum berasaskan pancasila yang perlu menjunjung tinggi perbedaan. Jangan bersikap arogan karena mayoritas, karena ketika dibalik menjadi minoritas dan diperlakukan tidak menyenangkan, pasti kita mengutuk. Bergama boleh tapi jangan mabok. Keblinger sendiri,” tutur akun @areza******.

“Lihat saja nanti, kalau setelah ada aksi demo tentang keberatan kemudian kapolda nya di ganti berarti alangkah lucu nya negeri ini. dan apakah negara ini benar benar berasas kan pancasila atau tidak, apakah benar masyarakat sangat santun hidup rukun murah senyum seperti apa yang di bilang turis turis yang datang ke negeri ini apa tidak,” imbuh akun @roberto*******.


(Hops)

No comments

Powered by Blogger.