Usai Serang AS dan Eropa, Kini Covid-19 Bergeser ke Wilayah Asia Selatan


D'On, Asia Selatan,- Kasus pandemik COVID-19 di wilayah Asia Selatan makin meningkat cepat. Sempat terhindar dari pandemik tersebut, kini sistem perawatan kesehatan di India, Pakistan, dan Afghanistan tengah berjuang merawat ratusan ribu pasien sakit.

Dilansir dari laman Council on Foreign Relations, kasus di Asia Selatan diketahui meningkat di bulan Juni. Kendati begitu, sebagian besar negara Asia Selatan memilih tetap membuka kembali perekonomian mereka. Berapa kenaikan angka kasus COVID-19 di kawasan Asia Selatan kini?

1. India jadi negara keempat tertinggi di dunia yang memiliki kasus positif COVID-19

Laman World O Meter per (20/6) mencatat India menduduki peringkat keempat di dunia yang memiliki kasus terbanyak COVID-19 dengan kasus mencapai 400.566. Total kasus baru mencapai 4.754. 

India memiliki catatan kematian akibat COVID-19 dengan total 13.030 kasus dengan 60 kasus kematian baru. Sedangkan kasus sembuh di negara ini hanya mencapai 216.676 kasus.

India menjadi satu-satunya negara di Benua Asia yang tercatat sebagai lima besar negara dengan catatan kasus COVID-19 terbanyak di dunia.

2. Kasus COVID-19 di Pakistan terus bertambah

Council on Foreign Relations mencatat kasus positif COVID-19 di Pakistan meningkat hampir dua kali lipat sejak awal Juni dan menembus angka lebih dari 160.000 kasus. 

Semula, Pemerintah Pakistan menerapkan lockdown secara nasional untuk mencegah terjadi penularan COVID-19 selama masa libur Idulfitri. Namun, justru terjadi pelanggaran prosedur yang berujung pada peningkatan kasus COVID-19. 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengkritik kebijakan Pemerintah Pakistan yang terburu-buru dalam membuka perekonomian mereka. Akibatnya, Pakistan masuk menjadi satu dari 10 negara di dunia yang memiliki kenaikan kasus baru COVID-19 paling banyak. 

Pemerintah Pakistan tidak berdiam diri. Mereka menerapkan strategi pengujian, pelacakan dan karantina ketimbang membuka pembatasan pergerakan. Selain itu, mereka juga memberlakukan pembatasan pergerakan di 20 hot spot kasus COVID-19 di negara itu. 

Pemerintah beralasan mulai membuka perekonomian karena warga dilanda dilema besar yakni membiarkan warganya mati kelaparan dalam kondisilockdown atau membiarkan virus tetap berkeliaran. 

3. Rumah sakit mulai kewalahan tangani pasien COVID-19

Situasi pandemik COVID-19 di kawasan Asia Selatan terlihat semakin memburuk. Padahal, pemimpin di kawasan itu semula sudah optimistis mereka bisa menghindar menjadi titik episentrum virus Sars-CoV-2 itu. 

Harian Thailand, Bangkok Post edisi (18/6) melaporkan lebih dari seperempat penduduk di seluruh dunia berada di kawasan Asia Selatan. Tetapi, sistem medis dan badan kesehatan yang tak memiliki anggaran besar di kawasan tersebut benar-benar tertekan. 
Gambaran itu mulai terlihat dari antrean warga ke rumah sakit-rumah sakit di kawasan Kabul hingga Dhaka yang ingin dirawat karena COVID-19. Namun, karena rumah sakit kewalahan, mereka terpaksa menolak pasien. 

Kamar jenazah juga sudah tak lagi sanggup menampung pasien yang meninggal. Situasi serupa juga terlihat di tempat pemakaman atau kremasi jenazah. Sementara, di sisi lain, keluarga berusaha mencari pertolongan bagi anggota keluarga mereka yang jatuh sakit. 

"Situasi ini benar-benar bagaikan bencana. Pasien yang sekarat di dalam mobil ambulans mencari rumah sakit untuk kamar perawatan intensif atau pendaftaran rumah sakit," ungkap seorang dokter senior di RS Umum Chittagong, Abdur Rob. 


(mond/IDN)

No comments

Powered by Blogger.